Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Fakta Alternatif

Saur Hutabarat, Dewan Redaksi Media Group
26/1/2017 05:30
Fakta Alternatif
(Ist)

BERAPA banyak orang menyaksikan inaugurasi Donald Trump menjadi presiden AS? Jawaban media jurnalisme atas pertanyaan itu membuat Trump kebakaran jenggot dan tercetuslah apa yang disebut 'fakta alternatif'. Media jurnalisme melaporkan bahwa keramaian inaugurasi Presiden Trump dihadiri sekitar 500 ribu orang, sedangkan inaugurasi Presiden Barack Obama pada 2009 dihadiri sekitar 1,5 juta orang.

Perbandingan itu membuat penghuni baru Gedung Putih berang dan keluarlah bantahan. Kata Sean Spicer, Sekretaris Pers Gedung Putih, inaugurasi Trump-lah yang terbesar, dihadiri sampai memadati ke belakang Monumen Washington. The New York Times menangkis fakta versi Gedung Putih itu dengan menampilkan foto dari udara ketika Obama diinaugurasi dijejerkan dengan gambar hasil kamera televisi ketika Trump diinaugurasi, di lokasi yang sama.

Nyata benar bedanya! Koran itu bahkan mengundang ahli untuk menghitung jumlah setiap hadirin. Hasilnya signifikan bahwa yang menghadiri inaugurasi Trump sekitar sepertiga jumlah yang menghadiri inaugurasi Obama. Pihak Trump juga mengemukakan fakta lain. Pemirsa yang menonton inaugurasi Trump lebih banyak daripada pemirsa waktu Obama.

The New York Times menghajarnya dengan data Nielsen. Obama ditonton 37,7 juta pemirsa di AS, Trump 30,6 juta. Data lain, Ronald Reagan (1981) ditonton 41,8 juta pemirsa, Jimmy Carter (1977) ditonton 34,1 juta, dan Richard Nixon (1973) ditonton 33 juta pemirsa. Upaya membesarkan fakta tidak berhenti sampai di situ.

Di hari inaugurasi Trump, katanya penumpang Metro sebanyak 420 ribu, lebih banyak ketimbang saat Obama diinaugurasi kedua kali menjadi presiden AS (2013) yang hanya 317 ribu. The New York Times membuka data dari operator transportasi publik itu bahwa di hari inaugurasi Trump jumlah penumpang 570.557, dan saat Obama 782.000.

Pertanyaannya, untuk apa Sekretaris Pers Gedung Putih Sean Spicer membuat fakta palsu, statistik bohong itu? Chuck Tood, pembawa program Meet the Press di NBC, mencecar habis-habisan Kellyanne Conway, konselor untuk Presiden Trump. Apa jawabnya? Untuk memberi fakta alternatif. Atas jawaban itu, Tood menukas ketus, "Alternatif bukan fakta. Semua itu dusta."

Tidak bisa tidak, orang harus membuka kembali data perihal kegemaran Trump menyampaikan kebohongan. Selama kampanye 70% pernyataannya salah. Bandingkan dengan Hillary Clinton yang hanya 28%. Penulis biografinya menyebut Trump menyukai frase 'truthful hyperbole', kemudian Trump mendakunya, bahwa dialah yang 'menciptakan' sebutan itu.

Trump tampak menikmati kebohongan, bukan sebagai taktik, melainkan kebiasaan yang melekat. Bahkan, ada yang menilai kebohongan telah tertanam mendalam, mendarah daging. Yang telah tertanam mendalam itu 'meledak' ketika ketemu sumbu dinamit pendelegitimasian kekuasaan. Upaya mendelegitimasi Trump bukan fakta karangan. John Lewis, pemimpin gerakan hak-hak sipil, lima kali terpilih sebagai wakil rakyat dari Partai Demokrat, terang-terangan menyatakan kepada publik bahwa dia memboikot inaugurasi Trump karena tidak mau memberinya legitimasi.

Setelah orang terpilih menjadi presiden, diinaugurasi, disumpah, apa makna legitimasi? Melangkah ke depan. Trump sebaliknya. Yang pertama dilakukannya mengambil keputusan menegasikan program Obama, membatalkan Trans-Pacific Partnership yang diikuti 12 negara, dengan alasan untuk menyelamatkan pekerja Amerika. Sebuah keputusan yang menyenangkan Tiongkok karena dengan sendirinya Trump menggembosi pengaruh AS di Asia dan Pacific Rim.

Padahal, salah satu tujuan Obama memelopori TPP ialah untuk menghambat pengaruh Tiongkok di kawasan itu. Kendati telah bersinggasana di Gedung Putih, Trump masih terus berkoar bahwa dia kalah dalam popular vote karena jutaan pemilih ilegal. Tapi koaran itu tidak disertai bukti. Seperti diketahui, Trump menang dalam electoral college, tapi kalah dalam popular vote, yang membuat dia presiden dengan legitimasi gepeng, tidak bulat.

Sangat jelas Trump bernafsu mengempiskan, bahkan menghabisi legacy Obama yang terbaik sekalipun, termasuk program asuransi kesehatan Obamacare yang berpihak kepada rakyat. Trump sepertinya punya insting destruktif, tanpa menghabisi Obama, sampai kapan pun, ia tidak ada apa-apanya bila diperbandingkan dengan Obama.

Untuk itu, Trump bakal terus memproduksi 'fakta alternatif', antara lain melalui akun Twitter-nya yang telah resmi menjadi akun presiden. Ia mengira otak orang (termasuk otak media jurnalisme) dapat tercuci dengan sendirinya karena terbiasa dibombardir kebohongan. Mr President, kapokmu kapan?



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.