Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Tabiat Reaksioner

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
27/2/2017 05:31
Tabiat Reaksioner
(thinkstock)

JIKA otoriter kebablasan, apa jadinya? Diktator. Masih juga kebablasan, apa jadinya? Totaliter. Jawaban yang dapat diperdebatkan, kecuali esensi yang sama, yaitu kian punahnya hak-hak asasi warga. Apa jadinya bila demokrasi (kita) kebablasan? Jawab Presiden Jokowi: liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisne, terorisme, serta ajaran lain yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Jawaban itu merujuk kepada praktik demokrasi politik empat-lima bulan terakhir yang, kata Presiden, telah membuka peluang bagi artikulasi politik yang ekstrem. Yang terjadi ialah politisasi SARA, fitnah, kebencian, saling menghujat, yang menghabiskan energi, yang bila tidak dihentikan, bisa memecah belah bangsa. Sebaliknya, bila mampu mengatasinya, bangsa ini kian dewasa, matang, tahan uji.

Penilaian perihal demokrasi kebablasan itu menjadi topik yang sangat hangat, sampai-sampai ada elite oposisi yang menilai Jokowi telah berubah dari presiden menjadi pengamat. Padahal, di luar ranah eksekutif, presiden tidak bisa lain, kecuali paling jauh cuma jadi pengamat. Lebih daripada itu, presiden menjadi kebablasan. Topik demokrasi kebablasan itu masuk ke ruang publik yang lebih luas, mengalahkan topik mengatasi kesenjangan, topik membangun negara dari pinggiran/perbatasan, yang juga disampaikan Presiden Jokowi dalam pidato yang sama di acara pelantikan pengurus baru Partai Hanura.

Dalam kesempatan itu Presiden bahkan menayangkan sebuah slide berisi perubahan besar yang terjadi di Entikong, perbatasan Indonesia-Malaysia. Namun, semua itu tenggelam oleh seksinya demokrasi kebablasan. Sebagai jurnalis yang menikmati kebebasan pers, salah satu sendi demokrasi, saya menerima penilaian demokrasi kebablasan, dengan pengecualian.

Di manakah persisnya demokrasi kita kebablasan? Hemat saya, demokrasi kebablasan itu tidak meliputi seluruh Indonesia, tidak terjadi merata di mana-mana, dan tidak pula melanda semua sendi kehidupan berdemokrasi. Dalam konteks pusat-pinggiran, demokrasi kebablasan dengan artikulasi politik SARA itu sesungguhnya hanya menyangkut pilkada di pusat. Jakarta itu pusat, tetapi bukan satu-satunya Indonesia.

Indonesia di tengah, juga di pinggiran dan di perbatasan, kiranya tidak mengalami demokrasi kebablasan. Yang demokrasinya kebablasan itu ialah di pusat, oleh elite kekuasaan di DPR yang menjadikan parlemen bertabiat reaksioner. Kebablasan itu diperlihatkan antara lain terpikir untuk membuat pansus demi urusan membela orang yang disangka makar, dan yang sekarang digelindingkan hak angket untuk menonaktifkan sementara Ahok dari jabatan Gubernur Jakarta, yang kembali disandangnya setelah cuti.

Ahok sedang diadili. Presiden telah meminta fatwa kepada Mahkamah Agung, dengan jawaban bahwa MA tidak campur tangan terhadap perkara yang sedang diadili. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun menjawab gamblang di DPR, ia membela Presiden, dan bersedia dicopot dari jabatannya. Manakah yang lebih hebat, kedudukan Ketua DPR atau Gubernur Jakarta?

Saya hanya ingin mengutip secuil sejarah Akbar Tandjung (2002) yang menjadi terdakwa kasus penyelewengan dana nonbujeter Bulog, tetapi ia tidak mundur dan tidak pula nonaktif dari jabatannya selaku Ketua DPR. Ia tetap duduk dalam jabatan publik itu sekalipun pengadilan negeri dan pengadilan tinggi menghukumnya, sampai putusan kasasi berkekuatan hukum tetap, yang diputuskan MA, membebaskan Akbar Tandjung.

Ahok lolos pilkada Jakarta putaran kedua dengan suara terbanyak (42,96%). Bila itu terjadi di pilkada di provinsi di tengah, di pinggiran, atau di perbatasan, ia telah menjadi gubernur terpilih. Akan tetapi, dalam pilkada di pusat, berlaku ketentuan harus meraih lebih dari 50% sehingga Ahok melalui putaran kedua. Tuntutan politik terhadap Ahok pun berubah, dari tuntutan di jalanan agar diadili (yang sedang berlangsung), menjadi tuntutan elite bertabiat reaksioner di DPR agar ia dinonaktifkan dari jabatan gubernur yang sah masih disandangnya.

Di tengah hiruk pikuk perkara Ahok, partisipasi pilkada Jakarta putaran pertama mencapai 77,1%, menunjukkan tingginya kepercayaan warga Jakarta kepada demokrasi. Bapak Presiden yang terhormat, yang demokrasinya kebablasan itu kiranya cuma elite politik di DPR, yang sekarang menggunakan hasil pilihan rakyat itu dengan cara kebablasan memakai hak angket DPR, membuat parlemen bertabiat reaksioner.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan