Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kukuhnya Surau Kami

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
26/5/2017 05:31
Kukuhnya Surau Kami
(ADAM DWI PUTRA)

CERITA pendek karya Ali Akbar Navis, Robohnya Surau Kami, rasanya boleh juga kita baca kembali. Karya sastra yang pertama kali terbit pada 1956 mengisahkan Haji Saleh dan kawan-kawan dari Indonesia, orang-orang yang teramat rajin ibadah, tetapi justru Tuhan memasukkan mereka ke dalam neraka. Tentu Haji Saleh yang merasa ibadahnya tak terhingga, dan merasa sangat yakin masuk surga, menjadi teramat kecewa.

"Alangkah tercengang Haji Saleh karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Haji Saleh mendekati mereka dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun tak mengerti juga."

Dipimpin Haji Saleh mereka pun menghadap Tuhan, menanyakan kenapa ikhwal ketidakadilan itu. Tuhan menjawab, "....kenapa engkau biarkan dirimu melarat hingga anak cucumu teraniaya semua. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kaunegeri yang kaya raya, tapi kaumalas. Kaulebih suka beribadat saja karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang, sedangkan aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin.

Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" Dongeng Haji Saleh masuk neraka diceritakan tokoh Ajo Sidi kepada tokoh Kakek. Ia seorang garin, sang penjaga surau, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah. Bahkan, ia ikhlas meninggalkan keluarga semata-mata supaya fokus beribadah lima waktu, memukul beduk mengingatkan umat bersalat, membaca kitab-Nya, tak mencari kekayaan, dan hanya mencari rida-Nya.

Merasa tersindir oleh Ajo Sidi dengan cerita tentang Haji Saleh, sang Kakek pun kemudian bunuh diri. Maka, surau tua itu pun tak terurus lagi. Ia mulai roboh. Saya tak hendak membenarkan cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh dan kawan-kawannya itu. Namun, sindiran kepada mereka yang rajin beribadah, berhaji puluhan kali, karena itu merasa paling saleh, padahal abai pada lingkungan sekitar, bahkan bertengkar di antara kita, rasanya ini wajah kita yang tak terlalu jauh juga.

Bukankah belakangan ini energi kita seperti habis untuk saling memaki dan lupa membangun negeri? Selama bulan suci Ramadan, jutaan masjid dan surau pasti akan kian ramai di negeri ini. Seperti kita tahu sedikitnya ada tiga fungsi masjid yang sering dibincangkan oleh para pendakwah. Pertama, fungsi zikir. Masjid berarti tempat bersujud. Dengan zikir hati pun bersih dari segala amarah dan kebencaian.

Zikir dengan segala kepasrahan kepada Sang Khalik juga mampu meneguhkan kebenaran dan keadilan. Kedua, fungsi pikir. Islam ialah agama untuk orang yang berpikir; dan masjid menjadi tempat yang tepat untuk mengasah akal dan pikiran umat. Bukankah sesungguhnya salah mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar? Karena itu masjid seharusnya berfungsi sebagai tempat pembinaan, pemberian nasihat, dan pengajaran kepada umat Islam, baik yang berbasis ilmu agama maupun ilmu umum.

Dengan ilmu pengetahuan, Islam akan selalu aktual. Ketiga, fungsi sosial. Di zaman Rasulullah, selain untuk salat, masjid bahkan sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, kegiatan sosial, dan ekonomi. Sindirian dalam cerpen Robohnya Surau Kami tentang mereka yang rajin menyembah Allah, tetapi abai pada kemiskinan. Karena itu, dituntut untuk merespons aneka persoalan sosial yang nyata, misalnya kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan.

Seharusnya masjid mampu merekatkan ukhuwah islamiyah (kerukunan umat Islam) dan ukhuwah wathaniah (kerukunan sesama satu bangsa). Masjid jelas bukan tempat untuk caci maki. Indonesia ialah negeri dengan jumlah masjid terbanyak di dunia. Bahkan ada yang menjuluki Negeri Sejuta Masjid. Jumlah yang tercatat resmi memang 800.000 unit, tetapi dengan musala dan langggar dan berbagai perkantoran, pastilah lebih dari satu juta.

Inilah negeri dengan berbagai penyambutan bulan Ramadan paling meriah, paling warna-warni. Kearifan lokal yang kaya ikut pula menjadikan Ramadan jadi bergema. Namun, ibadah yang tercerabut dari berbagai persoalan sosial, abai pada psersoalan bangsanya, rasanya tak salah cerita Ajo Sidi dalam Robohnya Surau Kami tentang Haji Saleh itu. Puasa Ramadan agaknya waktu yang tepat menghidupkan kembali fungsi masjid untuk mengumandangkan pesan-pesan perdamaian dan kebersamaan. Akhirnya, tak ada tak ada lagi Robohnya Surau Kami, melainkan Kukuhnya Surau Kami. Marhaban ya Ramadan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.