Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bertemu setelah Berseteru

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
10/3/2017 05:31
Bertemu setelah Berseteru
(ANTARA FOTO/Setpres/Cahyo Bruri Sasmito)

POLITIK memang tak serupa Sphinx di Mesir yang dingin dan kaku. Politik bisa sepenuhnya lentur seperti tubuh para balerina. Politik juga bisa mengeras pada waktu tertentu dan mencair di saat yang lain. Ia juga bisa saling menyerang pada saat tertentu dan bersekutu pada saat lain. Apa yang dikatakan Jim Henson benar adanya. “If you can’t beat them, join them.” (Jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, bergabung dengan mereka).

Saya tak tahu apakah pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka (9/3), dalam konteks serupa itu: bergabung setelah tak bisa mengalahkan. Tafsir boleh aneka macam. Yang jelas, ini persamuhan telah lama dinanti. Ada banyak cerita yang melatarbelakanginya. Salah satunya, keikutsertaan putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, dalam kontestasi pilkada Jakarta.

Wajar jika persamuhan selama satu jam itu jadi penuh makna. Meskipun suasana tidak secair persamuhan-persa­muhan Jokowi dengan beberapa tokoh lain, keduanya tampak gembira. SBY mengucapkan selamat atas keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (IORA), juga sukses menjadi tuan rumah kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi. Terlebih liburan sang raja di Bali yang semula berakhir 9 Maret diperpanjang hingga 12 Maret.

Kepada Jokowi, SBY mengungkapkan beberapa hal yang selama ini mengganjal. “Insya Allah. Saya senang sekali saya bisa menjelaskan, beliau (Jokowi) mendengar dengan saksama, saya juga mendengar dari beliau. Alhamdulillah, ini awal yang baik karena tidak baik kalau ada miskomunikasi dan misinformasi di antara beliau dan saya,” kata SBY. Untuk memperlancar komunikasi, ia pun mengusulkan ada Klub Presiden dan mantan Presiden, seperti di Amerika Serikat.

SBY juga mendokan agar kabinet Jokowi sukses hingga akhir jabatan. Ia menekan kan, kalau pemerintah sukses, rakyat juga senang. Doa SBY jadi penuh makna karena ada rumor ia bersekutu dengan ‘pihak tertentu’ untuk mengganggu Jokowi. Afirmasi-afirmasi SBY itu jadi penting mengingat selama ini ia merasa menjadi sasaran tembak Istana, terutama keterlibatan mendanai beberapa aksi bela Islam.

Pertemuan Jokowi dan SBY menjadi spesial karena latar belakang serupa itu. Sebab, dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Jokowi sudah berulang kali bersua dan penuh tawa. Di penghujung Oktober tahun lalu, Jokowi bertandang ke kediaman Prabowo di Hambalang. Ada ‘diplomasi naik kuda’ segala. Prabowo membalas sowan ke Istana Istana Merdeka setengah bulan kemudian. Sang tamu pun dijamu makan siang dengan menu ikan bakar. Lagi-lagi, tampak suasana ketawa-ketiwi.

Tiga pekan kemudian, dua seteru sengit pada Pilpres 2014 ini, bertemu lagi. Kali ini pada penutupan Pencak Silat for The World di Denpassar, Bali. Keduanya memakai pakaian hitam-hitam khas pendekar dengan ikat kepala khas Bali. Keduanya amat happy. Bahkan, sebagai Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa, Prabowo mengukuhkan Jokowi sebagai ‘The Great Warrior of Pencak Silat’.

Untuk mendinginkan ketegangan politik, ‘diplomasi meja makan’ ala Jokowi pun terus digelar di Istana. Mereka antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. Jokowi seakan ingin mengatakan, di meja makan semua persoalan bisa diselesaikan. Kenapa, tak ada makan siang dalam pertemuan dengan Ketua Umum Partai Demokrat seperti galibnya pertemuan dengan para petinggi partai lain?

Kita percaya, pertemuan seusai perseteruan (politik) tajam, terlebih dengan ‘berbalas pantun’ untuk berbagai urusan, jelas sebuah oasis. Namun, menjadi kian melegakan jika pertemuan itu dilanjutkan dengan persamuhan Megawati dan SBY. Hubungan dingin sesama mantan presiden yang terus dipelihara ini bukan contoh elok di negeri Pancasila ini. Falsafah negara yang kerap disuarakan keduanya.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.