Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Arab Saudi

Suryopratomo
04/3/2017 06:05
Arab Saudi
(ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

ERA keemasan minyak tampaknya mulai berakhir.

Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar dunia paling terpukul oleh anjloknya harga minyak dari US$100 menjadi di bawah US$40 per barel.

Tahun lalu defisit anggaran negara itu mencapai 15% dari produk domestik bruto.

Langkah penghematan terpaksa mereka lakukan.

Dalam lima tahun--sejak 2016--gaji para pejabat negara dipotong 20%.

Bonus-bonus dihapuskan. Harga bahan bakar minyak dan listrik dinaikkan.

Dana Moneter Internasional menilai langkah drastis yang dilakukan Raja Salman merupakan keputusan yang tepat.

Dengan langkah penghematan itu, perekonomian Arab Saudi tahun ini diperkirakan bisa kembali tumbuh positif meski kecil, yaitu 0,2%.

Tidak hanya langkah penghematan, Arab Saudi mengubah arah pembangunan mereka.

Dengan program yang disebut Visi 2030, Arab Saudi tidak lagi akan menumpukan perekonomian mereka kepada minyak, tetapi kepada industri dan investasi.

Dalam wawancara dengan Bloomberg akhir tahun lalu, Wakil Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman menjelaskan Arab Saudi akan membentuk sovereign wealth fund (SWF).

Tidak tanggung-tanggung, SWF akan menggaet dana investasi publik US$2 triliun atau bahkan mendekati US$3 triliun.

Kalau bisa direalisasikan, SWF Arab Saudi akan menjadi yang terbesar di dunia. Sekarang ini SWF terbesar dimiliki Norwegia dengan modal sekitar US$850 miliar.

Pangeran Muhammad menjelaskan langkah itu akan dimulai dengan menjual 5% saham perusahaan minyak negara, Aramco, pada 2018.

Dengan dana lebih dari US$2 triliun, SWF Arab Saudi akan bisa membeli perusahaan apa pun termasuk empat perusahaan besar dunia seperti Apple dan Google.

Arab Saudi sudah mulai melakukan langkah untuk berinvestasi ke luar. Mereka membeli 38% saham perusahaan Korea Selatan, Posco Engineering and Construction, senilai US$1,1 miliar.

Arab Saudi setuju untuk membuat perusahaan patungan dengan modal US$10 miliar di Rusia.

Banyak yang mengatakan ambisi Arab Saudi ini terlalu tinggi.

Namun, mereka tidak peduli dan tetap jalan dengan rencana besar mereka.

Untuk bisa menggapai harapan itu, pemerintah Riyadh mendatangkan orang terbaik dunia yang paham tentang pasar modal, private equity, dan risk management.

Kalau sekarang melirik Indonesia, Arab Saudi ingin melihat prospek yang ada di sini. Kalau ada aset yang baik, bukan mustahil mereka akan membeli sahamnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mereka juga bisa membuat perusahaan baru di sini.

Sekarang tentu terpulang kepada kita, investasi dan kerja sama seperti apa yang diharapkan dengan Arab Saudi.

Sepanjang itu feasible dan menguntungkan, pasti mereka tidak ragu untuk masuk Indonesia.

Persoalan yang sering terjadi pada kita ialah tidak jelas apa yang kita inginkan.

Kita begitu menggebu-gebu di awal dan berupaya memberikan berbagai kemudahan. Apa pun yang diminta investor ibaratnya selalu diberikan.

Namun, begitu investasi sudah berjalan dan memberikan keuntungan, sikap kita lalu berubah.

Tanpa melalui peta jalan yang jelas dan berjangka panjang, kita mengubah peraturan sesuai dengan apa yang kita maui.

Ketidakmampuan untuk membuat aturan main yang jauh ke depan membuat banyak investor merasa dikecewakan.

Apalagi ketika isu itu dikemas dengan pendekatan nasionalisme dan xenofobia.

Ini yang membuat investor semakin takut.

Apabila sekarang kita berharap kerja sama ekonomi dengan Arab Saudi bisa berjalan, pendekatannya haruslah dengan kacamata bisnis.

Dalam berbisnis itu yang harus diterapkan prinsip 'My word is my bond'.

Ucapan kita harus bisa dipegang karena bisnis tidak mungkin berjalan tanpa kepercayaan.

Satu hal lain yang harus dipahami, kita hidup di dunia yang terbuka.

Seperti halnya kita, Arab Saudi pun bisa berbisnis dengan siapa saja. Mereka hanya mau berbisnis dengan negara yang memang bersungguh-sungguh membangun bisnis yang sehat.


Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan