Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Akhir Amnesti

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
05/4/2017 05:31
Akhir Amnesti
(MI/RAMDANI)

INGAR-BINGAR amnesti pajak berakhir sudah. Sembilan bulan pelaksanaan amnesti pajak penuh dengan perjuangan. Meski tidak seperti yang diperkirakan, amnesti pajak pantas kita apresiasi. Dari jumlah deklarasi harta dan uang tebusan yang disampaikan merupakan rekor dunia. Jumlah deklarasi harta lebih dari Rp4.500 triliun, uang tebusan di atas Rp128 triliun, dan dana repatriasi sekitar Rp147 triliun. Memang deklarasi harta dalam negeri jauh lebih besar, yakni Rp3.687 triliun. Sementara itu, deklarasi harta luar negeri Rp1.032 triliun.

Semula kita memperkirakan deklarasi luar negeri akan mencapai minimal Rp5.000 triliun. Berulang kali dikatakan begitu besar dana yang diperkirakan di luar negeri. Apalagi, sempat muncul Panama Papers yang menyebutkan perusahaan milik orang Indonesia yang terdaftar di negara 'Surga Pajak'. Namun, banyak yang meragukan kalau jumlah uang yang disimpan dan diinvestasikan di luar negeri itu sampai US$1 triliun. Sebab, era booming ekspor baru terjadi akhir 1980-an. Setelah krisis ekonomi 1997, praktis kita berjuang untuk keluar dari keterpurukan. Cadangan devisa kita pun paling banyak hanya sekitar US$100 miliar.

Memang masih muncul bayangan adanya uang yang belum dideklarasikan. Kita tentu tidak menutup mata terhadap kemungkinan itu. Namun, nilainya tidak akan lebih besar dari deklarasi yang sudah disampaikan. Apalagi Presiden Joko Widodo berulang kali mengundang para pengusaha ke Istana. Periode tiga bulan pertama merupakan bukti kepatuhan warga untuk memperbaiki laporan harta mereka.

Sekarang bukan waktunya lagi bagi kita mengejar bayang-bayang. Lebih baik kita bekerja keras. Kita dorong masyarakat untuk melakukan kegiatan yang produktif. Dari uang tebusan dan dana repatriasi, kita dorong masyarakat untuk berinvestasi. Kalau pemerintah ingin mendapatkan penerimaan yang lebih besar, jalan paling benar ialah mendorong kegiatan usaha. Tahun ini pemerintah menetapkan penerimaan pajak sekitar Rp1.300 triliun. Kalau target itu ingin tercapai, pada dua bulan pertama seharusnya pemerintah sudah bisa mengantungi 18,5% dari target. Kenyataannya dua bulan pertama, pemerintah baru bisa mendapatkan sekitar 10% dari target.

Apa artinya itu? Kegiatan ekonomi di tengah masyarakat belum berjalan normal. Geliat ekonomi di awal tahun belum seperti yang diharapkan. Ini bisa disebabkan masih adanya keraguan untuk melakukan investasi atau iklim usaha yang belum kondusif. Dalam situasi seperti sekarang yang dibutuhkan ketenangan. Masyarakat jangan terus ditakut-takuti. Surat Direktorat Jenderal Pajak kepada para peserta amnesti pajak, misalnya, bahasa yang dipakai terasa mengancam. Seakan-akan para peserta amnesti pajak merupakan pribadi yang berniat jahat. Seharusnya pemerintah justru mengapresiasi dan meminta mereka untuk terus mendukung pembangunan nasional.

Apalagi sempat muncul edaran untuk memeriksa transaksi kartu kredit dari masyarakat. Ini bukan hanya melanggar privasi, tetapi merupakan kesewenang-wenangan. Seharusnya Ditjen Pajak hanya memeriksa orang yang diduga melakukan pelanggaran pajak, bukan semua orang dianggap sebagai 'penjahat'. Beruntung Ditjen Pajak kemudian membatalkan surat edaran tersebut. Sebab, kalau dipaksakan yang akan terjadi bukan penerimaan pajak yang meningkat, tetapi justru akan terpuruk. Setelah investasi tidak kunjung terjadi, konsumsi masyarakat pun akan menurun.

Padahal konsumsi masyarakat itulah pendorong pertumbuhan ekonomi dan sekaligus penyumbang penerimaan pajak. Kita ingin kembali mengulangi, potensi negeri ini untuk mendorong pertumbuhan sangat besar. Niatan investasi dalam negeri maupun luar negeri begitu besarnya. Sayang keinginan untuk menarik investasi, tidak diikuti sikap positif untuk menyambut masuknya investasi itu. Kecenderungan kita selalu curiga kepada pengusaha. Bahkan mendapatkan untung itu dianggap sebagai tabu. Negara pun cenderung hanya memikirkan penerimaannya sendiri. Padahal ini soal pilihan, penerimaan itu mau diambil di depan atau di belakang. Kalau mau rakyat makmur dan ekonomi bergerak terlebih dulu, seharusnya penerimaan itu diambil di belakang. Kita butuh ekspansi ekonomi, bukan kontraksi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.