Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Selamat Berpulang KH Hasyim Muzadi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/3/2017 05:31
Selamat Berpulang KH Hasyim Muzadi
(MI/ BARY FATHAHILAH)

SAYA menundukkan kepala setelah menerima warta duka beberapa menit setelah KH Hasyim Muzadi berpulang, kemarin pagi. Seorang kawan Nasrani memberi tahu perkabungan itu lewat grup Whatsapp. Saya sebar pula berita perkabungan itu ke beberapa grup Whatsapp lain. Warta duka tokoh NU yang tak pernah lelah bicara soal Islam, keindonesiaan, kebinekaan, dan perdamaian itu, lekas menyebar ke seantero negeri, pastilah pula lintas negeri.

Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (1999-2009) ini wafat di Malang, Jawa Timur, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Ia dikebumikan di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam II, Depok, Jawa Barat. Seluruh prosesi pemberangkatan, penyambutan, dan pemakaman jasad anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2015-2017) dilakukan secara militer. Pusara di Depok ini atas permintaan almarhum sendiri. Ini membuktikan ia memang seorang pendidik dan santri sejati. Hidup dan bahkan matinya pun tetap berada di tengah aktivitas pesantren.

Kita menyaksikan ketika masih di rumah duka di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam I di Malang, dan di peristirahatannya yang terakhir, para penakziah ramai datang dari berbagai wilayah, dari berbagai kalangan. Mereka juga dari lintas agama, lintas mazhab, dan lintas profesi. Mereka hadir sebagai ujud kehilangan yang amat mendalam. Di pusara ini pula kita melihat tokoh Nahdiyin ini sesungguhnya milik bangsa yang bineka ini. Ia kerap memberi nasihat, jadilah orang Indonesia yang beragama Islam. Jangan menjadi orang Islam yang berada di Indonesia.

Al-Hikam pun bermoto, “Amaliah agama, prestasi ilmiah, dan kesiapan hidup.” Karena itu selain bekal ilmu agama dan umum, santri juga dibekali praktik berniaga. Ia bilang, Al-Hikam untuk mendidik anak-anak Indonesia yang dalam keislamannya, tinggi ilmu dunianya, dan sekaligus tebal keindonesiannya.

Hasyim Muzadi saya kira tokoh NU selain Gus Dur yang meneruskan tradisi menjadi garda depan mengembangkan Islam moderat dan Indonesia yang plural. Ia seperti mempunyai neraca yang seimbang antara mencintai Islam, NU, dan Indonesia. Ia mengawali sejak tingkat lokal di Jawa Timur lalu menanjak ke tingkat nasional. Lulusan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, sebelum melanjutkan ke IAIN Malang, tentu punya andil dalam membentuk sikap moderat pilihannya.

Hasyim yang pernah menjabat Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP), juga gigih mengampanyekan toleransi di Indonesia. Ia pun mengkritik pula jika ada orang Indonesia justru bersekutu dengan pihak luar untuk menjatuhkan negeri sendiri. “Kalau lembaga itu berbuat untuk kebaikan Indonesia di mata internasional, itu yang benar,” katanya. Menurut Hasyim, dari pengalamannya berkeliling dunia ia menyimpulkan, tak ada negara secara hukum yang setoleran Indonesia memperlakukan minoritas. Hanya Indonesia, katanya, negara mayoritas muslim yang punya hari besar enam agama jadi hari libur nasional. Pendidikan enam agama juga menjadi kurikulum sekolah. Dengan berbagai bukti itu ia menolak Dewan HAM PBB yang pernah menuding adanya intoleransi agama di Indonesia.

Kepada umat Islam di negara-negara yang mayoritas nonmuslim seperti di Eropa, Hasyim memberi nasihat, jangan melakukan sesuatu di luar kemampuan. Ia meminta mereka tak mengganggu sistem negara. Kepada Nur Misuari, tokoh Islam Filipina Selatan, Hasyim pernah bertanya, “Anda mau beragama atau menjadi kepala negara?”

Ia memang tak menafikan adanya aksi intoleransi dari sebagian umat Islam. Karena itu, ia kerap berada di lapangan untuk mendamaikan. Untuk menyelesaikan masalah. Saya kira secara jelas, Hasyim memang menyatukan mereka yang berbeda, merekatkan mereka yang meregang, meneguhkan yang lemah, dan memberi motivasi mereka yang kehilangan arah. Untuk itu, mari kita tundukan kepala atas kabar duka ini. Semoga paduan jiwa ulama pendidik, dan negarawan Hasyim, menjadi inspirasi serupa api yang terus menyala. Selamat berpulang, Kiai Hasyim. Beristirahatlah dalam damai.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.