Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA mengharapkan Ahok-Djarot menang. Ternyata kalah. Sebaik-baiknya perkara ialah mengucapkan selamat kepada Anies-Sandiaga. Ketika menang, saya percaya kepada hasil quick count lembaga survei kredibel yang ditayangkan Metro TV. Misalnya itu terjadi pada Pilpres 2014 dengan kemenangan Jokowi-JK. Ketika kalah, saya pun percaya kebenarannya. Itulah yang terjadi dengan Pilkada Jakarta 2017. Ahok-Djarot kalah.
Semua kepercayaan itu tanpa perlu menanti hasil penghitungan suara yang resmi. Bahkan, saya termasuk yang berpandangan bahwa hasil quick count lembaga survei yang profesional dan berintegritas justru merupakan 'kontrol' terhadap KPU/KPUD. Hasil hitung cepat tiga lembaga survei, yaitu Charta Politica, Indobarometer, dan Voxpol Center, menunjukkan Anies-Sandiaga menang 15%-18%. Kemenangan itu telah terlihat kemarin pada pukul 16.14:25, sekalipun data yang masuk baru 94,67%.
Pada putaran kedua, Ahok-Djarot bahkan tidak mampu sepenuhnya mempertahankan perolehan suara 42,98% pada putaran pertama. Perolehannya sedikit berkurang. Sebaliknya, suara Anies-Sandiaga melonjak jauh bertambah hampir 20%, dari perolehan 39,95% pada putaran pertama. Matematis, sepertinya semua perolehan suara Agus-Sylvi 17,06% 'ditelan bulat-bulat' oleh Anies-Sandiaga.
Pilkada Jakarta kali ini merupakan pemilu yang terpanas semenjak negara ini menyelengggarakan pemilu langsung. Terpanas karena bergelora di dalamnya sentimen SARA. Kemenangan Anies-Sandiaga jelas karena faktor SARA, terutama agama. Sejujurnya harus dikatakan, faktor agama mengalahkan faktor program. Di dalam berbagai debat publik orang melihat Anies-Sandiaga 'belepotan', bukan hanya berhadapan dengan program yang telah diwujudkan Ahok-Djarot selaku petahana, melainkan juga terhadap program yang bakal dikerjakan bilamana menang.
Faktanya Ahok-Djarot kalah, yang menang Anies-Sandiaga. Gubernur baru kiranya tahu benar perbedaan indahnya janji kampanye yang bikin menang dengan pahitnya realitas sosial yang harus dihadapi setelah menang. Misalnya, bila harus menggusur sebagai sebuah keniscayaan, yakni demi tegaknya fungsi-fungsi kepublikan, jangan ragu untuk melakukannya. Jangan segan untuk meminta maaf atas janji yang terlalu muluk.
Demikian pula halnya bila janji membangun rumah untuk rakyat tanpa uang muka, masih jauh panggang dari api. Publik kiranya bisa dibikin paham, kenapa itu tidak dapat diwujudkan. Hemat saya, dengan pengakuan yang jujur, publik pun dapat memaafkannya. Sebaliknya, program Ahok-Djarot yang bagus dan dapat dikerjakan untuk kemaslahatan publik, kenapa tidak 'diadopsi' saja? Bukankah Anies-Sandiaga juga gubernur-wakil gubernur untuk warga Jakarta yang bernama Ahok-Djarot?
Pertandingan telah berakhir. Kata orang suci, pada hari mujur, hari kemenangan, bergembiralah. Pada hari malang, hari kekalahan, terimalah. Di atas semuanya itu, apakah pengikat yang menang ataupun yang kalah? Jawabnya, Jakarta ibu kota negara, milik semua anak bangsa.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved