Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
LAPORAN tentang kekayaan empat orang kaya yang setara dengan kekayaan 100 juta orang termiskin membukakan mata tentang kesenjangan yang kita hadapi. Kita membutuhkan sistem keadilan sosial yang bisa mencegah jurang antara si kaya dan si miskin terlalu lebar. Penyebab persoalan ini tidaklah tunggal. Akses kepada sumber ekonomi hanyalah satu faktor. Faktor yang lain adalah pendidikan dan kesehatan.
Kita tahu rata-rata pendidikan orang Indonesia hanya sekitar 7,8 tahun, sehingga banyak warga yang pendidikan sekolah menengah pertama pun tidak selesai. Tidak usah heran apabila kemiskinan pada kelompok bawah seperti lingkaran setan. Ketika sang ibu pada saat hamil kekurangan gizi, perkembangan otak janin tidak normal. Sesudah lahir, asupan makanan sang bayi pun tidak memadai.
Apalagi keluarga itu kemudian tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Ketika mereka dewasa dan hidup berkeluarga, keluarganya pun pasti terjerat kemiskinan lagi. Lingkaran setan ini tidak mungkin bisa diputus, apabila tidak menggunakan usaha khusus. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mencoba membuat terobosan dengan mempertemukan keluarga miskin itu dengan keluarga yang mampu. Gerakan kepedulian sosial dicoba dipakai untuk mengangkat keluarga tidak mampu dari jerat kemiskinan.
Negara sendiri menggunakan pajak sebagai alat untuk mendistribusikan kemakmuran. Rakyat diminta membayar pajak sesuai dengan kemampuannya. Sistem pajak yang berlaku pada kita sekarang memang bersifat progresif. Semakin tinggi pendapatannya, semakin besar pajak yang dibayarkan. Sekarang ini pemerintah gencar untuk meningkatkan penerimaan pajak. Tahun ini target penerimaan pajak ditetapkan sekitar Rp1.300 triliun.
Dibandingkan dengan produk domestik bruto, penerimaan pajak kita hanya 11%. Pemerintah berharap pada 2019 nanti, rasio pajak bisa ditingkatkan menjadi 14%. Memang kepatuhan pajak menjadi satu masalah. Tetapi masalah yang lain adalah banyaknya warga yang belum terjangkau pajak. Sayangnya untuk mengejar target pajak, yang diburu adalah mereka yang sudah membayar pajak.
Prinsip ‘berburu di kebun binatang’ membuat orang yang sudah membayar pajak merasa terbebani dan akhirnya malah mencoba menghindar. Sekarang ini mencuat banyak isu berkaitan dengan pajak. Yang menonjol adalah soal ketidakpastian dan ketidakadilan. Salah satu dihadapi oleh perusahaan migas Chevron. Mereka tiba-tiba ditagih pajak sebesar US$ 130 juta atas transaksi yang terjadi pada 2011. Padahal pada 2012 mereka sudah mendapatkan surat dari Kantor Pajak bahwa transaksi mereka tidak terkena Peraturan Menteri Keuangan yang berlaku mulai 2012.
Isu ini sampai mengundang pertanyaan Dubes AS kepada Menteri Luar Negeri Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah soal kepastian, karena keputusan yang bisa berubah tiba-tiba. Di sisi lain kita melihat ada surat ketetapan pajak yang bisa berubah dari keharusan membayar menjadi tidak membayar hanya karena kekuatan yang menjual nama kekuasaan. Sekarang ini sedang mencuat dalam persidangan kasus suap pajak yang melibatkan adik ipar Presiden Joko Widodo.
Belum lagi persoalan penggunaan dana perolehan pajak untuk kepentingan pribadi. Upaya untuk menggumpulkan penerimaan pajak melalui amnesti pajak menimbulkan moral hazard. Kasus ini sedang didalami oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Upaya besar kita untuk mengurangi kesenjangan seringkali dirusak tindakan koruptif. Ini penyakit yang sudah terjadi sejak zaman Orde Baru.
Upaya kita untuk menggumpulkan sen demi sen pajak, tidak dipakai untuk mendistribusikan kemakmuran, tetapi hanya memperkaya kelompok kepentingan. Reformasi ternyata tidak kunjung membuat kita berubah. Sikap mementingkan diri sendiri tetap begitu kuatnya. Tertangkapnya pelaku korupsi tidak membuat orang jera. Tidak usah heran apabila kemiskinan tidak kunjung bisa dientaskan dan malah semakin parah. Inilah pekerjaan terberat reformasi pajak yang sedang digagas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved