Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPANYA kita belum bisa beranjak dari Bung Karno. Ia memang menjadi tempat kita 'kembali' setiap kita menghadapi jalan terjal dan berkelok tentang kebangsaan ini, yakni ketika agama dan negara dipersoalkan kembali oleh mereka yang merasa tak nyaman dengan negara kebangsaan ini. Padahal, Pancasila merupakan konsensus nasional penuh berkah, kompromi karena kearifan kelas tinggi antara ulama dan kaum nasionalis, untuk meneguhkan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, di dalam suasana Hari Pancasila, bagi kita yang berjarak dari kehidupan 'Bung Besar' ini, membaca pikiran-pikirannya menjadi penting agar tahu ihwal keislaman sang proklamator itu. Perlu dibaca lagi tulisan-tulisannya yang terangkum dalam buku Bung Karno dan Wacana Islam (2001) yang memperlihatkan betapa luas dan dalam wawasan Bung Karno soal Islam.
Islam yang menurutnya sebagai agama yang amat menjunjung kesetaraan, agama ilmu yang rasional, dan amat toleran. Dalam hampir semua yang kita alami sekarang, Bung Karno telah membicangkannya sejak hampir satu abad lalu ketika ia masih amat muda. Pencarian akan api Islam seperti tak pernah kunjung padam. Surat-suratnya yang ia tulis untuk TA Hassan, Guru Persatuan Islam Bandung, ketika ia dalam masa pembuangan di Ende, Flores, NTT, ialah wacana pemikiran Islam yang menarik.
Dalam surat tertanggal 1 Desember 1934, ia minta dikirimi enam buku, yakni Pengajaran Salat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debet Talqiem, Al-Burhan Complet, dan Al-Jawahir. Selain itu, ia meminta sebuah risalah yang membicarakan soal kaum sayid, yang ia anggap semacam pengeramatan manusia yang mendekati kemusyrikan. Menurut Bung Karno, tersesatlah orang yang mengira Islam mengenal 'aristokrasi Islam'.
'Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan', tulisnya. Bung Karno menceritakan ada sayid yang sedikit terpelajar, tetapi dalam berdiskusi tak berani sama sekali keluar dari soal fikih.
Mati hidup dengan kitab fikih itu, dos-kolot, dependent, unfree, dan taklid. Inilah yang membunuh 'roh' dan 'semangat' Islam. "Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat." Dalam surat berikutnya, 25 Januari 1935, ia mengabarkan semua buku yang dikirim TA Hassan telah selesai dibaca dan ingin membaca hadis Buchari dan Muslim yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris karena waktu itu masih terselip hadis-hadis lemah.
Hadis-hadis seperti inilah yang lebih 'laku' dari ayat-ayat Alquran. Padahal, hadis-hadis seperti inilah yang menyebabkan kemunduran Islam, kekunoan Islam, ketakhayulan Islam, dan antirasionalisme. Padahal, kata Bung Karno, tak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam. Bung Karno juga sangat prihatin dengan perilaku taklid yang umum ia jumpai.
"Taklid adalah salah satu sebab yang teramat besar dari kemunduran Islam masa itu. Semenjak ada aturan taklid, di situlah kemunduran Islam tepat sekali. Tak heran! Di mana genius dirantai, di mana akal pikiran diterungku, di situlah datang kematian." Dalam suratnya tertanggal 22 Februari 1936, Bung Karno menceritakan seorang muda yang bertanya kenapa kemegahan Islam yang dulu tidak terjadi? Bung Karno menjawab, Islam harus berani mengejar zaman sebab Islam tidak tertinggal seratus tahun, tetapi seribu tahun.
Bukan kembali kepada Islam glory yang dulu, bukan kembali kepada zaman khalifah melainkan lari ke muka, lari mengejar zaman, itulah satu-satunya jalan buat Islam menjadi gilang-gemilang kembali. Dunia yang penuh tantangan itu, kata Bung Karno, tak mungkin harus kembali pada tahun 700, 800, atau 900. "Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam masjid memutar tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan.
Islam is progress: Islam itu kemajuan." Bung Karno ingin sekali ada penganjur-penganjur Islam yang mengerti falsafahnya historic degrees (tingkatan-tingkatan sejarah) yang tak semata larut dalam 'semangat kurma' dan 'semangat sorban'. Fenomena yang memprihatinkan ialah melihat kenyataan betapa Islam masa itu amat mudah mengafirkan-ngafirkan sesuatu yang baru dan 'berbeda'.
Menurut Bung Karno, Islam royal sekali dengan perkataan kafir. Pengetahuan barat kafir, radio kafir, listrik kafir, makan dengan sendok kafir, kedokteran, pantalon, dasi, topi kafir. Seolah yang paling islami ialah mereka yang berjubah, bercelak mata, dan tangannya selalu memegang tasbih? "Astagfirullah. Inikah Islam? Inikah agama Allah yang mengafirkan pengetahuan dan kecerdasan...?"
Kondisi hari ini rupanya belum beranjak jauh. Padahal, hampir satu abad Bung Karno bicara kehidupan Islam. Kini seperti muncul kembali. Padahal, menurutnya, semangat Islam berkemajuan, api Islam yang menyala-nyala, yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang modern, itulah yang mampu mengatasi ketertinggalan. Semangat itu pula yang ia pompakan pada umat Islam, pada Pancasila yang ia gali juga di Ende.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved