Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Debat Ahok-Anies

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
30/3/2017 05:31
Debat Ahok-Anies
(MI/Galih Pradipta)

DALAM debat terakhir yang diselenggarakan program Mata Najwa di Metro TV (27/3), Ahok berkata, "Saya enggak suka bohongin orang untuk pilkada." Pernyataan itu merupakan penutup, yang dikaitkan dengan program Anies Baswedan, yang akan membangun rumah tanpa DP. Untuk seribu rumah diperlukan 350 triliun rupiah. Program Anies itu banyak mendapat kritik, tetapi tetap ia canangkan. Kenapa? Anies mungkin berpandangan, yang namanya kampanye, boleh saja menjual program seideal mungkin. Soal terwujud atau tidak, urusan kelak setelah terpilih menjadi gubernur.

Yang jelas, dalam debat itu, orang menilai bahwa Ahok lebih memaparkan program, sedangkan Anies Baswedan lebih menyerang Ahok. Sedemikian tajam serangan itu sehingga ngawur.
Contohnya, atas pertanyaan Najwa Shihab, bahwa Ahok berani memecat anak buah, apakah Anies berani memecat anak buah, meluncurlah jawaban Anies yang sepertinya gagah berani, padahal ngawur. Kata Anies, tidak mungkin dia tidak berani pecat anak buah. Sekarang saja dia sedang berusaha memecat Pak Basuki jadi gubernur. Dari mana jalannya calon gubernur bisa memecat gubernur?

Kata Ahok, warga DKI Jakarta yang berhak memecatnya. Lagi pula, masa jabatan Ahok sebagai gubernur Jakarta hingga Oktober 2017. Kengawuran jawaban Anies Baswedan itu menuai reaksi berupa meme yang berseliweran di media sosial. Isinya, menampilkan gambar Presiden Jokowi, disertai ucapan, "Yang pecat kamu kan saya, kok dendamnya ke Basuki." Meme lainnya berbunyi, "Hus... Anies belom pernah pecat orang, tetapi pernah dipecat." Bahwa Anies pernah dipecat Presiden Jokowi dari jabatan menteri pendidikan, fakta yang tak terbantahkan. Namun, gencarnya serangan Anies terhadap Ahok, bukan adu program, membuat orang yang semula tak bisa menerima kenapa Anies dipecat sebagai menteri, berubah menjadi sangat paham.

Dalam debat itu publik tak menemukan cerdasnya kecendekiawanan. Apalagi, kearifan mantan seorang menteri pendidikan. Debat publik mestinya mengandung keadaban publik. Forum yang mencerdaskan. Publik yang mengikutinya mendapatkan pemahaman yang lebih sehingga warga yang punya hak pilih, tahu benar kenapa memilih sang calon. Debat publik yang diperkenalkan di zaman demokrasi Athena sesungguhnya mengandung sejumlah syarat. Di antaranya, dalam debat orang berargumentasi dengan logika yang kuat, fakta yang akurat, kaya program, sehingga publik tahu ke mana pemerintahan akan dibawa.

Akan tetapi, tak kalah penting ialah publik dapat membaca karakter orang yang bakal dipilih, terutama kejujurannya. Salah satu soal besar pemimpin bangsa ini bukan kepintarannya, melainkan kejujurannya. Dalam debat publik kiranya juga terbaca orang yang mengagungkan egonya ketimbang tekat memajukan kehidupan kepublikan. Termasuk 'terasakannya' hal-hal yang disembunyikan di balik tutur kata yang santun dan teratur. Bahasa tubuh menunjukkannya. Tak ada pilkada seheboh dan seseram pilkada Jakarta.

Untuk memilih yang terbaik, publik masih patut berharap ada debat Ahok-Anies yang berkeadaban dan mencerahkan. Kemudian, pertarungan pilkada diakhiri dengan spontanitas, bahwa setelah hitung cepat, seusai pencoblosan, calon gubernur yang kalah mengucapkan selamat kepada yang menang. Selebihnya tinggal sejarah yang membuktikan, apakah warga Jakarta salah pilih atau tidak. Yang jelas, pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian, lima tahun tiada berguna.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.