Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Efek Dramatik KTP-E

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
09/3/2017 05:01
Efek Dramatik KTP-E
(ANTARA FOTO/Feny Selly)

KETUA KPK Agus Rahardjo mengeluarkan pernyataan mengenai dugaan korupsi proyek KTP-E yang bikin publik penasaran. Katanya, mudah-mudahan tidak ada guncangan politik yang besar karena banyak sekali nama yang akan disebutkan di pengadilan. Pengadilan itu digelar mulai hari ini. Akan tetapi, sebelum borok itu 'meletus' di pengadilan, telah marak dari mulut ke mulut penyebutan nama-nama elite politik yang terlibat.

Sejak beberapa hari lalu, misalnya, berseliweran di media sosial dokumen yang berisi sejumlah nama lengkap dengan besarnya uang yang diterima. Ada yang mendapat US$1.400.000 (sekitar Rp18,6 miliar), ada yang 'hanya' US$15.000 (sekitar Rp199,5 juta). Dokumen itu distabilo warna kuning agar tampak mencolok. Mula-mula hanya sehelai dokumen, tapi kemarin beredar dua halaman.

Sekalipun nama-nama itu telah terkuak ke publik, saya tidak ingin menyebut nama-nama yang telah berseliweran ke sana-kemari itu, di forum ini. Kenapa? Pertama, maaf, saya tak ingin termakan 'gorengan' politik pemberitaan KPK. Dokumen yang berseliweran di media sosial, yang diberi stabilo kuning itu, apakah dokumen asli milik KPK? Kalau asli, kenapa KPK tidak risau terjadi pembocoran sebelum dibuka di pengadilan? Kalau palsu, kenapa KPK tidak membantahnya?

Polisi mestinya memburu pembuat dan penyebar hoax itu. Dengan menggunakan ilmu gotak-gatuk, sinyalemen yang paling masuk akal ialah KPK sengaja membocorkannya. KPK melakukan semacam trial balloon, untuk tahu reaksi, sekaligus mengukur apakah bakal terjadi kehebohan. Bisa pula KPK sengaja melakukan promosi murahan agar publik penasaran untuk mengikuti siaran langsung sidang pengadilan yang membeberkan nama-nama itu.

Kemungkinan lain, KPK memang melakukan aji gembos agar ketika nama-nama itu disebut di sidang pengadilan, tidak terjadi guncangan politik yang besar. Jangan salah paham, KPK biasa bikin 'guncangan', tapi bukan guncangan politik, apalagi besar. Kedua, terus terang saya berpandangan KPK kurang 'sportif' menyerahkan penyebutan nama-nama itu keluar dari mulut jaksa penuntut KPK, yaitu ketika dua terdakwa, Irman dan Sugiharto, diadili. Bukan dari pimpinan KPK atau juru bicara KPK, seperti biasanya.

Hemat saya, nyanyian siapa pun di pengadilan, di bawah sumpah sekalipun, tidak cukup sebagai bukti telah terjadi tindak pidana korupsi. Jika KPK punya bukti yang cukup, kenapa nama-nama itu tidak langsung ditetapkan satu per satu sebagai tersangka? Pengadilan Tipikor Jakarta telah mengeluarkan larangan penyiaran secara langsung sidang kasus dugaan korupsi proyek KTP-E itu.

Larangan itu bisa membuat KPK kecele. Sebab, karya besar KPK mengungkap nama-nama, yang disebut dalam dokumen berstabilo kuning itu, bila benar, efeknya kurang dramatis sampai kepada publik karena tidak disiarkan langsung. Publik tidak melihat dan mendengar sendiri secara live. Persidangan itu terbuka untuk umum. Pengadilan memberinya makna bahwa publik dipersilakan datang dan hadir di sidang pengadilan.

Bukan sebaliknya, yaitu sidang pengadilan itu yang didatangkan/dihadirkan kepada publik melalui siaran langsung. Tentu saja dari sudut kebebasan pers dan kepentingan publik, hal itu dapat diperdebatkan. Yang jelas larangan itu menyebabkan publik seluas-luasnya tidak dapat mengikuti secara langsung melalui TV, apakah dokumen yang bocor/dibocorkan itu benar atau tidak.

PPATK diberitakan telah memeriksa aliran dana berkaitan dengan proyek KTP-E itu. KPK berwenang mendapatkannya sehingga KPK punya bukti penguat apakah nama-nama dan uang yang disebut dalam dokumen yang distabilo kuning itu benar atau tidak. Tapi kenapa KPK seperti bersengaja menjadikan pengadilan dua pejabat Kemendagri, Sugiharto dan Irman, sebagai panggung untuk membeberkan secara serentak keterlibatan puluhan nama elite politik?

Kenapa pula Ketua KPK Agus Rahardjo perlu menyongsong panggung pementasan nama-nama itu dengan berkata, mudah-mudahan tidak ada guncangan politik yang besar? KPK lembaga superbodi yang menakutkan. Sesungguhnya dia tidak perlu bergenit-genit mencari efek dramatik melalui pengadilan.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan