Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kontroversi Trump

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
03/6/2017 05:31
Kontroversi Trump
(AP Photo/Andrew Harnik)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat keputusan kontroversial. Demi kepentingan ekonomi AS, Trump memutuskan negaranya keluar dari Kesepakatan Paris yang bertujuan mengurangi efek rumah kaca. Berbeda dengan keputusan keluar dari kesepakatan internasional yang seharusnya berlaku empat tahun mendatang, Trump menegaskan keputusannya berlaku mulai hari ini juga. Keputusan terbaru Trump mendapatkan respons negatif dari para pemimpin dunia. Bahkan Paus Fransiskus menyayangkan keputusan yang akan berpengaruh besar kepada kehidupan umat manusia di muka Bumi.

Perkiraan para ilmuwan, keputusan Trump itu akan membuat jumlah karbon dioksida bertambah 3 miliar ton per tahun. Penambahan CO2 dalam jumlah besar itu akan mempercepat melelehnya lapisan es di Kutub. Tidak semua anggota kabinet Trump sebenarnya setuju dengan langkah presiden AS itu. Menteri Luar Negeri Rex Tillerson yang terakhir menjabat CEO of Exxon meminta Trump agar AS tetap berada dalam Kesepakatan Paris. Hal yang sama disampaikan Menteri Pertahanan James Mattis yang mengatakan keputusan AS itu akan menyulitkan dirinya ketika bertemu dengan menhan negara-negara lain.

Namun, Trump berpendapat, keputusan ini merupakan bagian dari janji politik saat kampanye presiden lalu. Ia berjanji mendahulukan kepentingan AS. "Saya harus lebih peduli pada masyarakat di Pittsburg daripada di Paris," kata Trump. Ia berpendapat keikusertaan AS dalam Kesepakatan Paris justru merugikan rakyatnya. Kampanye untuk menggunakan energi baru dan terbarukan membuat industri di AS harus gulung tikar dan akibatnya 2,7 juta orang harus kehilangan pekerjaan. Trump menegaskan dirinya menginginkan industri semen, besi, baja, gas alam, dan batu bara bisa hidup kembali. Ia menyebutkan dirinya mencintai para penambang batu bara.

Presiden AS menambahkan ia hanya akan ikut kesepakatan internasional soal pemanasan global kalau ada negosiasi ulang yang bisa menguntungkan AS. Kalau tidak, AS akan jalan sendiri dengan apa yang menjadi keyakinannya. Cara pandang Trump dianggap banyak pihak sama sekali tidak berdasar. Investasi energi terbarukan di AS pada 2015 sudah mencapai US$350 miliar dan itu sudah melampaui investasi untuk energi fosil. Data Kementerian Energi AS juga menunjukkan 64% pasokan listrik di negara itu berasal dari energi terbarukan.

Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebutkan, apabila seluruh negara di dunia peduli pada pengurangan emisi gas buang, pertumbuhan ekonomi dunia 2021 akan meningkat 3%. Bahkan pada 2050, pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan yang peduli pada lingkungan akan bisa meningkat 5%. Tidak mengherankan bila tokoh seperti Jeffrey Sachs menulis negerinya sedang menghadapi 'broken democracy'.


Kebijakan yang ditempuh Trump merupakan hasil tekanan kelompok industriawan yang selama ini merusak lingkungan. Orientasi mereka bukan bagaimana menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik, melainkan sekadar mengejar uang. Sistem politik di AS, menurut Sachs, sudah koruptif sehingga yang dipikirkan hanya bagaimana mengurangi pajak bagi orang kaya, melakukan deregulasi untuk korporasi yang mengotori lingkungan, serta menciptakan peperangan dan pemanasan global bagi negara lain.

Lihat saja kunjungan Trump pertama ke luar negeri yang lebih mementingkan untuk menjual senjata US$110 miliar daripada membangun kesepakatan dengan negara G-7 demi menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Kita tentunya harus mengantisipasi kondisi cuaca yang lebih buruk di masa-masa mendatang. Sekarang ini tanpa terasa kita sudah dihadapkan kepada kondisi yang lebih ekstrem.

Pada saat panas, temperatur udara bisa begitu tinggi, tetapi kemudian bisa turun begitu drastis. Akibatnya di beberapa tempat kita melihat terjadinya hujan es. Tahun lalu boleh dikatakan kita tidak pernah mengalami musim kemarau. Bahkan sekarang pun kita belum memasuki musim kering. Yang harus diantisipasi ialah ketika kelak terjadi El Nino karena musim kemarau akan sangat panjang.

Hal yang paling penting menjadi perhatian ialah pertanian dan kesehatan. Kita harus lebih cerdas dan mengembangkan teknologi yang lebih adaptif terhadap iklim yang ekstrem tadi. Dengan cuaca seperti itu, orang akan mudah sakit dan produksi pertanian sulit diprediksi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.