Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Transportasi Daring

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
22/3/2017 05:31
Transportasi Daring
(MI/Galih Pradipta)

KISRUH transportasi daring (online) pada 2016 ternyata menjadi seperti api dalam sekam. Api itu kini mulai menyala kembali. Bentrokan kini bukan antara pengemudi transportasi daring dan pengemudi taksi, melainkan dengan pengemudi angkutan kota dan bahkan pengemudi becak motor. Dalam dua pekan terakhir ini terjadi bentrokan antara pengemudi angkutan umum dan transportasi daring di banyak kota.

Mulai Tangerang kemudian merembet ke Bandung, Malang, Yogyakarta, Bogor, dan Medan. Kita harus memberi perhatian karena bentrokan sudah mengarah kepada fisik. Di Bandung bahkan ada warga biasa yang sedang bepergian dengan keluarganya dianiaya sopir angkutan umum karena dianggap bagian dari transportasi daring.

Akar persoalan bukan pada sistem teknologinya, melainkan berkaitan dengan periuk nasi. Para sopir angkot merasa pendapatan mereka terancam. Kehadiran transportasi daring mengurangi jumlah pengguna transportasi umum. Memang kita sedang mengalami perubahan besar. Kita sedang hidup di era disruption dengan tatanan lama didestruksi dan digantikan tatanan baru. Era yang disebut Prof Rhenald Kasali sebagai ‘Peradaban Uber’ ini bisa meminta korban kepada mereka yang tidak bisa berubah.

Transportasi umum selama berpuluh-puluh tahun dianggap sebagai ajang bisnis dan penyedia lapangan pekerjaan. Di tengah ketidakmampuan pemerintah kota membangun sistem transportasi massal, muncullah pengusaha-pengusaha yang menyediakan jasa angkutan umum. Mereka membangun usaha mulai satu mobil hingga puluhan.

Kehadiran banyaknya pengusaha angkutan umum membuka peluang orang untuk menjadi sopir. Tanpa perlu mempunyai keterampilan melayani, sepanjang bisa mengendarai mobil dan memiliki surat izin mengemudi, orang bisa menjadi sopir angkutan umum.

Kita bisa melihat angkutan umum yang menjamur luar biasa. Rektor Institut Pertanian Bogor Prof Andi Hakim Nasution pernah berguyon dengan menyebutkan Bogor telah berubah menjadi ‘kota sejuta angkot’. Banyaknya angkot berwarna hijau telah menggeser bemo yang sebelumnya menjadi kendaraan khas Kota Bogor.

Pertumbuhan angkutan kota yang tidak terkelola dengan baik sejak awal menimbulkan masalah. Bukan hanya menyebabkan kemacetan kota yang luar biasa, pelaku usaha angkutan umum juga cepat bergantinya. Apalagi dalam perkembangannya, ekonomi masyarakat meningkat dan banyak yang bisa mengkredit motor. Pengguna angkutan umum banyak berpindah ke sepeda motor dan otomatis penerimaan angkutan kota mulai berkurang.

Kehadiran transportasi daring sebenarnya hanya menambah penderitaan pemilik dan pengemudi angkutan umum. Ketika kelak transportasi daring dianggap sebagai peluang bisnis semata dan dibiarkan merebak seperti sekarang, pasti satu saat juga akan terjadi inflasi dan berpengaruh terhadap kelayakan usaha transportasi daring.

Oleh karena itu, persoalan itu tidak cukup diselesaikan dengan Peraturan Menteri Nomor 32/2017 yang akan berlaku 1 April. Yang tidak kalah pentingnya ditata ialah model ekonomi yang hendak kita bangun. Transportasi hanya salah satu faktor dari bentuk ekonomi itu.

Kita tahu pemerintah sedang gencar membangun transportasi massal. Di Jakarta saja dua tahun lagi akan ada mass rapid transit, kemudian light rail train. Ini akan melengkapi angkutan Trans-Jakarta dan angkutan umum lainnya. Pemerintah harus menghitung jumlah pengguna angkutan umum. Jumlah itu kemudian dibandingkan dengan jumlah transportasi massal yang disiapkan pemerintah. Dari sana akan bisa diketahui kebutuhan angkutan umum yang bisa dikelola masyarakat. Hadirnya transportasi massal seperti MRT dan LRT pasti membuat jumlah angkutan kota menurun drastis. Mulai sekarang pemerintah bisa mempersiapkan bagaimana mengalihkan mereka yang selama ini menjadi sopir angkot. Keterampilan apa yang perlu dipersiapkan ketika mereka harus berpindah profesi.

Semua ini tidak cukup ditangani Kementerian Perhubungan. Dengan jumlah angkot yang berlebihan di banyak kota, pasti ada persoalan sosial yang akan terjadi menghadapi disruption di bidang transportasi ini. Percik­an itu sudah kita rasakan sekarang.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.