Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Segenggam Ketenangan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
13/4/2017 05:31
Segenggam Ketenangan
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

DENGAN wajah yang satu kita gembira, dengan wajah yang lain kita senyatanya prihatin, amat prihatin. Wajah terbelah. Itulah sejujurnya wajah kita (anak bangsa), berkaitan dengan lembaga negara. Wajah kita prihatin, tepatnya sedih, karena KPK diteror hebat. Penyidik senior KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal sehingga mata kirinya cedera berat dan sulit untuk melihat. Kita bertambah prihatin karena dikabarkan bahwa Novel perlu ganti mata/kornea.

Novel merupakan wakil anak bangsa yang idealis dalam memberantas korupsi. Ia ikon dalam perkara itu dan menjadi kesayangan publik. Siraman air keras kiranya tidak mengendurkan idealismenya, juga tidak melemahkan KPK. Wajah kita lebih prihatin dalam makna yang terburuk karena lembaga negara yang bernama Dewan Perwakilan Daerah menjadi ajang elite menghalalkan semua cara untuk membagi-bagi masa jabatan pimpinan. Wajah kita kian babak belur karena Mahkamah Agung melantik pimpinan DPD hasil penghalalan semua cara itu.

Akan tetapi, dunia belum kiamat. Wajah kita yang satu lagi gembira, karena seorang anak bangsa yang mumpuni dalam ilmu, dan kiranya teguh dalam moral, diangkat Presiden menjadi hakim konstitusi. Dia ialah Saldi Isra, guru besar hukum tata negara yang pikiran dan pendiriannya mengenai persoalan ketatanegaraan terbuka di hadapan publik. Di tengah orang omong besar, ada cendekiawan dengan pandangan dan sikap yang konsisten diekspresikan melalui tulisan-tulisannya.

Presiden Jokowi jelas kepincut dengan figur berkualitas itu. Pada mulanya Saldi Isra masuk nominasi menjadi menteri hukum dan HAM. Akan tetapi, nominasi itu kalah oleh doktor hukum lainnya yang berasal dari partai pengusung dan pendukung terbesar. Bukan perkara aneh. Jabatan menteri merupakan jabatan politik. Presiden Jokowi terus memelihara keterpincutannya akan Saldi Isra. Jokowi menjadikan cendekiawan itu Komisaris Utama PT Semen Padang, dan yang terpenting, ketua panitia seleksi sejumlah jabatan publik.

Di antaranya, ketua pansel KPU dan Bawaslu (2016). Sebelumnya, ketua pansel hakim konstitusi untuk menggantikan Hamdan Zoelva, dari unsur pemerintah (2015). Keterpincutan Presiden itu kiranya tuntas. Saldi Isra yang biasanya menguji, lulus diuji pansel, dan dalam usia 48 tahun, kini menjadi hakim konstitusi termuda dari unsur pemerintah.

Yang paling gembira tentunya publik. Saldi yang menggantikan Patrialis Akbar, yang tertangkap basah KPK, bakal total mengabdi untuk memulihkan kepercayaan publik kepada MK. Ia mundur dari jabatan Komisaris Utama PT Semen Padang, berhenti dari jabatan Direktur Pusat Studi Konstitusi di Fakultas Hukum Universitas Andalas, serta mengajukan cuti di luar tanggungan sebagai dosen. Ia fokus berdedikasi sebagai hakim konstitusi.

MK kiranya bakal berubah, benar-benar yang mulia. Bukan mahkamah yang keruh, kotor, dan terbelah karena hakim konstitusi dapat dibeli. Berdagang itu di pasar, tawar-menawar, dan boleh berkaus oblong dan bercelana pendek. Bukan di mahkamah, yang wajib berjubah. Tentu saja Saldi Isra perlu diingatkan bahwa kekuasaan, termasuk kekuasaan kehakiman, lebih membuat orang 'terjerat' daripada 'bebas merdeka'.

Baiklah dia sekarang juga melaporkan harta kekayaannya kepada KPK, dan kemudian teratur tiap tahun melakukannya. Melepaskan semua jabatan telah dilakukannya. Agar tidak ada dusta di antara sesama anak bangsa, beberkanlah semua hartamu di hadapan publik. Tetaplah hidup dalam segenggam ketenangan, daripada dua-tiga genggam ikhtiar yang bikin tertangkap basah KPK. Segenggam ketenangan itu membuat wajah yang satu kian gembira.

Kiranya yang bikin wajah kita yang lain kian suram ialah apa yang terjadi di Dewan Perwakilan Daerah. Semua pemimpin di situ senang kegaduhan. Tidakkah sebaiknya lembaga yang dihuni senator tukang recok itu 'dikebumikan' saja secepatnya dan selamanya? Masih ada yang harus disisir dan dicabuti bulu-bulu palsunya oleh KPK. Itulah mereka yang terlibat korupsi KTP-E. Setelah tuntas itu semua, barulah wajah kita yang satu bisa sedikit tersenyum. Sedikit, karena korupsi di DPR sepertinya menjadi hobi, yaitu hobi hidup dalam bahaya. Mereka tak suka dengan segenggam ketenangan. Mereka mau dua-tiga genggam berlian kendati berakhir dengan sehelai rompi KPK.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan