Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
“BERGURU kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.” Artinya, kira-kira: ketekunan dan kerja keras akan mendatangkan keberhasilan. Inilah aforisme Melayu yang jarang saya dengar. Apakah ribuan karangan bunga dan warga yang membanjiri Balai Kota tanda pengakuan keberhasilan? Ahok-Djarot jelas bukan pemimpin yang berhasil jika ukurannya ganjaran suara.
Mereka kalah dramatis atas Anies-Sandi (42%:58%). Ada aneka ekspresi simpati dan apresiasi di papan bungabunga. Ada rasa kehilangan yang dalam, pemimpin yang tak tergantikan. Bahwa kekalahan dalam hitungan suara, tetaplah namanya terpatri sebagai pemenang dalam hati mereka. Inilah perlawanan simbolik setelah kalah di bilik-bilik suara pada pilkada yang penuh eksploitasi isu SARA.
Bunga-bunga itu datang bergelombang. Ada yang beli patungan, sendiri-sendiri, atas nama organisasi, komunitas, dan aneka perwakilan. Selain dari Jakarta, mereka datang dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Banten, Bandung, dan berbagai kota lain, bahkan dari berbagai negara. Bahkan, di Batam, Riau, karangan bunga untuk Ahok-Djarot dibariskan di taman kota dengan harapan pemimpin daerah lain meniru jejak Ahok-Djarot.
Mereka umumnya datang dengan wajah bungah. Namun, sesungguhnya itulah kemasygulan kolektif atas rasa kehilangan pemimpin yang mereka anggap genuine. ‘Sang Nemo’, ikan kecil si penantang arus. Mereka juga sesungguhnya protes atas kekalahan sang idolanya. Namun, inilah protes, sesalan dengan cara elegan. Tak menjadi soal Fadli Zon menyoal sebagai pencitraan murahan. Untuk apa citra untuk mereka yang kalah?
Padahal, jabatan Ahok-Djarot secara resmi baru berakhir 20 Oktober nanti. Bisa jadi hingga enam bulan ke depan, gelombang karangan bunga akan terus berdatangan, juga warga. Seperti Rabu silam, ribuan manusia ‘mengepung’ Balai Kota. Ada yang menunggu sejak subuh tiba; tapi tak semua bisa berjumpa sang idola. Semata karena padatnya agenda Ahok.
Kita tahu tak ada pemimpin yang pepak, yang jangkap, juga Ahok. Namun, mereka tahu pemimpin yang bekerja dan yang semata membangun citra. Ahok, si kasar mulut itu, tapi karakternya tegak lurus. Seorang petinggi hukum pernah mengungkapkan, “Ahok manusia langka, Ada banyak pejabat Balai Kota yang tiap bulan biasa mengantongi uang gelap ratusan juta rupiah, lalu Ahok menghentikannya. Merekalah yang menghukum Ahok di pilkada.”
Banjir karangan bunga itu, manusiawi menjadi penghiburan sang gubernur yang kalah suara. Ia diminta tabah, sabar, tak patah arang. Sebagian massa mengharapkan agar ia menjadi menteri dalam negeri atau menteri reformasi birokrasi. Ada juga tawaran menjadi gubernur di Bali dan provinsi lain. Sebuah pengharapan pelipur lara dari para pendukungnya. Agaknya ‘ekspresi bunga’ paling fenomenal untuk seorang pemimpin daerah.
Meski dari sisi sambutan massa, Ali Sadikin yang mengakhiri jabatannya pada Juli 1977, juga berbulan-bulan menerima gelombang warga yang takut ditinggalkannya. Ada tangis warga di mana-mana. Rupa-rupa institusi dan perorangan memberikan penghargaan. Universitas Indonesia, IAIN Ciputat (kini UIN), dan 67 perguruan tinggi swasta mengapresiasi prestasi Ali.
IAIN misalnya memberi predikat Al-Bani (The Builder), Bapak Pembangunan Ibu Kota. Ada karakter yang kira-kira sama antara Ahok dan Ali
Sadikin: berani, jujur, tegas, pintar, dan tegak lurus dengan apa yang diyakini benar. Ali juga gubernur yang tak segan memaki jika anak buahnya bersalah. Aspirasi publik waktu itu, mereka ingin Ali maju menjadi calon presiden.
Namun, masa itu siapa yang berani melawan Soeharto? Tak ada yang bisa menubuat berapa ribu ekspresi bunga dan massa terus hadir di Balai Kota hingga Oktober nanti. Tapi, ini fenomena baru di negeri ini, bahwa ekspresi kemasygulan tak harus diluapkan dengan aksi di jalanan; seperti di Amerika Serikat massa meluapkan kemarahan berhari-hari atas kemenangan Donald Trump. Beruntunglah kita.
Bahasa bunga di Jakarta ialah ekspresi apresiasi dan kegundahan yang saling bertaut. Namun, ini ekspresi kemasygulan yang elegan. Ia kalah dalam kemenangan. Sebuah paradoks yang disatukan. Sejarah yang jujur akan mencatatnya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved