Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Antasari dan SBY

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
16/2/2017 05:31
Antasari dan SBY
(Antara Foto)

ANTASARI Azhar dan SBY berperang di ranah hukum. Yang satu mengejar kebenaran, yang lain menangkis tuduhan telah memanipulasi kebenaran. Antasari Azhar ialah ketua KPK yang ke-2. Ia menduduki jabatan itu sekitar 2 tahun. Dia berkarier selaku jaksa bertahun-tahun. Jelaslah bahwa Antasari tahu benar perihal hukum. Dalam usia 64 tahun, ia tentu tahu pula apa artinya mengejar kebenaran dalam sisa hidupnya.

Siapa tak kenal SBY, Presiden RI 10 tahun? Ia bergelar doktor, pernah menjadi menteri pertambangan dan energi, menko polkam, serta Ketua Umum Partai Demokrat. Dia jenderal TNI-AD yang pernah menjadi komandan korem, pangdam, dan kepala staf sosial politik ABRI. Jelaslah pula bahwa SBY tahu benar makna penegakan hukum. Dalam usia 67 tahun, ia pun tahu betul apa artinya menangkis tuduhan memanipulasi kebenaran dalam sisa hidupnya.

Antasari menuding bahwa SBY merupakan inisiator kriminalisasi terhadap dirinya yang dihukum penjara berkaitan dengan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Sebelumnya, KPK yang kala itu dipimpin Antasari menangkap Aulia Pohan, besan SBY, yang kala itu presiden RI (2009). SBY membantah tudingan Antasari itu dan menyebutnya sebagai fitnah. Masing-masing melapor ke Bareskrim Polri, dan pecahlah perang di ranah hukum.

Perang mengejar kebenaran itu kiranya menyenangkan hati publik dengan satu tujuan kebajikan, yakni siapakah yang berbuat jahat? Kehebatan pertanyaan itu bertambah-tambah, karena di situ diasumsikan, tepatnya disangkakan, kekuasaan berperan. Dari sisi Antasari, SBY sebagai presiden menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan Antasari sebagai penjahat.

Dari sisi SBY, Antasari menuduhnya sebagai penjahat karena didukung yang berkuasa sekarang, yang memberi grasi kepada Antasari. Mencari kebenaran biasanya hak orang lemah. Mereka mencari karena tak punya napas panjang untuk mengejar. Pencarian kebenaran itu kerap berakhir dengan ketidakberdayaan, keputusasaan, atau kepasrahan bahwa Tuhan tidak tidur. Menjadi ketua KPK bukan orang lemah, apalagi menjadi presiden RI 10 tahun. Di level mereka, bukan lagi mencari kebenaran, melainkan 'adu napas' mengejar kebenaran hingga tertangkap.

Puncaknya, terbuktilah di muka hukum siapakah yang sesungguhnya dan senyatanya benar-benar penjahat. Kepastian di muka hukum itu menjadi kepedulian publik karena publik tidak tahu siapakah di antara Antasari dan SBY yang mendengarkan hatinya kepada kebenaran.

Antasari menuntut kejujuran SBY, sebaliknya SBY pun menguji kejujuran Antasari dengan saling membawa perkara ke Bareskrim Polri. Siapakah yang mengintai orang yang tidak bersalah? Siapakah yang berbuat jahat? Kebenaran tidak hilang, tidak pula bersembunyi. Karena itu urusan bukan mencari kebenaran. Kebenaran kiranya berlari kencang, amat kencang, sehingga perlu dikejar sampai ngos-ngosan.

Siapa yang habis-habisan mengejar kebenaran bila bukan orang benar? Antasari dan SBY telah menjadi kakek. Mengutip nasihat orang suci, mewariskan kebenaran kepada anak cucu merupakan mahkota orangtua. Siapakah di antara mereka yang punya mahkota itu? SBY Presiden RI 10 tahun. Apakah ia mewariskan kebenaran untuk rakyatnya? Apakah ia bermahkota sebagai orangtua rakyat? Kejarlah kebenaran hingga ke ujung dunia.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan