Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ASA Firda Inayah adalah oasis dalam belantara media sosial kita yang mencemaskan. Media sosial yang belakangan kerap menampakkan wajah bengis dan sadis. Saling merundung, memaki, sumpah serapah, bahkan fitnah.
Bagi mereka yang tak tahan atau sayang memboroskan energi, untuk sementara memilih menjauh. Namun, Asa Firda yang kini populer dengan nama pena Afi Nihaya Faradisa tetap teguh di situ, justru untuk menjernihkan.
Siswa SMA yang baru menamatkan pendidikan di SMA 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur, ini ingin media sosial kembali pada tujuannya semula; mendekatkan yang saling menjauh. Merekatkan hubungan yang meregang. Ia ingin tulisannya di media sosial bisa menginspirasi.
Tulisan dia berjudul Warisan yang dimuat di laman Facebook miliknya pada 15 Mei silam telah menjadi perbincangan ramai. Begini ia memulai tulisannya, “Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan
bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Karena itu, masing-masing mesti saling menghormati ‘kebenaran’ lain.”
Dalam sepekan saja tulisan itu telah di-share 28 ribu kali. Tulisan yang merupakan sebuah respons atas merapuhnya nilai-nilai pluralitas dan keberagaman kita akhir-akhir ini. Ia ingin membawa pesan perdamaian bagi NKRI yang menurut pandangannya kini tengah diguncang isu SARA.
Dalam wawancara dengan sebuah televisi, ia bilang ingin menunjukkan bahwa anak SMA juga bisa memberikan kontribusi bagi bangsanya. Ketika baru membaca tulisan Asa, saya setengah tak percaya. Saya berupaya mencari bukti untuk meyakinkan bahwa Warisan bukan milik orang lain.
Saya simak beberapa status di Facebook-nya dan beberapa rekaman perbicangan dengan pers. Terlebih ketika ia menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangkitan Nasional di Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, makin yakinlah saya, Asa memang cermerlang.
Di depan para akademisi ia mengatakan ia bukan siapa-siapa, tapi ia prihatin Indonesia berdasarkan Pancasila ini sangat mudah dipicu isu SARA agar tercerai-berai. Ia sengaja menggunakan nama samaran karena tidak mengharap keuntungan dari melambungnya nama gadis kelahiran 23 Juli 1998 yang tinggal di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, 40 km dari Banyuwangi ini.
Ayahnya, Imam Wahyudi, penjual cilok keliling, dan ibunya, Sumarti, sejak setahun lalu kehilangan penglihatan secara total. Imam pernah menyita untuk beberapa hari telepon seluler Asa. Ia khawatir putrinya menjadi korban media sosial.
Kini, justru karena ‘bermain’ telepon seluler itulah Asa jadi populer. Ternyata apa yang ditulis sesuatu yang amat penting bagi bangsa ini yang berada di tubir perpecahan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas cepat merespons. Ia mengundang Asa makan pagi di kantornya. Ia bangga ada anak desa dari keluarga bersahaja punya pikiran
jauh ke depan.
Untuk menggambarkan betapa kebenaran punya banyak versi, Asa mengutip penyair sufi kelahiran Afghanistan, Jalaluddin Rumi. “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
Banyak yang memuji Asa, tapi tak sedikit pula yang memaki. Bahkan, ada yang mengancam membunuhnya. Gadis desa ini mengatakan tak jeri. Ia seperti Malala Yousafzai dari Pakistan yang berani melawan Taliban. Kita beruntung punya Asa. Kritis dan punya kepedulian tinggi kepada negerinya. Gadis berhijab ini paham di mana posisi agama dalam negara. Kita wajib menjaganya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved