Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Negarawan dan Kendaraan

24/3/2017 05:31
Negarawan dan Kendaraan
(MI/ROMMY PUJIANTO)

BEBERAPA hari ini kita membincangkan kendaraan para negarawan. Kendaraan Presiden Jokowi yang mogok dan kendaraan istana yang masih dipakai mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lagi-lagi, untuk kese­kian kali, Presiden RI dua kali masa jabatan itu menjadi bahan perbincangan sumbang. Banyak yang menyayangkan kenapa sang negarawan SBY mau ‘direpotkan’ (lagi) oleh urusan seperti ini.

Ihwal ramai perbincangan kendaraan itu disebabkan mobil Presiden Jokowi yang mogok di Mempawah, Kalimantan Barat, beberapa hari silam. Ternyata telah empat kali mobil Jokowi mogok. Semua mobil bermerek Marcedes Benz S-600 Pullman Guard buatan Jerman 2007 itu anti peluru. Itulah kendaraan resmi Jokowi-Jusuf Kalla sejak dilantik pada 20 Oktober 2014. Mobil yang berjumlah delapan buah itu bekas pakai presiden/wakil presiden sebelumnya, SBY-Boediono. Di dunia, ada 89 negara yang menggunakan mobil sejenis untuk para pemimpin mereka.

Jokowi-Kalla yang hampir dua setengah tahun dilantik belum jua menaiki mobil baru. Menteri Sekretaris Negara Pratikno kabarnya beberapa kali membincangkan rencana pembelian mobil baru dengan Jokowi, tapi sang presiden selalu menolak. Alasannya mobil lama masih bisa dipakai dan keuangan negara belum kinclong-kinclong amat. Memang, harganya per unit selangit (sekitar Rp12 miliar), tetapi standar kenyamanan dan keamanan pemimpin negeri berpenduduk 250 juta jiwa mestinya jangan diabaikan. Terlebih aktivitas Jokowi amatlah padat dalam menjelajah Indonesia yang luas ini.

Publik juga jadi tahu ternyata dari delapan kendaraan itu, satu di antaranya masih di tangan SBY. Baru Rabu silam setelah heboh, SBY mengembalikan kendaraan itu ke pihak istana. Menurut SBY, mobil yang ia pakai kerap ngadat juga. Terakhir ia pakai September 2016, baru berjalan 20 menit rusak.

Sang mantan presiden yang hobi menyanyi itu merasa tak aneh dengan kendaraan yang ia pakai. Sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Mantan Presiden dan Wakil Presiden, disediakan sebuah kendaraan milik negara beserta pengemudinya. Menurut SBY pula, mobil itu diantar ke rumah. Namun, menurut pihak istana, karena SBY masih membutuhkan kendaraan itu. Mana yang benar?

Menurut Kepala Sekretariat Kepresidenan Darmansyah Djumala, jatah mobil untuk para mantan presiden/wakil presiden ialah mobil Toyota Camry 2,4 atau 3,0. BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, Try Sutrisno, dan Boediono menerima mobil serupa itu. Nah, kenapa istana justru mengantarkan mobil Mercy ke SBY dan bukan Camry? Tak masuk akal kalau alasannya tak ada anggaran. Sama tak masuk akal pula sekelas mantan presiden dua periode, katanya, amat membutuhkan mobil itu.

SBY menyesalkan pemberitaan yang sumbang itu. Seolah-olah ia memakai kendaraan ilegal. Akan tetapi, anehnya, ia mengungkapkan sudah lama berniat akan mengembalikan mobil itu. “Namun, rangkaian perbaikannya baru selesai minggu lalu. Tidak mungkin saya kembalikan mobil tersebut dalam keadaan rusak. Saya sedih justru dengan niat baik itu, hari ini pemberitaan media sangat menyudutkan saya, seolah saya bawa mobil yang bukan hak saya,” kata SBY.

Saya kira berakhir sudah ‘berbalas pantun’ antara istana versus Cikeas setelah SBY bertabayun dengan Presiden Jokowi beberapa pekan silam. Saya kira, seorang negarawan sudah selesai urusan remeh-temeh seperti kendaraan. Saya kira bagi para negarawan, pengabdian pada negara itulah kebanggaan mereka. Saya kira pelayanan VVIP selama 10 tahun, mendapat rumah mewah sebagai mantan presiden, amatlah cukup. Terlebih masih amat banyak rakyat negeri ini hidup berimpitan di rumah-rumah sempit.

Saya jadi teringat kisah mendiang Mohammad Natsir, yang begitu tak lagi menjabat perdana menteri, arsitek Negara Kesatuan Republik Indonesia itu langsung mengembalikan mobilnya kepada negara. Ia pulang membonceng sepeda yang dikayuh sang sopir. Natsir masih relevan menjadi sumber inspirasi para pemimpin kita hari ini. Ia, juga mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan banyak pemimpin lain di masa silam, tak sibuk berebut fasilitas, tapi sibuk memikirkan ke mana negara dan bangsa ini hendak dibawa. Alangkah sedih negarawan diperbincangkan publik karena urusan kendaraan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.