Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
“BERGURU kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.” Artinya, kira-kira: ketekunan dan kerja keras akan mendatangkan keberhasilan. Inilah aforisme Melayu yang jarang saya dengar. Apakah ribuan karangan bunga dan warga yang membanjiri Balai Kota tanda pengakuan keberhasilan? Ahok-Djarot jelas bukan pemimpin yang berhasil jika ukurannya ganjaran suara.
Mereka kalah dramatis atas Anies-Sandi (42%:58%). Ada aneka ekspresi simpati dan apresiasi di papan bungabunga. Ada rasa kehilangan yang dalam, pemimpin yang tak tergantikan. Bahwa kekalahan dalam hitungan suara, tetaplah namanya terpatri sebagai pemenang dalam hati mereka. Inilah perlawanan simbolik setelah kalah di bilik-bilik suara pada pilkada yang penuh eksploitasi isu SARA.
Bunga-bunga itu datang bergelombang. Ada yang beli patungan, sendiri-sendiri, atas nama organisasi, komunitas, dan aneka perwakilan. Selain dari Jakarta, mereka datang dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Banten, Bandung, dan berbagai kota lain, bahkan dari berbagai negara. Bahkan, di Batam, Riau, karangan bunga untuk Ahok-Djarot dibariskan di taman kota dengan harapan pemimpin daerah lain meniru jejak Ahok-Djarot.
Mereka umumnya datang dengan wajah bungah. Namun, sesungguhnya itulah kemasygulan kolektif atas rasa kehilangan pemimpin yang mereka anggap genuine. ‘Sang Nemo’, ikan kecil si penantang arus. Mereka juga sesungguhnya protes atas kekalahan sang idolanya. Namun, inilah protes, sesalan dengan cara elegan. Tak menjadi soal Fadli Zon menyoal sebagai pencitraan murahan. Untuk apa citra untuk mereka yang kalah?
Padahal, jabatan Ahok-Djarot secara resmi baru berakhir 20 Oktober nanti. Bisa jadi hingga enam bulan ke depan, gelombang karangan bunga akan terus berdatangan, juga warga. Seperti Rabu silam, ribuan manusia ‘mengepung’ Balai Kota. Ada yang menunggu sejak subuh tiba; tapi tak semua bisa berjumpa sang idola. Semata karena padatnya agenda Ahok.
Kita tahu tak ada pemimpin yang pepak, yang jangkap, juga Ahok. Namun, mereka tahu pemimpin yang bekerja dan yang semata membangun citra. Ahok, si kasar mulut itu, tapi karakternya tegak lurus. Seorang petinggi hukum pernah mengungkapkan, “Ahok manusia langka, Ada banyak pejabat Balai Kota yang tiap bulan biasa mengantongi uang gelap ratusan juta rupiah, lalu Ahok menghentikannya. Merekalah yang menghukum Ahok di pilkada.”
Banjir karangan bunga itu, manusiawi menjadi penghiburan sang gubernur yang kalah suara. Ia diminta tabah, sabar, tak patah arang. Sebagian massa mengharapkan agar ia menjadi menteri dalam negeri atau menteri reformasi birokrasi. Ada juga tawaran menjadi gubernur di Bali dan provinsi lain. Sebuah pengharapan pelipur lara dari para pendukungnya. Agaknya ‘ekspresi bunga’ paling fenomenal untuk seorang pemimpin daerah.
Meski dari sisi sambutan massa, Ali Sadikin yang mengakhiri jabatannya pada Juli 1977, juga berbulan-bulan menerima gelombang warga yang takut ditinggalkannya. Ada tangis warga di mana-mana. Rupa-rupa institusi dan perorangan memberikan penghargaan. Universitas Indonesia, IAIN Ciputat (kini UIN), dan 67 perguruan tinggi swasta mengapresiasi prestasi Ali.
IAIN misalnya memberi predikat Al-Bani (The Builder), Bapak Pembangunan Ibu Kota. Ada karakter yang kira-kira sama antara Ahok dan Ali
Sadikin: berani, jujur, tegas, pintar, dan tegak lurus dengan apa yang diyakini benar. Ali juga gubernur yang tak segan memaki jika anak buahnya bersalah. Aspirasi publik waktu itu, mereka ingin Ali maju menjadi calon presiden.
Namun, masa itu siapa yang berani melawan Soeharto? Tak ada yang bisa menubuat berapa ribu ekspresi bunga dan massa terus hadir di Balai Kota hingga Oktober nanti. Tapi, ini fenomena baru di negeri ini, bahwa ekspresi kemasygulan tak harus diluapkan dengan aksi di jalanan; seperti di Amerika Serikat massa meluapkan kemarahan berhari-hari atas kemenangan Donald Trump. Beruntunglah kita.
Bahasa bunga di Jakarta ialah ekspresi apresiasi dan kegundahan yang saling bertaut. Namun, ini ekspresi kemasygulan yang elegan. Ia kalah dalam kemenangan. Sebuah paradoks yang disatukan. Sejarah yang jujur akan mencatatnya.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved