Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Doa SBY

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
23/1/2017 05:00
Doa SBY
(TWITTER)

PRESIDEN RI 10 tahun (begitu SBY suka membahasakan dirinya) berdoa perihal hoax di Twitter.

Isinya, "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang?"

Doa di Twitter itu mendapat tanggapan, "pak kalo berdoa di twitter pastikan dulu Tuhannya follow bapak," yang ditutup dengan salam dua jari.

Tanggapan itu berlogika, bagaimana doa itu sampai bila Tuhannya tidak follow SBY di Twitter?

Seorang teman mengirim semua itu ke WA saya, diberi komentar pendek, "Lucu."

Teman yang lain yang sedang belajar berhenti merokok, mengirim pesan yang sama, dengan komentar, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Esaaa... Begini amat rasanya hidup tanpa rokok."

Ada teman yang menanggapinya dengan mengirim pesan serius dari seorang tokoh, pemikir, penyair, pemimpin redaksi, Goenawan Mohamad.

Isinya, "Dgn hormat, fitnah dan hoax itu sudah menggila di Pilpres 2014, terutama thd @jokowi. Lewat "Obor Rakyat". Bisa cek ke Andi Arif. Tksh."

Andi yang dimaksud kiranya Andi Arief, staf khusus Presiden SBY.

Sehari kemudian, untuk memperjelas konteks dan konten, teman yang sama mengirim kicauan Andi Arief.

Bunyinya, "Setelah Ibu Sylvi harusnya Ibu Iriana Jokowi juga diperiksa, bukankah juga sebagai penerima Dana bansos 2013 sebagai ketus Dharma wanita?" Kutipan itu sesuai aslinya, termasuk salah ketik, 'ketus' untuk 'ketua'.

Publik tahu, merupakan fakta hukum bahwa Sylviana Murni, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono, diperiksa Bareskrim Polri.

Itu bukan hoax, bukan fitnah.

Sebaliknya, tentang Ibu Iriana Jokowi, bukan fakta hukum, melainkan pernyataan hipotetis, bahkan pertanyaan retoris.

Hoax tentu saja urusan horisontal, kepada sesama manusia, antara lain urusan polisi kepada manusia pencipta kebohongan.

Adapun doa urusan vertikal, berkomunikasi ke atas, kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi.

Ketika urusan kebohongan itu diadukan oleh seorang mantan presiden 10 tahun kepada Sang Maha Pencipta melalui Twitter, berhamburanlah reaksi berupa olok-olok.

Sesungguhnya doa perbuatan khusyuk orang beriman.

Kekhusyukan itu bahkan hendak dicapai antara lain dengan mematikan handphone, sendiri di bilik tertutup.

Tak seorang pun tahu apa yang disampaikan dalam doa, kecuali Sang Penerima, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam perspektif itu, mengolok-olok doa maupun orang yang berdoa dengan khusyuk, kiranya perbuatan yang tidak dikehendaki Tuhan.

Berdoa melalui Twitter, hemat saya, lebih ditujukan kepada publik, yaitu manusia penghuni di dunia maya (netizen), ketimbang kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apakah doa macam itu diterima Tuhan?

Ampun Tuhan, hamba terlalu lancang.

Siapa saya gerangan, tahu tanggapan Tuhan atas perkara tersebut?

Tapi saya yakin mereka yang mengolok-olok doa SBY itu, tahu benar kenapa mereka melakukannya.

Olok-olok melalui media sosial itu rasanya merupakan sentilan sosial terhadap SBY.

Hal itu diperkuat dengan munculnya anjuran agar SBY meniru mantan Presiden Habibie, yang dibahasakan sebagai 'pandito', yang tidak pernah berkomentar buruk terhadap pemerintahan presiden sesudahnya.

Pemimpin itu tempat mencontoh yang baik, bajik, dan bijak.

Bukan sasaran olok-olok.

Kiranya SBY tahu betul batas antara dipuji dan diolok-olok.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan