Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
"SAYA belajar kesepakatan dalam pertentangan." Itulah salah satu resep ROG Roeder bisa tinggal lebih dari dua warsa di Indonesia. Wartawan asal Jerman, penulis The Smiling General (1969), itu memang telah lama tergoda pada 'Hindia Belakang'. Negeri kaya dengan banyak 'kebijaksanaan', tapi padat penduduk miskin. Semuanya sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Mendiang Roeder betapa pun gerah menghadapi birokrasi yang lamban dan korup, termasuk ketika harus melewati sedikitnya 20 stempel jawatan tiap memperpanjang izin tinggal, ia mesti 'tabah'.
Usaha yang sungguh memeras keringat di negeri tropis, dengan transportasi yang buruk. Pengalaman itu ia ungkap dalam buku Amatan para Ahli Jerman tentang Indonesia (1992).
Kultur 'bersepakat' dalam 'pertentangan' dan menjaga 'harmoni' demi 'keseimbangan' kerap membuatnya gegar budaya. Paradoks itu mengagumkan jika digunakan untuk banyak kebajikan. Namun, untuk hal-hal prinsip dan kejahatan, ia jadi mala yang menghancurkan.
Suburnya korupsi di negeri ini juga disebabkan laku paradoks serupa itu. Ia tahu korupsi akan membawa mala, tetapi tetap dilakukan juga. Itu disebabkan kita tak kuasa mengingatkan atasan; tak elok menolak permintaan kawan dan kolega; sudah biasa dilakukan para pendahulu dan yang lain.
Tahu sama tahu itulah 'kebijaksanaan' terbaik. Mengungkapkan secara berandang hal buruk bisa merusak 'harmoni'.
Betapa kompleks korupsi di Indonesia. Berkelindannya polaritas itu menjadi bawah sadar yang vibrasinya merasuk ke banyak sendi kehidupan.
Sebuah paradoks yang disadari, tetapi tetap dilakukan. Koruptor pun seperti patah tumbuh hilang berganti. Publik lega ketika Presiden Jokowi memilih sembilan perempuan untuk Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK. Menteri Sekretaris Negara Pratikno bahkan sempat kaget seraya berucap, "Kok semuanya perempuan?"
Mereka itu Destry Damayanti (ekonom Bank Mandiri), Eni Urbaningsih (ahli hukum tata negara), Natalia Subagjo (Sekretaris Tim Independen Reformasi Kemenpan dan RB), Yenti Garnasih (dosen hukum pidana ekonomi dan pencucian uang Universitas Trisakti), Harkristuti Harkrisnowo (ahli hukum pidana, Ketua Badan Pengembangan SDM Kemenkum dan HAM), Betti Alisjahbana (mantan CEO IBM ASEAN dan South Asia), Meuthia Ganie-Rochman (ahli sosiologi korupsi dan modal sosial FISIP-UI), Supra Wimbarti (Dekan Fakultas Psikologi UGM), Diani Sadiawati (Direktur Analisis Peraturan Perundang-undangan Bappenas).
Inilah kali pertama Pansel KPK seluruhnya para puan. "Angin segar," kata banyak orang. Namun, ini 'angin segar' baru dalam tataran persepsi.
Kita tahu persepsi memang modal penting dalam sebuah langkah. Karena itu, kita berharap para puan itu mampu memanfaatkan persepsi baik tersebut. Saya kira bukan hanya semuanya perempuan, melainkan juga mereka berasal dari aneka latar belakang pendidikan dan profesi. Yang terutama, mereka dinilai figur yang tak condong ke 'kanan' dan ke 'kiri'. Mereka orang-orang 'tengah', yang kredibel.
Kita berharap, pansel mampu menjaring calon terbaik para pemimpin KPK, yang kini dilanda mala. Pansel jangan bekerja dalam kultur menjaga 'harmoni' demi 'keseimbangan', tetapi menjaga netralitas demi kualitas. Mereka harus imun terhadap segala godaan yang membahayakan terpilihnya para aulia KPK. Kita menunggu aksi sembilan puan pilihan Presiden itu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved