Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Garuda

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/1/2017 05:31
Garuda
(MI/PANCA SYURKANI)

KARENA tata kelola yang tidak baik dan penuh praktik korupsi, Garuda Indonesia pernah mengalami masa kelam. Perusahaan penerbangan nasional itu nyaris pailit. Kreditnya macet US$1,2 miliar dan arus kas negatif. Mereka tidak berani terbang ke Eropa karena takut disita akibat tidak mampu membayar cicilan Airbus yang dibeli. Menteri Badan Usaha Milik Negara Tanri Abeng meminta bankir kawakan Robby Djohan untuk menyelamatkan Garuda. Robby mau kalau diberi kewenangan penuh, termasuk membangun tim yang ia inginkan.

Tanri Abeng tidak punya pilihan kecuali menyetujui karena Garuda Indonesia harus diselamatkan. Salah satu yang ditarik Robby Djohan untuk membenahi Garuda ialah Emirsyah Satar. Dengan latar belakangnya sebagai seorang bankir, Emir diharapkan bisa mengembalikan kebesaran Garuda. Sejak 2003 ditunjuk sebagai direktur keuangan dan dua tahun kemudian sebagai direktur utama, Emir membuat peta jalan yang jelas untuk membangun kembali perusahaan penerbangan nasional ini.

Garuda kemudian menjadi salah satu perusahaan penerbangan dengan pelayanan terbaik di dunia. Kita tentunya kaget ketika orang yang memiliki visi yang jelas untuk membangun Garuda itu diduga terlibat kasus suap. Emir disangkakan menerima suap dari perusahaan mesin pesawat Roll Royces yang dipilih Garuda untuk dipakai di pesawat Airbus yang dibelinya.

Laporan Badan Antisuap Inggris kepada Komisi Pemberantasan Korupsi menyebutkan Emir menerima suap uang sekitar Rp20 miliar dan barang senilai US$2 juta. Suap dari perusahaan Inggris diberikan melalui perantara pengusaha Soetikno Soedardjo yang juga ditetapkan KPK sebagai tersangka. Kasus korupsi yang terjadi di Garudakalau kelak terbukti merupakan salah satu yang dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai penghambat penciptaan masyarakat yang adil dan makmur.

Para elite menguasai sumber-sumber ekonomi bukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, melainkan untuk memperkaya diri sendiri. Praktik korupsi yang marak terjadi menjadi penyebab tingginya ketimpangan antardaerah dan juga kemiskinan. Padahal alokasi anggaran ke daerah lebih besar dari anggaran untuk kementerian dan lembaga.

Sumatra setiap tahun menerima alokasi anggaran sekitar Rp80 triliun. Kalimantan menerima Rp100 triliun, Sulawesi menerima Rp120 triliun, bahkan Maluku dan Papua menerima alokasi Rp130 triliun. Namun, alokasi anggaran itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Pertumbuhan di Papua hanya tercatat 4% dengan tingkat kemiskinan di atas 22%.

Sulawesi mampu tumbuh dengan 7,5%, tetapi angka kemiskinannya masih di atas 12%. Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut Sri Mulyani disebabkan tata kelola yang tidak baik dan penggunaan anggar-an yang tidak tepat serta tidak efektif.

Anggaran itu bukan dipakai untuk membangun daerah, melainkan hanya berputar di antara para elite untuk kenikmatan mereka. Sri Mulyani mengingatkan, kalau anggaran itu dipergunakan dengan tepat, efek penggandanya akan luar biasa. Setiap Rp1 triliun anggaran bisa dipakai untuk membangun 155 km jalan tol, atau lebih 3.000 jembatan, atau ribuan hektare sawah, atau ribuan ton benih.

Semua itu pasti akan membawa kehidupan masyarakat banyak yang lebih baik daripada hanya dipakai untuk hidup bermewah-mewahan oleh pejabat yang korup. Atas dasar itulah kita harus mengatakan 'tidak' pada korupsi. Kita harus mengatakan 'tidak' pada politik dinasti karena akan membuat pejabat negara itu kehilangan kepekaan dan hanya memikirkan kenikmatan kelompok kecilnya saja.

Pekerjaan kita memang tidak mudah untuk membenahi semua ini. Namun, kita tidak boleh patah semangat. Dengan kemauan keras dari semua pihak, pasti kita akan mampu menciptakan Indonesia yang lebih baik. Apalagi tanggung jawab konstitusional yang melekat pada seluruh warga bangsa ialah menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.