Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Bukan karena Angin

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
24/1/2017 05:00
Bukan karena Angin
(ANTARA)

SYAHDAN, inilah kesatria yang tragis nasibnya: Ekalaya atau Bambang Ekalaya. Ia dari puak Nishada, kasta rendah yang keahliannya berburu. Ia berhasrat besar belajar memanah, jemparing, pada sang guru tersohor, Dorna. Ekalaya pun pergi ke Hastina mene­mui sang begawan itu. Namun, hasratnya ditolak karena rendah kastanya. Lagi pula, Dorna telah berjanji hanya jadi guru jemparing Pandawa dan Kurawa. Dorna hanya ingin Arjuna, murid kesayangannya, menjadi pemanah terbaik di jagat raya.

Tekad Ekalaya yang cerdas ini tak melisut. Ia masuk hutan dan belajar sendiri dengan membuat patung Durna dan memujanya sebagai guru sejati. Kemampuan memanahnya lekas melesat. Dorna dan Arjuna nanap jadinya ketika Ekalaya yang mengaku murid Dorna punya kecakapan memanah tingkat tinggi. Dorna pun murka. Ia meminta Ekalaya melakukan dakshina, permintaan pada siswa sebagai bakti tertinggi pada guru seusai menyelesaikan pendidikan.

Dorna minta Ekalaya memotong ibu jari kanannya. Dengan takzim sang murid ‘tak resmi’ ini melakukannya sekalipun tahu risiko besar di hadapannya, yakni kehilangan keahlian dalam memanah. Inilah cara licik khas Dorna, menghabisi siapa pun yang dinilai merongrong wibawanya. Dalam lakon Palguna-Palgunadi (Arjuna-Ekalaya) inilah para dalang kerap membawakan kisah tragis nan culas ini.

Saya tidak tahu dalam konteks kini, dalam lakon Palguna-Palgunadi, siapakah yang menjadi Dorna, Arjuna, dan Ekalaya? Saya hanya melihat panahan yang ditekuni Jokowi sebagai peserta Kejuaraan Panahan Bogor Terbuka 2017, dalam soal semangat serupa yang dilakukan Ekalaya. Jokowi berlatih memanah baru delapan bulan yang lalu setelah hampir dua tahun menjadi presiden. Jika tak ada hajat lain, latihan tiap Sabtu-Minggu, dengan pemanasan lari 6-7 km. Ia memang memulai dari bawah, tak terhindari lecet-lecet jemari tangan.

Apa yang dilakukan Jokowi, selain untuk penyegaran diri, pesannya jelas untuk memotivasi para atlet panahan, juga mempromosikan olahraga ini. Olahraga yang pernah menyumbangkan medali perak dan perunggu pada Asian Games 1978, 1982, 1994, dan medali perak pada Olimpiade 1988, tapi lebih dari dua dekade sepi prestasi. Apa yang dilakukan Jokowi juga baik untuk memotivasi bidang-bidang lain. Bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar, untuk memulai. Bahwa di tengah tindihan beban kerja, siapa pun bisa melakukan aktivitas yang menyegarkan dan membangun optimisme.

Jokowi juga seakan menegaskan, di tengah begitu banyak persoalan yang mendera bangsa ini, termasuk berita dusta (hoax) yang dikeluhkan SBY dan aksi-aksi yang mengatasnamakan membela agama, ia tak kehilangan fokus. Olahraga panahan memang menuntut konsentrasi tinggi dan kesabaran untuk mencapai target. Filosofi ini tentu linier dalam mengelola negara. Jokowi seakan menegaskan ia hadir dalam banyak urusan. “Ada saja siasat Jokowi, tak ada matinya,” kata teman saya via Whatsapp.

Ada yang menyebut Jokowi serupa ‘Raja Midas’, apa yang disentuhnya menjadi ‘emas’. Musik cadas, kemeja kotak-kotak, kemeja putih, kolektor kecebong, jaket bomber, sarung, payung biru, yang dikenakan Jokowi umumnya jadi tren. Bukan tak mungkin olahraga panahan juga akan kian digemari.
Pemimpin-pemimpin lain di berbagai bidang dan tingkatan mestinya bisa melakukan hal yang sama, menjadi contoh untuk melakukan kebajikan.

Kita tahu, kosakata bicara Jokowi memang tak tinggi-tinggi. Akan tetapi, ketika ia menjelaskan soal konsentrasinya melakukan olahraga panahan, cuaca, angin bisa jadi faktor kendala, dalam maknanya. “Tapi nanti dipikir nyalahin angin. Dalam setiap kita melaksanakan sesuatu memang pasti ada kendalanya,” katanya.

Mungkin Jokowi bicara dalam arti sesungguhnya, bisa juga ia tengah menjawab kritik. Bukankah selain keluhan melimpahnya hoax, mantan presiden SBY beberapa kali pula mengkritik Jokowi? Pada sebuah acara Partai Demokrat April 2015, misalnya, SBY minta Jokowi tak menyalahkan siapa-siapa. “Fokus saja pada pekerjaan yang ada sekarang. Jangan terlalu sering menyalahkan pemerintahan yang lalu, termasuk pemerintahan yang saya pimpin.”

Peribahasa Melayu ini mungkin benar. Kalau tak ada angin bertiup, tak akan pokok bergoyang. Tak ada perkara yang tanpa sebab. Kita pun tahu, gairah Ekalaya dalam memanah justru bergelora karena dihinakan sang Dorna, guru yang dipujanya. Ekalaya ialah bukti kekuatan sebuah vitalitas.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan