Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kemiskinan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
13/5/2017 05:31
Kemiskinan
(ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

DI Tiongkok, upaya pengurangan kemiskinan sudah dilakukan sejak 2.500 tahun lalu. Meski upaya itu terus menerus dikerjakan, kemiskinan tetap masih ada di negeri tersebut. penyebabnya? Setidaknya ada dua alasan. Pertama, sistem tata niaga yang menyebabkan terutama petani terjebak dalam perangkap kemiskinan. Kedua, sikap sebagian orang yang 'menikmati' kemiskinan sehingga tidak pernah berupaya keluar dari sana.

Dalam kasus yang pertama, persoalan muncul karena petani harus mengeluarkan biaya besar untuk membawa produknya ke pasar yang umumnya berada di kota. Sebaliknya, ketika mereka membutuhkan kebutuhan rumah tangga, harga yang harus dibayar lebih mahal jika dibandingkan dengan orang yang ada di kota. Dengan kondisi seperti itu, masyarakat desa selalu tidak diuntungkan.

Tidak mengherankan apabila mereka terus merugi dan akhirnya mereka kesulitan menikmati kehidupan yang lebih baik. Apalagi, banyak orang yang kemudian tidak mau keluar dari perangkap kemiskinan. Mereka menikmati kemiskinan karena bisa dieksploitasi untuk mendapatkan belas kasihan. Sampai ada sebuah cerita, di Tiongkok, 1.000 orang kaya menciptakan 1 orang miskin.

Si miskin tidak pernah berupaya untuk memperbaiki kehidupan karena setiap hari bisa bergiliran meminta pertolongan dari si kaya. Orang kaya tidak pernah merasa terbebani karena sudah lupa bahwa tiga tahun lalu pernah membantu si miskin yang sama. Kalau sekarang kita mau mengurangi kemiskinan, bagaimana caranya? Jack Ma menawarkan sebuah terobosan.

Ia mempertemukan kedua pasar di dalam gadget sehingga efisiensi dapat tercipta. Dengan pasar digital yang dibangunnya di Alibaba, tidak ada lagi yang harus menanggung beban terlalu berat. Petani di Xinjiang, misalnya, tidak perlu repot mengirimkan hasil pertanian ke Beijing atau Shanghai. Para pembeli yang menginginkan produk yang dihasilkan petani tinggal masuk ke aplikasi Alibaba untuk memesan barang yang bisa langsung dikirim.

Sebaliknya, ketika petani membutuhkan barang untuk keperluan keluarga, ia tidak harus datang ke kota. Ia bisa langsung memesannya melalui gadget. Jack Ma mendisrupsi pasar dengan aplikasi yang ditawarkan. Pembeli dan penjual tidak perlu khawatir terhadap kualitas barang dan tata cara pembayaran karena Alibaba hadir untuk menjadi jembatan di antara keduanya.

Dengan penduduk Tiongkok yang mencapai 1,3 miliar, Alibaba mendapat volume perdagangan yang besar, apalagi ketika pasarnya diperluas menjadi pasar dunia. Tidak mengherankan apabila Alibaba dengan cepat menjadi perusahaan perdagangan daring terbesar di dunia. Pertanyaannya, apakah Indonesia tidak bisa seperti itu? Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, Indonesia mempunyai potensi pasar yang besar.

Apalagi, sekitar 170 juta penduduk Nusantara sangat akrab dan terbiasa menggunakan telepon pintar. Kalau saja kita bisa menemukan gugus produsen barang-barang kebutuhan rumah tangga dan bisa menyiapkan fasilitas pembayaran yang kredibel, kita bisa membangun sistem perdagangan seperti yang dilakukan Jack Ma. Dengan itulah, kita bisa membantu mempercepat upaya pengurangan kemiskinan di Indonesia.

Dalam skala yang lebih terbatas, kita sudah melakukan itu pada petani kakao. Dengan sistem informasi harga saja, petani kakao di Sulawesi Selatan bisa lebih cerdas dalam melakukan bisnis. Dengan mengetahui perkembangan harga kakao di dunia, mereka bisa memutuskan kapan menjual hasil panen. Kita bisa melihat sekarang bagaimana petani kakao di Sulsel bisa hidup lebih makmur.

Ketika terjadi krisis ekonomi pada 1997, petani kakao justru menikmati keuntungan besar karena produk mereka lebih banyak diekspor dan harganya dalam rupiah menjadi jauh lebih tinggi. Kita bisa bayangkan bagaimana jika sistem perdagangan seluruh komoditas bisa diatur secara digital. Para petani bisa lebih efisien mengatur pembiayaan untuk menjual hasil produksi mereka.

Dengan itu, pasti kehidupan mereka akan bisa lebih meningkat. Pendiri Grup Lippo Mochtar Riady memiliki obsesi untuk membantu mempercepat pengurangan kemiskinan di Indonesia. Ia sedang membangun infrastruktur yang memungkinkan sistem perdagangan di dalam negeri bisa diatur dengan lebih efisien. Itulah yang akan membuat Indonesia lebih cepat keluar dari persoalan kemiskinan.

Mochtar tidak khawatir dengan masuknya perusahaan perdagangan daring asing ke Indonesia. Sebagai orang Indonesia pasti kita lebih tahu letak sentra produk-produk Indonesia dan seperti apa kebutuhan konsumen Indonesia itu. Pasar bisa berjalan baik apabila dipercaya para pelaku di dalamnya. Itulah tantangan yang harus dijawab.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan