Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Guru Cabul

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
15/5/2017 05:00
Guru Cabul
(MI/Abdus Syukur)

JUDUL itu tidak bermaksud mendiskreditkan guru.

Judul itu lebih merupakan ekspresi kekhawatiran bahwa kita sepertinya lengah perihal hadirnya guru cabul.

Guru cabul itu ada di sekolah rumah (homeschooling), dosen di suatu perguruan tinggi yang tergolong pusat kecerdasan (center of excellence), bahkan yang sangat memprihatinkan, guru ngaji.

Selintas, yang dicabuli agaknya anak yang berumur 6-16 tahun.

Pencabulan kiranya ditengarai dilakukan guru yang mengidap disorientasi seksual (mencabuli sesama jenis kelamin) atau pedofilia (mencabuli anak-anak).

Mencabuli sesama jenis kelamin, misalnya, dilakukan seorang dosen.

Bukan sembarang dosen, tapi dosen di universitas tersohor di Surabaya, dengan kinerja akademik yang baik.

Sang dosen telah berkarier 20 tahun lebih, berkedudukan di jabatan struktural selaku wakil dekan III fakultas kedokteran gigi.

Ia mencabuli anak berumur 16 tahun. Bukan di kampus, percabulan dilakukannya di tempat sauna.

Karena yang dicabuli sesama lelaki, sang dosen dinilai mengidap disorientasi seksual.

Bukan pedofilia sebagaimana sempat diberitakan.

Apa pun nama penyimpangannya, di mana pun dilakukannya, ia tetaplah dosen cabul.

Yang perlu 'diperiksa' lebih jauh ialah apa yang dilakukannya pada anak didiknya, gadis 13 tahun, di sekolah rumah.

Perbuatan cabul itu direkam dalam video yang tersimpan dalam Whatsapp.

Sang guru membahasakannya, "Dilakukan tanpa paksaan. Direkam juga tanpa paksaan, lalu direkam sebagai koleksi."

Perbuatan cabul itu dilakukan di perumahan di kawasan Tangerang Selatan, di saat rumah kosong.

Anak didik ditengarai diperdayai dengan diiming-imingi permen. Apakah sang guru pedofilia? Entahlah.

Polsek Ciputat sedang menangani kasus itu. Kita tidak tahu apa 'isi' permen itu.

Apakah permen beneran, narkoba, ataukah zat perangsang.

Akan tetapi, apa pun isinya, merekam dan mengoleksi perbuatan cabul orang lain jelas bukan kelakuan guru, apalagi merekam dan mengoleksi perbuatan cabul sendiri.

Betapa mengerikan terhadap anak dan cucu bahwa yang berkelakuan tidak normal itu seorang guru.

Sebaliknya, apakah normal kelakuan orangtua membiarkan guru yang pria dan anak yang perempuan berinteraksi dalam proses ajar-mengajar di rumah yang kosong?

Pertanyaan itu memuat keprihatinan yang mendalam.

Bukankah norma yang ditegakkan orangtua itu perkara yang mulia, bahwa guru makhluk yang dipercaya dan ditiru?

Digugu dan ditiru?

Bukankah seseorang yang dipercaya dan ditiru tidak perlu diawasi? Jawabnya, merupakan kesalahan besar orangtua yang percaya anak perempuannya berduaan dengan sang guru di rumah yang kosong. Guru juga manusia biasa yang bisa tergoda setan.

Sebagai wartawan saya belum pernah menginterviu setan, karena itu tidak tahu persis, seberapa hebat kesukaan setan menggoda guru, khususnya dalam perkara seks.

Faktanya, guru mencabuli murid bukan hanya terjadi di dunia pendidikan keduniawian, tetapi juga di dunia pendidikan kerohanian.

Pengadilan Jakarta Timur memvonis seorang guru ngaji yang mencabuli muridnya yang berumur 6 tahun dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

Keputusannya belum berkekuatan hukum tetap, sebab sang guru mengajukan banding dengan alasan bukan dia pelakunya.

Semua ini merupakan guru cabul yang tertangkap atau divonis dalam dua bulan ini (April-Mei 2017).

Berapa banyak guru cabul di negeri ini? Tidak ada yang tahu, sampai kemudian ketahuan, setelah terlambat.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan