Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Langkah Antasari

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
31/1/2017 05:05
Langkah Antasari
(ANTARA)

POLITIK ialah pendulum paling bertuah. Ia bisa menjadi penentu gelap dan terangnya kehidupan. Mereka yang dianggap sebagai ‘sahabat politik’ akan menjadi ‘sahabat-kekuasaan’ pula. Sementara mereka yang dituduh menjadi ‘musuh-politik’ mereka berpotensi menjadi seteru-kekuasaan pula. Karena itu, pengkhianat dan pahlawan kerap bisa bertukar tempat karena politik yang berubah.

Bekas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar, agaknya yang merasakan gelap dan terangnya dunia karena pendulum bernama politik itu. Pada 2 Februari 2010 ia divonis 18 tahun penjara karena terbukti bersalah menjadi otak pembunuhan Direktur Utama Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Berbagai upaya hukum ia lakukan, seperti banding, peninjauan kembali, bahkan gugatan praperadilan berkaitan dengan keterangan palsu. Semuanya ditolak.

Pada 20 Fenruari 2015, ia mengajukan grasi kepada Presiden Jokowi. Setelah mendapat pertimbangan Mahkamah Agung, Jokowi pun memberikan grasi setelah mendapat banyak remisi.

Antasari bebas bersyarat pada 10 November 2016, dan bebas murni pada 16 Januari lalu. Ia minta namanya direhabilitasi. Ia tak ingin publik dan keluarganya tahu sebagai otak pembunuhan karena cinta segitiga.

Lebih dari itu, ia pun kini meminta Polda Metro Jaya membuka kembali laporan tentang adanya dugaan kriminalisasi terhadap dirinya. Laporan itu ia lakukan pada 2011, satu tahun setelah ia mendekam sebagai orang rantai. Tentu saja, pendulum politik tak memungkinan Antasari, terlebih sebagai orang bui, menuntut hak hukumnya.

Berbagai kejanggalan berkali-kali dikemukakan banyak pihak, tapi suara terpidana memang ‘suara sepi’. Adik kan­dung almarhum Nasruddin, Andi Syamsuddin, mengaku dari awal ia tak percaya Antasari pelakunya. “Ada orang besar, pejabat besar, yang menjadi dalang dari pembunuhan saudara saya. Yang jelas orang besar itu punya kekuasaan, mampu menggerakkan siapa saja, ” kata Andi kepada Metro TV.

Kepada Metro TV pula, Antasari mengungkap sebuah fakta, kira-kira sebulan sebelum besan Susilo Bambang Yudhoyono, Aulia Pohan salah satu petinggi Bank Indonesia menjadi tersangka penggunaan uang Yayasan Bank Indonesia. Kata Antasari, seorang pengusaha media, Hary Tanoesoedibyo, atas permintaan seseorang, meminta agar Antasari tak membawa nama seseorang (Aulia Pohan) yang tengah ditangani KPK.

Pembawa pesan itu pun minta agar Antasari hati-hati. Sebulan kemudian ia justru mengumumkan beberapa orang penting BI, termasuk Aulia Pohan sebagai tersangka. Tak menunggu lama, dan betul adanya, Antasari pun terjerembab kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnain. Ada yang bilang inilah kerja dua institusi penegak hukum: kepolisian dan kejaksaan, memang ditugaskan untuk menggarap ketua KPK yang kelewat berani itu.

Waktu itu lembaga antirasywah tersebut juga tengah menangani kasus bail out Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), alat teknologi informasi di KPU yang dimenangi Hartati Murdaya bendahara Partai Demokrat dan Skandal Bank Century, megaskandal yang teramat menghebohkan. Antasari siap membantu KPK, dan KPK siap menerima bantuan. Terlebih kini ada 180 kasus lama di KPK dan institusi ini siap menelisik kembali satu per satu kasus-kasus itu.

Ada spekulasi kasus Antasari tak bisa dipisahkan dari perseteruan PDI Perjuangan versus Partai Demokrat. Terlebih jika nanti Antasari benar-benar masuk PDI Perjuangan. Fakta itu menjadi kian jelas. Tentu saja masuk organisasi mana pun ialah hak siapa pun dan ini yang dijamin konstitusi. Akan tetapi, ini bukan pilihan yang tak datang dari langit. Ia punya cerita di balik peristiwa.

Apa yang dikatakan Antasari barulah satu pihak. Jika berhenti di sini, ia bisa menjadi fitnah. Karena itu, yang terbaik harus membawanya ke pengadilan. Di pengadilan semuanya akan serbabenderang. Kita menunggu apa yang dikatakan Antasari bukanlah halusinasi. Ia harus serius membuka kembali anomali-anomali kasus hukum yang dahulu.

Bisa jadi apa yang dilakukan Antasari berpotensi mengguncang kita semua. Ia sesungguhnya tengah mencari miliknya yang paling berharga yang selama ini hilang. Perlu pula diingatkan, yang dilakukan Antasari bukanlah karena ia sentimen. Jika hukum di masa lalu tak tegak lurus, kini harus diluruskan. Meskipun politik ialah pendulum paling hebat, pemerintah harus menjamin penegakan hukum tanpa intervensi. Meski politik pendulum terkuat, tapi hukum bukanlah pembalasan dendam.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.