Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kultur

08/2/2017 05:31
Kultur
(thinkstock)

ADA dua hal yang diingatkan Presiden Joko Widodo kepada jajaran pemerintah di awal 2017. Pertama, kebijakan yang dijalankan harus berorientasi mengurangi kesenjangan. Kedua, perlunya terus mengomunikasikan kebijakan pembangunan agar masyarakat mengerti ke mana arah pembangunan yang akan dilakukan dan tahu kemajuan yang sudah dicapai. Bukan baru pertama kali seorang presiden mengingatkan peran yang harus dijalankan jajaran birokrasi. Namun, semua itu tidak pernah mengubah sikap dan perilaku jajaran pemerintah.

Tentu menjadi pertanyaan, mengapa hal seperti ini terjadi? Seorang ahli manajemen mengatakan, semua ini disebabkan ketidakmampuan jajaran pemerintah menerjemahkan kultur institusi. Ketika kultur institusi tidak diterjemahkan ke dalam aksi, itu tidak mungkin menjadi kebiasaan.

Contoh yang paling sederhana ialah slogan yang ada di institusi kepolisian. Dua kata besar yang selalu terpampang 'Melindungi dan Melayani'. Itu merupakan kultur institusi yang berlaku di seluruh kepolisian dunia, to protect and to serve.

Pertanyaannya, ketika malam hari kita sedang berjalan atau berkendaraan diberhentikan polisi, apakah kita merasa 'terlindungi atau terlayani?' Kita pasti akan merasa takut dan bertanya-tanya, 'apa kesalahan saya?' Semua itu terjadi karena tidak semua anggota polisi memahami kultur institusinya. Refleksi yang ditunjukkan bukan 'melindungi dan melayani', melainkan justru sebaliknya. Akibatnya, ketika masyarakat berhubungan dengan polisi yang muncul justru rasa ketakutan.

Lalu, bagaimana memperbaiki kultur dari jajaran pemerintah? Harus ada kemauan dari pimpinan lembaga untuk membumikan kultur institusinya. Bahkan, kemudian dicontohkan bagaimana jajaran pemerintah itu menjadi 'pelayan masyarakat' bukan sebaliknya 'minta dilayani masyarakat'.

Selama ini jajaran pemerintah tidak menerjemahkan kultur institusi untuk bersikap sebagai abdi masyarakat, tetapi memimpikan sebagai ambtenaar. Itulah bayangan orang pribumi di zaman penjajahan Belanda, yaitu sebagai pegawai pemerintah Belanda, mereka bisa memakai jas warna putih-putih, topi baja putih, dan naik sepeda. Para ambtenaar umumnya hidup berkecukupan dan dihormati rakyat.

Meski kita sudah 71 tahun merdeka, tetapi kultur itu belum berubah. Para pejabat pemerintah dan birokrasi cenderung ingin dihormati rakyat. Celakanya penghormatan itu bukan didapat karena kinerjanya, melainkan karena masyarakat dibuat tergantung kepada mereka. Tidak usah heran apabila muncul pameo, "kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dibuat mudah?”

Seperti zaman penjajahan Belanda dulu, kemudian muncullah yang namanya upeti. Kalau di zaman sekarang namanya menjadi 'uang pelicin' atau 'pungutan liar'. Rakyat tidak pernah bisa mendapatkan pelayanan publik yang baik kalau tidak mengeluarkan uang. Sikap yang mengartikan kekuasaan sebagai hak istimewa, power is privileged itulah yang melahirkan budaya korupsi sekarang ini.

Perlu ada kemauan besar kalau kita ingin membangun sebuah kultur baru yang lebih melayani. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencoba memulai dengan mengundang pejabat eselon 2 ke atas untuk berkumpul di Jakarta awal tahun ini. Kepada seluruh jajarannya, Sri Mulyani menjelaskan tentang arah pembangunan yang akan dilakukan dan peran yang harus dijalankan seluruh jajaran Kementerian Keuangan di seluruh Indonesia.

Menkeu menegaskan dirinya bukan pejabat negara yang harus dihormat-hormati. Ia menempatkan sebagai pelayan bagi para pegawai di Kementerian Keuangan dan juga masyarakat. Sri Mulyani mempersilakan seluruh jajaran untuk bertanya apabila ada hal yang belum dipahami dari tugas yang harus dijalankan jajaran birokrasinya.

Ini merupakan awal yang baik. Namun, tentu belum cukup ketika itu belum menjadi tindakan yang dilaksanakan. Apalagi, ketika itu diharapkan menjadi kebiasaan yang melayani masyarakat. Namun, kita harus berupaya untuk menjadikan birokrasi sebagai penggerak kemajuan Indonesia karena merekalah yang menetapkan berbagai aturan agar kita menjadi bangsa yang tertib.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan