Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA menundukkan kepala setelah menerima warta duka beberapa menit setelah KH Hasyim Muzadi berpulang, kemarin pagi. Seorang kawan Nasrani memberi tahu perkabungan itu lewat grup Whatsapp. Saya sebar pula berita perkabungan itu ke beberapa grup Whatsapp lain. Warta duka tokoh NU yang tak pernah lelah bicara soal Islam, keindonesiaan, kebinekaan, dan perdamaian itu, lekas menyebar ke seantero negeri, pastilah pula lintas negeri.
Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (1999-2009) ini wafat di Malang, Jawa Timur, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Ia dikebumikan di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam II, Depok, Jawa Barat. Seluruh prosesi pemberangkatan, penyambutan, dan pemakaman jasad anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2015-2017) dilakukan secara militer. Pusara di Depok ini atas permintaan almarhum sendiri. Ini membuktikan ia memang seorang pendidik dan santri sejati. Hidup dan bahkan matinya pun tetap berada di tengah aktivitas pesantren.
Kita menyaksikan ketika masih di rumah duka di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam I di Malang, dan di peristirahatannya yang terakhir, para penakziah ramai datang dari berbagai wilayah, dari berbagai kalangan. Mereka juga dari lintas agama, lintas mazhab, dan lintas profesi. Mereka hadir sebagai ujud kehilangan yang amat mendalam. Di pusara ini pula kita melihat tokoh Nahdiyin ini sesungguhnya milik bangsa yang bineka ini. Ia kerap memberi nasihat, jadilah orang Indonesia yang beragama Islam. Jangan menjadi orang Islam yang berada di Indonesia.
Al-Hikam pun bermoto, “Amaliah agama, prestasi ilmiah, dan kesiapan hidup.” Karena itu selain bekal ilmu agama dan umum, santri juga dibekali praktik berniaga. Ia bilang, Al-Hikam untuk mendidik anak-anak Indonesia yang dalam keislamannya, tinggi ilmu dunianya, dan sekaligus tebal keindonesiannya.
Hasyim Muzadi saya kira tokoh NU selain Gus Dur yang meneruskan tradisi menjadi garda depan mengembangkan Islam moderat dan Indonesia yang plural. Ia seperti mempunyai neraca yang seimbang antara mencintai Islam, NU, dan Indonesia. Ia mengawali sejak tingkat lokal di Jawa Timur lalu menanjak ke tingkat nasional. Lulusan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, sebelum melanjutkan ke IAIN Malang, tentu punya andil dalam membentuk sikap moderat pilihannya.
Hasyim yang pernah menjabat Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP), juga gigih mengampanyekan toleransi di Indonesia. Ia pun mengkritik pula jika ada orang Indonesia justru bersekutu dengan pihak luar untuk menjatuhkan negeri sendiri. “Kalau lembaga itu berbuat untuk kebaikan Indonesia di mata internasional, itu yang benar,” katanya. Menurut Hasyim, dari pengalamannya berkeliling dunia ia menyimpulkan, tak ada negara secara hukum yang setoleran Indonesia memperlakukan minoritas. Hanya Indonesia, katanya, negara mayoritas muslim yang punya hari besar enam agama jadi hari libur nasional. Pendidikan enam agama juga menjadi kurikulum sekolah. Dengan berbagai bukti itu ia menolak Dewan HAM PBB yang pernah menuding adanya intoleransi agama di Indonesia.
Kepada umat Islam di negara-negara yang mayoritas nonmuslim seperti di Eropa, Hasyim memberi nasihat, jangan melakukan sesuatu di luar kemampuan. Ia meminta mereka tak mengganggu sistem negara. Kepada Nur Misuari, tokoh Islam Filipina Selatan, Hasyim pernah bertanya, “Anda mau beragama atau menjadi kepala negara?”
Ia memang tak menafikan adanya aksi intoleransi dari sebagian umat Islam. Karena itu, ia kerap berada di lapangan untuk mendamaikan. Untuk menyelesaikan masalah. Saya kira secara jelas, Hasyim memang menyatukan mereka yang berbeda, merekatkan mereka yang meregang, meneguhkan yang lemah, dan memberi motivasi mereka yang kehilangan arah. Untuk itu, mari kita tundukan kepala atas kabar duka ini. Semoga paduan jiwa ulama pendidik, dan negarawan Hasyim, menjadi inspirasi serupa api yang terus menyala. Selamat berpulang, Kiai Hasyim. Beristirahatlah dalam damai.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved