Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Membuka Tabir

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/3/2017 05:03
Membuka Tabir
(ANTARA)

ANEKA tabir itu terbuka sudah.

Mungkin tak sepenuhnya, tapi ini jawaban atas syak wasangka, bahkan kecurigaan sebagian dari kita tentang Arab Saudi.

Setelah lawatan resmi di Indonesia (1-3 Maret di Jakarta), kini Raja tengah berlibur di Bali (4-9 Maret), pulau yang berpenduduk mayoritas beragama Hindu.

Di pulau itulah kesenian yang bersumber dari ajaran agama hidup dan berkembang. Kedatangan raja dari negeri berasaskan syariat Islam pun disambut dengan Tari Pendet. Tari yang semula untuk menyambut turunnya para dewa.

Kehadiran rombongan Raja Salman itu dinubuat bakal melonjakkan turis asal Timur Tengah.

Wajar, seperti juga di Jakarta dan Bogor ketika raja baru tiba, ribuan warga Bali juga menyambut Raja penuh takzim.

Jangan lupa, kunjungan keluarga kerajaan superkaya ini (US$1,4 triliun, atau setara Rp18.629 triliun) punya arti ekonomi tinggi.

Rombongan superjumbo dan tinggal selama sepekan.

Hotel tempat mereka menginap di kawasan Nusa Dua ialah hotel serbamewah.

Masih dalam prosesi kedatangan di Bali.

Salah seorang penjemput, selain dari unsur pemerintah, ada tokoh lintas agama, ialah Romo Evensius Dewantara Pr dari Gereja Katolik Paroki Bunda Maria Segala Bangsa, Bali.

Ia menyambut raja dengan bahasa Arab, "Ahlan wa sahlan, ya Malik (Selamat datang, Tuan Raja)."

Raja tertegun seraya memegang jubah Evensius.

Ia pun bertanya, "Anda Katolik, ya?" Pastor ini terkesan atas sikap raja yang terbuka itu.

Raja yang hafiz Alquran ketika berusia 10 dan sebagai Khodimul Haramain (pelayan dua kota suci, Mekah dan Madinah), pastilah paham betul Islam dan Kristen, sebagai sesama agama langit, agama samawi.

Kehangatan masyarakat Bali ini sesungguhnya linier belaka dengan sikap Raja ketika di Jakarta, khususnya saat berdialog dengan puluhan pemuka lintas agama.

Raja ke-7 Arab Saudi sejak didirikan pada 1932 itu meminta Indonesia untuk mengembangkan Islam yang damai, penuh toleransi.

Islam yang rahmatan lil alamin.

Ada yang menautkan kunjungan Raja ke Bali sebagai pesan amat penting untuk 'melawan lupa' bahwa 'Pulau 1.000 Pura' itu pernah diguncang serangan teroris yang mematikan 202 jiwa (12/10/2002) dan yang kedua 23 orang meninggal dan hampir 200 orang luka (1/10/2005).

Dalam pertemuan tokoh lintas agama yang berjumlah 28 orang di Jakarta, selain hadir sembilan tokoh Islam, ada dari Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, masing-masing diwakili empat orang, dan tiga dari Konghucu.

Pertemuan itu sungguh membuka tabir dan mitos bahwa Arab Saudi sebagai negara lahirnya Wahabisme ternyata amat terbuka.

Amat toleran.

Menurut Raja, stabilitas Indonesia merupakan buah dari semangat toleransi tinggi.

"Kita hendaknya dapat bekerja sama untuk terus menjalin komunikasi dengan dialog di antara umat beragama agar dapat memperkuat nilai-nilai toleransi," ujar Salman.

Ia pun akan menghajikan keluarga Densus Antiteror yang gugur dalam tugas.

Bersalaman dengan perempuan yang bukan muhrim, berswafoto dengan Megawati tanpa hijab dan Puan Maharani, direkam saat makan siang bersama Jokowi dalam vlog, menikmati Tari Pendet dan enam hari di Bali, sungguh bukaan tabir yang tak diduga.

Mereka yang selama ini anti-Arab bisa melihat sendiri betapa berubahnya negeri ini.

Bagi pemuja Arab sampai merendahkan negeri sendiri, bahkan menginginkan arabisasi dalam pakaian dan bahasa, ini tentu sikap gagal paham akan negerinya sendiri yang beragam dan multikultur, lihatlah Arab hari ini.

Untuk mereka yang mengaitkan kunjungan Raja untuk menggelontorkan pinjaman tanpa bunga sebesar Rp330 triliun, bisa lihat sendiri.

Sebanyak US$7 miliar untuk investasi itu pun masih dalam bentuk MoU, belum terikat dalam kontrak.

Mustahil negara memberikan pinjaman amat besar tanpa bunga pula, sementara Arab sejak harga minyak mentah jatuh pada 2008 tengah mencari terobosoan pendapatan negara selain minyak.

Pasar minyak Arab Saudi, Amerika Serikat, yang dulu importir kini menjadi net exporter.

Lawatan Raja Salman ke berbagai negara Asia sesungguhnya tengah mencari pembeli baru minyak seperti Tiongkok, India, dan Indonesia.

Adapun isu kedatangan Raja Salman untuk membendung komunisme dari ras kuning (Tiongkok) juga aneh mengingat secara ideologi komunisme sesungguhnya telah bangkrut.

Di Tiongkok komunisme hanya dalam politik, tapi ekonomi mereka sangat kapitalis.

Di Rusia dan bekas Uni Soviet lainnya, komunis tinggal nostalgia. Mendiang Raja Abdullah pada 2006 justru telah berkunjung ke Tiongkok.

Investasi Tiongkok di Arab Saudi juga besar, jika dibandingkan dengan Arab di Tiongkok, hanya seperlimanya.

Apa pun alasannya, harga minyak anjlok atau Presiden Amerika Donald Trump yang antimuslim, faktanya Arab Saudi terdorong mengubah orientasi ekonominya.

Sengaja saya menulis tiga kali kolom ini tentang kunjungan Raja Salman: 'Melawat ke Timur' (28/2), 'Menyambut Raja Salman' (3/3), dan 'Membuka Tabir' (7/3).

Karena Arab Saudi sering kita salah pahami. Benar apa yang dikatakan Sumanto Al-Qurtuby, pengajar antropologi budaya di King Fadh University, Arab Saudi, yang ramai dibincangkan di media sosial: Arab Saudi semakin modern, Indonesia justru semakin 'primitif'.

Dengan terbukanya tabir, mestinya kita lebih bersatu, lebih mencintai negeri sendiri.



Berita Lainnya
  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.