Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Investasi

27/5/2015 00:00
Investasi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

SALAH satu kelemahan kita sebagai bangsa ialah keberanian menerima kenyataan. Kita kerap menyangkal sebuah fakta sehingga akibatnya sulit memperbaiki kekurangan. Misalnya soal investasi.

Memang benar Indonesia salah satu negara yang menarik untuk berinvestasi. Tetapi mengapa realisasi investasi rendah dan banyak yang kecewa setelah masuk Indonesia?

Hasil survei sebuah lembaga internasional menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling rumit untuk memulai investasi. Kita berada di urutan ke-155 dari 189 negara, sedangkan Singapura di urutan pertama.

Izin mendirikan bangunan di urutan 153, kerumitan membayar pajak di posisi 160, penghormatan terhadap kontrak di posisi 172. Kalau kita sampaikan hasil survei tersebut, pasti kita mengatakan itu keliru. Kita menyangkal sebagai negara yang tidak bersahabat terhadap investasi.

Kita keberatan dikatakan sebagai negara yang tidak menghormati kontrak dan dengan cepat menyebut investorlah yang tidak menghormati kontrak. Coba bandingkan dengan Jepang dalam menangani kontrak atau kerja sama.

Indonesia selalu cepat dalam membahas perjanjian kerja sama dan langsung menandatanganinya. Jepang sebaliknya, terkenal detail sampai hal-hal yang kecil ditanyakan.

Bagi Jepang, isi perjanjian harus jelas maksudnya dan tidak boleh ada interpretasi yang berbeda-beda. Begitu kesepakatan ditandatangani, Jepang selalu cepat melaksanakannya karena menganggap semua sudah jelas. Kita kerap lamban menjalankan karena baru kemudian menyadari banyak hal yang dirasa merugikan kita.

Mengapa negara-negara Indo-China seperti Vietnam, Kamboja, dan Myanmar pesat mengatasi ketertinggalan? Karena mereka jelas akan arah pembangunan yang mereka inginkan. Meski dulu negara sosialis, mereka tidak mengenal xenofobia. Lihat saja pembangunan bandar udara di Ho Chi Minh City, Vietnam. Karena mereka sadar akan kelemahannya, Vietnam tidak kecil hati untuk menyerahkan proyek kepada perusahaan Jepang.

Bahkan untuk investasi di industri semen, karena merasa belum menguasai know-how, mereka undang PT Semen Indonesia untuk masuk ke Thang Long.

Kalau sekarang kita ingin memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat, tidak ada pilihan lain kita harus mendorong investasi. Namun, kita harus berketetapan hati mengundang investasi masuk. Jangan setengah hati dan kemudian kita memusuhi pengusaha. Sikap setengah hati dan xenofobia membuat kita tertinggal dari negara lain.

Di kolom ini saya pernah membahas pembangunan ekonomi di Polandia. Setelah Revolusi 1989 yang membawa Polandia masuk era demokrasi, arah pembangunannya sangat jelas.

Seperti halnya pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, mereka 'tidak peduli kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus'. Kini kita hidup di era demokrasi dan keterbukaan ekonomi. Namun, sikap kita terhadap investasi kerap lebih mundur ketimbang era Orde Baru.

Setelah reformasi 1998, ekonomi kita lebih ditopang konsumsi masyarakat daripada investasi karena kita selalu berubah sikap terutama terhadap investasi asing.

Kalau Presiden Joko Widodo ingin mendorong investasi, yang harus diklarifikasi apa maunya kita sebagai bangsa. Presiden sudah membuka diri kepada investasi Jepang dan Tiongkok. Jangan kelak kalau investasi mereka berkembang, kita merasa kerja sama itu merugikan. Lebih baik kita pikirkan dulu sekarang agar tak menyesal di kemudian hari.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.