Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Jokowi dan Keindonesiaan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
06/3/2017 05:02
Jokowi dan Keindonesiaan
(AFP)

SUATU hari, dalam suasana gembira, Presiden Jokowi 'menguji' seorang ibu asal Semarang untuk menyebutkan tujuh saja dari 34 provinsi di Indonesia, tetapi yang di luar Jawa, kata Presiden. Tiga provinsi benar.

Yang keempat Lombok. "Lombok itu pulau," kata Presiden. "Madura," jawab si ibu. "Mana ada Provinsi Madura," ujar Presiden.

Hadirin tertawa.

Suatu hari yang lain, Presiden Jokowi meminta seorang anak sekolah untuk menyebutkan tiga nama menteri.

Yang disebut pertama kali Megawati.

Presiden Kelima RI itu turun pangkat menjadi menteri.

Lalu Ahok, kemudian Prabowo. Semuanya ngawur.

Hadirin tertawa, Presiden pun tergelak.

Suatu hari yang lain lagi, Presiden Jokowi menguji seorang anak sekolah untuk menyebut nama-nama ikan.

Kurang lebih, maksud hati menyebut ikan tongkol, lidahnya 'terpeleset'.

Gerrr. Hadirin tertawa.

Sebagai hadiah, Jokowi memberinya sepeda. 'Kisah' itu kemudian menjadi viral yang paling menghibur di media sosial.

Dalam lawatannya ke Australia, Minggu (26/2), Presiden Jokowi bertemu warga Indonesia di Darling Harbour Theatre, Sydney.

Kata Presiden, kalau ke daerah, ia biasanya memberi kuis berhadiah sepeda.

Tak dinyana, tiba-tiba ada yang menyebut 'ikan tongkol'. Tawa pun pecah.

Seorang pemuda Indonesia yang bermukim di Sydney diuji menyebutkan tujuh suku.

Ia berhasil. "Saya kirim sepeda nanti," kata Jokowi. Tawa pun kembali pecah. Ono-ono wae, Presiden kirim sepeda dari Jakarta ke Sydney.

Apa sebetulnya yang sedang dilakukan Presiden Ketujuh RI itu?

Sangat tidak masuk akal, Presiden Jokowi yang pemerintahannya bermoto 'Kerja, kerja, kerja' membuang-buang waktu, memberi kuis berhadiah sepeda.

Apa makna kepublikan semua itu? Presiden Jokowi, dengan caranya yang khas, kiranya sedang 'memotret' keindonesiaan.

Hasilnya, kendati kita sudah merdeka 72 tahun, Sumpah Pemuda dicetuskan 89 tahun lalu, dari segi pengetahuan dasar, yang namanya keindonesiaan masih belum beres.

Buktinya, bagi orang dewasa, menyebutkan dengan benar nama-nama provinsi ialah perkara yang sulit. Itu sama sulitnya menyebut nama-nama menteri dan nama-nama ikan bagi anak sekolah.

Bila pengetahuan dasar keindonesiaan saja belum rampung, terlebih lagi perkara yang mendalam, yaitu tertanam dan dihayatinya Bhinneka Tunggal Ika.

Ikatan yang sangat kuat sesama anak bangsa yang berbeda tapi satu.

Cinta tanah air, bela NKRI, bukan perkara yang jatuh dari langit.

Di satu sisi, orang berpandangan bahwa ikatan yang sangat kuat itu dapat dibentuk melalui pendidikan.

Padahal, di sisi lain, Presiden menemukan fakta, pendidikan nasional sepertinya gagal memberi pengetahuan dasar keindonesiaan.

Kuis keindonesiaan berhadiah sepeda itu dilakukan Jokowi dalam empat lima bulan terakhir ini. Hiruk pikuk mengenai Ahok berkaitan dengan pilkada Jakarta, yang berpotensi memecah belah bangsa yang majemuk ini, kayaknya yang mendorong Presiden Jokowi untuk 'mengecek' pengetahuan dasar keindonesiaan.

Suatu hari, Presiden Jokowi bertanya kepada seorang anak sekolah, berapa 4x2? Anak itu tak bisa menjawabnya.

Presiden 'menurunkan' tingkat kesulitan soal, berapa 2x2? Dijawab: 4. Sekarang, berapa 4x2? Anak itu tetap tak dapat menjawabnya.

Tanpa banyak berteori, tak berwacana tinggi-tinggi, Presiden Jokowi menunjukkan kenyataan bahwa kita punya dua pekerjaan besar, yaitu keindonesiaan anak bangsa dan kecerdasan anak bangsa.

Dua pekerjaan besar yang tidak dapat diselesaikan dalam tempo pendek, terlebih bila energi bangsa dihabiskan untuk gontok-gontokan.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan