Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Khawatir Benar

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/2/2017 05:31
Khawatir Benar
(ANTARA FOTO/Reno Esnir)

PILKADA Jakarta, juga 100 pilkada lainnya, kian dekat. Namun, gerak hari penentuan menuju 15 Februari itu terasa melambat. Seluruh hari menjadi penantian yang oleh sebagian masyarakat terasa mendebarkan. Ketegangan-ketegangan apa lagi yang akan terjadi? Berapa banyak lagi energi yang harus dibuang untuk saling menyerang dan berebut ‘kebenaran’?

Jika dilihat dari sisi ini, demokrasi memang jadi melelahkan. Sungguh, pun saya tak bersetuju dengan pendapat MUI yang mengatakan Ahok menista agama dan ulama, tapi saya menghormatinya. Menghormati pendapat dari sebuah lembaga resmi dan dihormati. Meski berkali-kali dibantah oleh MUI, fatwa itu murni soal agama, bukan politik, banyak pihak merasakan aroma politik itu.

Karena itu, pengadilan memang yang mempunyai hak untuk membuktikan agar kebenaran punya tempatnya yang agung. Akan tetapi, pengadilan pun menjadi ajang pengerahan massa yang luar biasa. Sejak Ahok menjadi terdakwa, sidang pertama 27 Desember tahun lalu hingga sidang ke-8, pada 31 Januari silam, adu massa tak berhenti meski tak seramai semula. Pada sidang ini pula kegaduhan baru muncul.

Hari itu Ketua MUI Ma’ruf Amin yang juga Rois Am PBNU dihadirkan jaksa menjadi salah satu dari lima saksi. Ma’ruf berkukuh pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang menemui Ma’ruf pada 7 Oktober 2016 tak terkait dukungan. Salah seorang tim pengacara Ahok, Humphrey Djemat, mempertanyakan telepon pada 6 Oktober 2016 yang berisi intruksi mantan Presiden SBY untuk mengamankan dukungan kepada Agus-Sylvi.

Selain itu, juga permintaan SBY agar MUI menerbitkan sikap keagamaan bahwa Ahok menista agama. Humprey mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali dan Ma’ruf tetap membantah. Pada 11 Oktober 2016 terbit pendapat keagamaan MUI menyatakan Ahok menista agama dan ulama. Benar tidaknya tuduhan pihak Ahok tentu harus dibuktikan. Ahok pun menuduh Ketua Umum MUI tidak objektif karena terikat dengan pasangan Agus-Sylvi.

Pihak Ahok mengaku mengantongi bukti bahwa dukungan itu betul adanya dan akan membukanya untuk membuktikan ucapan ulama yang juga mantan politikus PPP dan PKB itu. Ma’ruf, kelahiran 11 Maret 1943, yang pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden selama enam tahun di masa SBY, hari itu menjadi saksi selama 7 jam. Sebagai sesepuh kaum nahdiyin, dicecar pertanyaan tajam selama berjam-jam tentu tak mengenakkan.

Namun, kenapa MUI tak menunjuk anggota MUI yang lain? Sebab, dalam sidang di pengadilan pasti cecaran pertanyaan tak terhindarkan. Bukankah para pihak sama-sama mencari kebenaran? Karena itulah, banyak pihak merasa tersinggung. Ahok telah pula meminta maaf, dan Ma’ruf Amin pun dengan cepat memaafkannnya. Sebaiknya saling maaf kebajikan yang mendinginkan suasana, bukan sebaliknya. Namun, ini tak boleh menjadikan sidang-sidang selanjutnya menjadi terganggu secara psikologis.

Tak boleh hakim, jaksa, dan para pihak jadi takut bertanya, siapa pun terdakwa dan saksinya. Sebab, ketakutan pasti akan berimplikasi pada kualitas putusan. Saya berharap apa yang dikemukakan KH Ma’ruf Amin di persidangan Ahok yang ke-8 benar adanya. Namun, saya khawatir juga apa yang dituduhkan pihak Ahok juga benar. Sama khawatirnya apa yang kini menimpa pemimpin FPI Rizieq Shihab dan Firza Husein dalam dugaan asusila. Meskipun tak bersetuju dengan beberapa aksi Rizieq, saya sungguh khawatir dugaan itu benar adanya. Saya menunggu semua itu dengan dada berdebar.***



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.