Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Mike Pence

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
22/4/2017 06:00
Mike Pence
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

PRESIDEN Joko Widodo belum lama ini mengeluhkan sikap Arab Saudi dalam menjalankan kebijakan investasi mereka.

Investasi Arab Saudi ke Tiongkok mencapai Rp870 triliun, sedangkan investasi ke Indonesia hanya Rp89 triliun.

Padahal, saat berkunjung ke Indonesia, Raja Salman sampai tiga hari memperpanjang waktu liburannya.

Tidak hanya itu, sambutan yang diberikan rakyat Indonesia begitu luar biasa.

Bahkan Presiden sampai ikut hujan-hujanan.

Presiden memayungi sendiri Raja Salman agar tidak kebasahan karena hujan.

Hal seperti ini bukan pertama kali dialami Indonesia. Saat pertama kali menjadi wakil presiden, Jusuf Kalla juga pernah mengkritik kebijakan Amerika Serikat.

Hal itu disebabkan AS selalu mendengungkan yang namanya demokratisasi.

AS selalu memuji Indonesia sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia yang mampu menerapkan demokrasi.

Namun, ketika berinvestasi, AS tidak pernah menjadikan demokrasi itu sebagai salah satu ukuran mereka.

Buktinya AS lebih banyak menanamkan modal mereka di Tiongkok, padahal negara itu tidak menerapkan sistem demokrasi.

Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Karena kita tidak pernah jelas saat berbicara bisnis.

Pada kita masih kuat sikap ewuh pakewuh.

Padahal, dalam bisnis, semua harus jelas give and take-nya.

Kita harus terang benderang menyampaikan apa yang kita maui dan kompensasi apa yang akan kita berikan kepada mereka.

Sekarang kita melihat kondisi yang hampir sama saat Wakil Presiden AS Mike Pence berkunjung dua hari ke Indonesia.

Ketika ditanyakan apa yang kita dapatkan dari kunjungan orang nomor dua di AS itu, jawabannya serbasumir.

Tidak jelas apa sebenarnya yang dibicarakan dan apa hasil yang bisa didapatkan.

Padahal, pasti ada agenda khusus yang dibawa Mike Pence karena ini kunjungan resmi pertama pemerintahan Donald Trump ke luar negeri.

Indonesia menjadi salah satu dari empat negara yang menjadi prioritas untuk dikunjungi duet Trump dan Pence.

Kita sepertinya puas dengan basa-basi politik.

Kita bangga dikatakan sebagai negara muslim yang mampu menjaga keberagaman.

Basa-basi politik memang perlu, tetapi yang jauh lebih penting dari itu ialah apa manfaat yang bisa dipetik bagi kehidupan rakyat Indonesia.

Seharusnya seperti Presiden Soekarno dulu, jelas kita meminta AS untuk membangun jalan bypass di Jakarta.

Kita juga minta AS untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Indonesia agar Indonesia bisa memperbaiki kualitas kehidupan bangsa dan dengan itu semakin kukuh membangun sistem demokrasi.

Sekarang ini banyak perlakuan tidak adil dilakukan AS kepada kita, misalnya hambatan terhadap produk-produk pertanian dan perikanan.

AS dan Uni Eropa menuduh Indonesia melakukan dumping terhadap produk biodiesel.

Seharusnya kepada Pence dijelaskan, pemerintah tidak pernah memberikan subsidi kepada industri biodiesel.

Kehadiran Pence seharusnya dijadikan kesempatan untuk meminta AS agar membantu kita memecahkan persoalan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.

Kalau Indonesia dianggap sebagai partner bisnis, jangan ada hambatan terhadap produk Indonesia yang masuk ke AS dan bahkan AS harus meningkatkan investasi mereka di sini.

Kita harus berterus terang untuk mengatakan konsekuensi yang akan terjadi apabila Indonesia tidak bisa keluar dari kemiskinan dan kesenjangan.

Ini tidak hanya bisa berdampak kepada stabilitas di dalam negeri, tetapi juga ke kawasan.

AS pasti menyampaikan concern terhadap nasib investasi mereka di Indonesia.

Kedutaan Besar AS sudah menanyakan kepada menteri luar negeri soal kasus branch office tax yang dikenakan kepada Chevron.

Pajak sebesar US$130 juta dianggap tidak lazim dan membuat Chevron menghentikan sementara investasi yang sedang mereka lakukan.

Hal yang sama berlaku dengan Freeport.

Sebagai perusahaan yang sudah 50 tahun beroperasi di Indonesia dan berkontribusi kepada pembangunan Papua, mereka mempertanyakan perlakuan tidak adil yang mereka rasakan sekarang.

Tentu tidak perlu ada yang kalah dan menang dalam diplomasi.

Kalau semangatnya ialah kemajuan bersama, ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki hal-hal yang menjadi penghambat kerja sama kedua negara.

Dengan inilah kemudian kedua bangsa meraih kemajuan bersama.

Kalau sikap kita berorientasi kepada hasil, tidak akan terjadi lagi kekecewaan di kemudian hari.

Presiden tidak perlu lagi mengeluh sudah melayani dengan baik, tetapi investasi yang diharapkan tidak kunjung datang.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan