Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Fatalisme

27/5/2017 05:31
Fatalisme
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

BARU saja optimisme tebersit setelah peningkatan peringkat layak investasi diberikan Standard & Poor's kepada kita. Harapan bagi segera mengalirnya investasi ke Indonesia diganggu lagi oleh aksi teror di Kampung Melayu, Rabu (24/5) lalu. Diduga, sang pelaku menjadi korban tewas bersama tiga anggota kepolisian yang sedang berada di halte bus Trans-Jakarta.

Kita mengecam keras tindakan teror tersebut karena menyebabkan banyak orang menderita. Istri tiba-tiba harus kehilangan suami, demikian pula dengan anak-anak yang harus kehilangan ayahnya. Inilah yang membuat aksi terorisme itu kita sebut sebagai kejahatan kemanusiaan. Yang membuat kita sering kali bertanya-tanya ialah mengapa muncul fatalisme seperti ini?

Kita paham banyak persoalan yang mengimpit kehidupan kita. Tidak ada seorang pun yang lepas dari persoalan hidup. Namun, mengapa pilihannya kemudian adalah sikap putus asa? Persoalan kemiskinan yang harus dihadapi sebagian bangsa ini hanya bisa dipecahkan melalui pembukaan lapangan kerja. Agar lapangan kerja bisa tersedia, dunia usaha harus dibuat merasa nyaman menanamkan modalnya.

Kita tidak sedang hidup di era etatisme seperti dulu. Sekarang ini kontribusi anggaran negara terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi hanya tinggal sekitar 16%. Kondisi seperti ini bukan hanya dialami Indonesia. Seluruh dunia menyadari bahwa yang bisa membuka lapangan kerja dalam jumlah besar bukan lagi negara atau organisasi internasional, melainkan perusahaan baik itu swasta maupun badan usaha milik rakyat.

Agar dunia usaha bergairah untuk menanamkan modal, mereka memerlukan ketenangan dan keamanan. Sikap-sikap fatalis seperti yang dilakukan pelaku teror tidak hanya membuat investasi menjadi lebih lambat, tetapi akhirnya juga membuat kelompok fatalisme makin terperosok ke dalam kondisi frustrasi. Sekarang yang harus kita bangun ialah sikap optimisme bahwa banyak jalan bisa kita tempuh untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Untuk itu, semua komponen bangsa harus mau memberikan kontribusi bagi terciptanya kondisi yang penuh harapan itu. Termasuk media massa jangan terjebak dalam sikap saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Kita jangan membiarkan berkembangnya spekulasi yang hanya melahirkan sikap saling curiga. Mari kita beri kesempatan kepada polisi untuk bisa mengungkap siapa pelaku teror, apa motifnya, dan seperti apa jaringannya.

Dengan itu, kita berharap polisi bisa melakukan tindakan yang tegas. Kita pantas belajar dengan apa yang dilakukan masyarakat Inggris dalam menghadapi serangan teror di Manchester Arena. Mereka bangkit bersama untuk menggalang solidaritas dan melanjutkan kehidupan ini. Jangan seperti orang Amerika yang lebih mengejar sensasi dan akhirnya membuat harapan untuk menuntaskan akar terorisme menjadi berantakan.

Tentu kita ingin cepat membongkar pelaku teror, apalagi kalau ada jaringannya. Akan tetapi, risiko dari sistem demokrasi, penegakan hukum tidak bisa dilakukan sewenang-wenang. Kita tidak mungkin menegakkan hukum sambil melanggar hukum. Semua harus dilakukan secara berhati-hati dan melalui proses hukum yang benar. Sama dengan perlunya kesabaran untuk memperbaiki kondisi ekonomi.

Tidak mungkin kita memperbaiki kesejahteraan rakyat seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses dan menuntut kerja keras dari semua pihak. Kesempatan untuk mempercepat perbaikan ekonomi ada di depan mata. Peningkatan peringkat layak investasi yang akhir pekan lalu kita dapatkan akan membuat cost of fund menjadi lebih murah. Kemarin saja bunga obligasi pemerintah sudah turun sekitar 0,2%.

Kita percaya semua pihak sedang bersiap-siap untuk menyambut datangnya arus investasi itu. Kalau kita bisa membuat peraturan perizinan yang mudah seperti yang dijanjikan, hukum kita bisa memberikan kepastian, aparat pajak tidak mengintimidasi, dan lembaga swadaya masyarakat tidak mencari-cari kesalahan, ekonomi Indonesia akan bisa melesat tinggi.

Semua itu bisa menjadi porak-poranda kalau ada satu di antara kita bersikap fatalis. Keputusasaan yang diekspresikan dengan cara destruktif seperti aksi teror membuat investasi yang akan masuk itu bisa batal. Negara-negara tetangga kita tersenyum melihat sikap fatalis karena investasi itu bisa beralih ke negara mereka. Mari kita hentikan sikap untuk mendestruksi diri sendiri, sikap untuk menganiaya diri sendiri. Tuhan tidak suka kepada orang yang mudah putus asa karena Tuhan tidak pernah akan membebani manusia dengan beban yang tidak sanggup mereka pikul.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.