Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Menunggu Harapan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
20/1/2017 05:31
Menunggu Harapan
(MI/ROMMY PUJIANTO)

INDONESIA ialah pengharapan, bukan kecemasan, apalagi kenestapaan. Sumber daya alam negeri yang melimpah tak boleh justru menjadi kutukan. Sebagai zamrud Khatulistiwa seperti dikatakan Eduard Douwes Dekker, penduduk negeri ini mesti paling bahagia di dunia sebab alam menjadi oasisnya sepanjang waktu. Itu sebabnya, Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Pulau Jawa (1811-1816), berlinang air mata ketika dicopot dari jabatannya. Baginya, menjadi pemimpin di negeri ini, yang kaya fl ora dan fauna, juga budaya, ialah sebuah kehormatan.

Bukunya yang amat masyhur, The History of Java (terbit pertama 1817), ialah kesaksiannya yang hidup. Karena itu, kini haruslah upaya kita dijauhkan dari kesiasiaan Sisipus, tokoh mitologi Yunani yang dikutuk untuk memanggul batu besar ke puncak gunung. Namun, selalu batu itu menggelinding ke bawah sebelum sampai puncak gunung. Ia harus turun ke bawah mengambilnya. Begitu seterusnya, berulang-ulang, entah sampai kapan menjalani takdir kesia-siaan yang sempurna itu.

Orang-orang tak berpunya di Indonesia juga tak boleh didekatkan dengan Gregor Samsa dalam fi ksi Metamorfosis karya Frans Kafka. Tokoh yang didera sengsara selamanya, yang setiap bangun pagi mendapati dirinya serupa kecoa; cukup makan remah-remah dan amat mungkin orang menginjaknya dengan rasa jijik yang memuncak. Ia tak punya hak untuk bahagia. Pecundang selamanya.

Kuliah umum Menteri Keuangan Sri Mulyani pada hari ulang tahun Media Indonesia, kemarin, yang berjudul Prospek Ekonomi RI pada 2017 dan Program Pemerintah Mengatasi Kesenjangan Ekonomi, ialah sebuah ikhtiar bagaimana Indonesia berkeadilan dan berkemakmuran bukanlah mimpi. Keadilan dan kemakmuran, kata Sri, ialah cita-cita para pendiri bangsa yang harus terus diperjuangkan karena kesenjangan ekonomi ialah potensi malapetaka.

Kesia-siaannya bisa serupa Sisipus juga. Dengan APBN 2017 sebesar Rp2.080,5 triliun, pendapatan negara Rp1.750 triliun, pertumbuhan ekonomi 5,1%, dan angka kemiskinan mesti ditekan di bawah 28 juta jiwa. Adapun alokasi transfer ke daerah dan dana desa Rp764,9 triliun. Inilah untuk pertama kalinya jumlah alokasi transfer ke daerah lebih besar ketimbang belanja kementerian/lembaga, yakni Rp763,6 triliun.

Namun, kata mantan petinggi Bank Dunia itu, upaya mengatasi kesenjangan ekononi menjadi sia-sia ketika sumber-sumber ekonomi dikuasai elite politik yang berkuasa tanpa integritas. Mereka menjadi penyamun uang rakyat dengan rupa-rupa siasat. Itulah yang oleh Sri Mulyani disebut elite capture. Mereka para penguasa durjana yang sumpah jabatannya dicampakkan dalam comberan.

Pada umumnya politik dinasti menjadi muslihat bagaimana persamunan itu dijaga dan dikembangkan hanya oleh mereka. Kasus di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, misalnya, yang dikuasai dua keluarga, yang ramai dibincangkan, hanyalah salah satu contoh. Bagaimana sirkulasi kepala daerah bergantian antara suami istri dua keluarga. Masih banyak contoh lain yang bisa jadi lebih mencengangkan. Karena itu, selain tindakan hukum yang tegas, pendampingan dari pusat, partai mesti bertanggung jawab.

Partai harus memastikan kader terbaiklah yang didedikasikan untuk maju pada pemilihan pejabat publik. Sri memberi ilustrasi, betapa dana Rp1 triliun bisa untuk membangun jalan 155 km atau 6.765 ruang kelas SD. Dana sebanyak itu juga bisa untuk subsidi sekitar 93 ribu ton benih bagi petani atau membeli 306 ribu ton pupuk. Juga bisa untuk membayar 4,2 jaminan persalinan ibu hamil atau membayar gaji 10 ribu polisi dalam setahun.

Karena itu, korupsi masih tinggi, kesenjangan akan terus menjadi belitan yang terus jadi mimpi buruk. Sri mengajukan solusi; kebijakan ekonomi tepat sasaran, efektif, dan berefek. Lembaga pemerintah yang bersih, transparan, dan efektif juga menjadi tak bisa ditawar. Menerima keragaman dan investasi sumber daya manusia juga mesti lekas dikonkretkan. Rakyat menunggu dengan sepenuh harapan. ***



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.