Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sahabat Membawa Sesat

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/3/2017 05:03
Sahabat Membawa Sesat
(AP)

MUSTAHILAH kita menubuat diri sendiri agar tragis hidupnya.

Juga Park Geun-hye, presiden perempuan pertama Korea Selatan.

Namun, inilah cerita pahit anak presiden yang mengawali karier politiknya sejak muda, penuh liku, lalu cemerlang, tapi akhirnya tumbang.

Skandal korupsi meluruhkan segala prediksi, juga puja-puji. Park harus angkat kaki dari 'Istana Biru' (Chong Wa Dae), kediaman resminya. Jumat pekan lalu Mahkamah Konstitusi mensahkan pemakzulan yang sebelumnya dilakukan parlemen, Desember tahun lalu.

Park kini tinggal menghitung hari untuk diadili, sebab kekebalan hukumnya telah pula dicabut.

Ia memang disambut ribuan pendungkungnya untuk kembali ke kediaman pribadinya di selatan Seoul, distrik Samseong.

Namun, apa artinya itu semua untuk seorang penguasa yang telah jatuh karena skandal korupsi?

Mereka tak akan mampu memulihkan posisinya yang hilang.

Yang mungkin mereka lakukan hanyalah menghiburnya untuk sementera.

Setidaknya pemakzulan meredakan demonstrasi yang digelar berkali-kali menuntut Park untuk berhenti.

Inilah pelajaran berharga dari Negeri Ginseng.

Salah satu negeri Asia Timur yang melesat ke pentas dunia menjadi negara industri maju dan amat serius memerengi korupsi.

Namun, justru terjerembab karena laku raswah sendiri. Adalah kawan karib Park Geun-hye, yakni Choi Soon-il, yang juga penasihat spiritual sang presiden, menjadi biang keladinya.

Dengan memanfaatkan posisi vitalnya, Choi menekan para pengusaha kakap hingga miliaran won untuk dua yayasan yang ia dirikan.

Choi telah dtangkap dan ditahan.

Kini giliran Park menunggu waktu.

Sejak skandal "Sahabat membawa sesat" ini terkuak, suara pemakzulan memang mulai menggema.

Park pun meminta nasihat parlemen, mengundurkan diri atau dimakzulkan.

Partai oposisi berkeras Park dimakzulkan, partai pemerintah berkeinginan mengundurkan diri.

Desember lalu parlemen pun memberikan suaranya, 234 setuju pemakzulan dan 56 menolak.

Park Geun-hye, lahir 2 Febuari 1952.

Darah biru politik mengalir dari ayahnya, Jenderal Park Chung-hee, presiden ke-3 Negeri Ginseng itu.

Namun, ia tak meniti hidup dengan lempang.

Sang ayah yang berkuasa karena kudeta militer, tewas dibunuh pada 26 Oktober 1979, setelah berkuasa selama 18 tahun.

Lima tahun sebelumnya, sang ibu, Young-soo, juga menemui ajal karena penembakan.

Sepeninggal sang ibu, ia pun menggantikan peran sebagai "ibu negara".

Sepeninggal sang ayah, Park Geun-hye menghilang dari publik.

Insinyur teknik ini kembali setelah 18 tahun absen dari panggung politik.

Pada 1998 ia menjadi wanita pertama di Majelis Nasional Korea Selatan.

Pada 2007, Park maju sebagai kandidat presiden bertarung melawan Lee Myung-bak, pengusaha sukses negeri itu, tapi kalah.

Kekalahan itu terbalas pada Pemilihan Presiden Desember 2012.

Park menang meyakinkan.

Partisipasi pemilih pun melonjak.

Janjinya yang akan tegas memberantas korupsi dan nepotisme, rupanya menjadi jualan politik yang manjur.

Hidup Park yang memilih tetap lajang, kian meyakinkan publik bahwa ia calon presiden paling menjanjikan.

Namun, seperti janji para politisi pada galibnya, ia bagai buih-buih lautan.

Teman sepermainannya sejak kecil, Choi Soon-il, justru jadi malapetaka karier politiknya.

Kita tahu Korea Selatan betapa keras memberantas korupsi, betapa keras memacu diri.

Adalah Samuel P Huntington yang mengidentifikasi Korea Selatan sebagai bangsa yang 'menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin' sebagai kunci kemajuan.

Skandal koruspi tentu menjadi aib dan pukulan serius bagi negeri itu.

Terlebih Park Geun-hye menghipnotis massa karena janji memberantas korupsi.

Nyatanya, korupsi menjeret leher sendiri.

Skandal korupsi karena tak tegas pada sahabat dekat di Korea Selatan bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin di mana pun, juga di Indonesia.

Termasuk Presiden Joko Widodo yang tengah membereskan aneka persoalan.

Tak sedikit cerita pengkhianatan oleh teman dalam kekuasaan.

"Sokong membawa rebah," kata peribahasa Melayu.

Artinya, dikhianati oleh teman sendiri.

Inilah sahabat membawa sesat.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.