Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Perekat Umat

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
21/2/2017 05:30
Perekat Umat
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

MASJID Istiqlal kini tengah menyambut milad yang ke-39. Ahad lalu, misalnya, beberapa relawan dari lintas agama bergelantungan dengan tali-tali karmantel membersihkan menara masjid yang total tingginya mencapai 96,66 meter. Sementara itu, tinggi tubuh menara yang berlapis marmer itu 6.666 cm (sesuai dengan ayat Alquran). Kubahnya bergaris tengah 45 meter dan ditopang 12 pilar raksasa serta 5.138 tiang pancang.

Tiang pancang masjid yang digagas pada 1950 itu mulai dipasang pada 1961. Istiqlal yang berarti kemerdekaan dibangun di atas tanah seluas 9,5 hektare, diapit dua kanal Kali Ciliwung, tak jauh dari Istana Presiden. Penggunanan masjid yang berhadapan dengan Gereja Katedral itu diresmikan Presiden Soeharto, 22 Fabruai 1978. Inilah masjid yang dimaksudkan sebagai simbol kerukunan umat beragama di Indonesia.

Istiqlal ialah karya Frederich Silaban, arsitek beragama Kristen Protestan yang memenangi sayembara desain maket pada 1955. Presiden Soekarno, sang ketua dewan juri sayembara, begitu memuji karya putra Batak itu. Karya berjudul Ketuhanan itu terpilih di antara 30 desain yang masuk. Anak pendeta miskin itu berhak mendapatkan hadiah Rp25 ribu. Bung Karno pun menjuluki pria kelahiran 1912 itu sebagai By the Grace of God.

Silaban mengaku karyanya asli, tak meniru arsitek mana pun. Istiqlal yang megah dan sejuk meski tanpa alat pendingin mampu menampung 200 juta jemaah. Masjid ini pula yang sejak 4 November 2016 menjadi basis berkumpulnya massa yang menggelar Aksi Bela Islam. Aksi berikutnya dilakukan pada 2 Desember yang dilanjutkan salat Jumat di wilayah Monas di tengah guyuran hujan.

Sehari menjelang masa tenang pilkada DKI Jakarta, pada 11 Februari massa kembali ke Istiqlal, dalam ibadah zikir, salat subuh berjemaah, dan tausiah. Aroma politik pun tak bisa dihindari. Hadir dalam acara itu pasangan calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan pasangan calon Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno. Meskipun Kapolri Tito Karnavian telah mewanti-wanti tak boleh ada aktivitas politik dengan bungkus ibadah, nyatanya itu sulit dipatuhi.

Tetap saja ada penceramah yang lantang menyeru kepada umat Islam agar memilih pemimpin muslim, bahkan mengajak peserta aksi bersumpah bersama untuk memenangkan gubernur bukan Basuki. Padahal, pada pilkada serentak 2017, sedikitnya ada lima pasangan calon beragama Nasrani yang didukung beberapa partai berbasis Islam. PKS, PPP, dan PKB, misalnya, mendukung pasangan calon Gubernur Papua Barat Irene Manibuy-Abdullah Manaray.

Rupanya itu tak berlaku untuk DKI Jakarta. Bukankah beberapa kepala daerah nommuslim di berbagai daerah yang mayoritas beragama Islam juga didukung partai-partai berbasis Islam dan pemilih muslim? Ketika terpilih menjadi Bupati Belitung Timur pada 2005, bukankah Basuki juga dipilih mayoritas muslim? Tentu ada yang perlu diapresiasi pada setiap aksi di Istiqlal. Setidaknya itu bisa lebih sejuk jika dibandingkan dengan aksi di tempat-tempat terbuka, seperti di depan istana.

Sayangnya, pengusiran dan kekerasan terhadap wartawan terjadi sedikitnya dua kali di wilayah Istiqlal, lokus yang mestinya menghadirkan kedamaian. Ketika baru diangkat menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar bertekad menjadikan Istiqlal sebagai tempat perekat umat. Namun, mencermati aksi bertubi-tubi yang menuntut Basuki dipenjara, dan selalu mengunakan Istiqlal sebagai basecamp, tentu itu berpotensi mendegradasi makna dan tujuan Istiqlal itu sendiri.

Sebagian umat Islam, yang tak sependapat aksi-aksi melawan Basuki yang menggunakan Istiqlal, tentu akan merasa tak nyaman. Sementara itu, umat beragama lain akan melihat Istiqlal sebagai basis perlawanan terhadap calon pemimpin nonmuslim. Istiqlal yang dibangun menggunakan anggaran negara harusnya menjadi milik seluruh umat Islam Indonesia. Tak boleh menjadi milik umat Islam tertentu saja.

Banyak kalangan berharap Istiqlal menjadi episentrum ibadah, dakwah, dan pemikiran Islam yang benar-benar merepresentasikan Islam sebagai rahmatan lil'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Istiqlal yang usianya menjelang empat dasawarsa harusnya kian memancarkan kedamaian, tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga umat beragama lain. Nasaruddin Umar sebagai sosok Islam modern yang melintasi aneka mazhab harus mampu mewujudkannya.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan