Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Jepang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/1/2017 05:31
Jepang
(AFP PHOTO / ADEK BERRY)

EMPAT puluh tiga tahun lalu demonstrasi anti-Jepang membakar Jakarta. Dominasi produk Jepang di pasar Indonesia membuat mahasiswa melakukan protes di jalan. Pada tanggal yang sama, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkunjung ke Indonesia dalam suasana yang penuh persahabatan. Apa yang terjadi Minggu, 15 Januari lalu, menunjukkan kedua negara sudah melupakan peristiwa yang lalu. Kini kedua negara menatap kerja sama ke depan yang bisa menguntungkan bagi kedua bangsa.

Setelah hampir 17 tahun tidak fokus melihat ke Barat, Jepang kembali memalingkan wajah ke wilayah ini. Asia Tenggara memang wilayah potensial dan sebenarnya merupakan partner lama Jepang. Kelengahan Jepang membuat wilayah ini digarap Tiongkok. Dengan agresif Tiongkok menanamkan pengaruh mereka, termasuk dengan di bidang ekonomi. Kita pun terpukau oleh kemajuan Tiongkok sehingga menjadikan negeri itu sebagai mitra utama ekonomi.

Meski kekuatan ekonomi Tiongkok berkembang luar biasa, kemampuan riil mereka masih diragukan. Itu bisa dilihat dari investasi ke Indonesia, yang tahun lalu hanya tercatat US$1,6 miliar. Investasi Jepang tahun lalu mencapai US$4,1 miliar. Sebagai negara yang menerapkan prinsip politik bebas aktif, kita memang terbuka kepada semua negara. Bagi Indonesia, semua negara yang mempunyai komitmen untuk membangun kemajuan bagi kedua pihak merupakan sahabat.

Pemerintahan Joko Widodo melihat Jepang lebih menunjukkan kesungguhan mereka dalam berinvestasi di Indonesia. Beberapa kerja sama disepakati Jokowi dan Abe. Pertama, Jepang akan membantu Indonesia memperkuat poros maritim. Indonesia berharap Jepang membantu peningkatan produksi pertanian dan perikanan. Jepang diminta untuk memberi kesempatan tenaga perawat Indonesia bekerja di sana.

Di bidang energi, Jepang diminta segera merealisasikan pembangunan Blok Masela. Sementara itu, di bidang infrastruktur, Jepang diminta membangun kereta api Jakarta-Surabaya. Namun, kerja sama tidak cukup dituangkan dalam naskah perjanjian. Yang lebih penting ialah bagaimana tindak lanjutnya. Sejauh mana kesepakatan kerja sama itu bisa direalisasikan. Di sinilah tantangan yang sebenarnya.

Kita sering kali lemah dalam tindak lanjut. Tidak ada orang yang mengawasi pelaksanaan dari semua kesepakatan itu. Akibatnya semua berhenti pada nota kesepahaman. Kelemahan lain yang ada pada kita ialah penghormatan terhadap yang namanya kesepakatan. Bahkan kita sering tidak peduli kepada yang namanya kontrak. Ketika ingin mengubah kontrak, kita memutuskannya secara sepihak tanpa peduli kepada pihak yang menjadi partner kita.

Jangankan kepada bangsa lain, di antara kita saja sering kita melakukan seperti itu. Pemerintah tidak mampu memberikan jaminan terhadap investasi yang sudah dilakukan. Lihat saja proyek pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah. Proyek yang sudah tinggal beroperasi tidak bisa dijalankan karena dinyatakan salah oleh pengadilan.

Kalau memang batu gamping yang ada tidak boleh dimanfaatkan, sejak awal pemerintah tidak mengizinkannya. Jangan izin diberikan dan investasi sudah dilakukan, lalu pemerintah tidak memberikan perlindungan apa pun atas semua yang sudah dijalankan. Sepanjang ucapan pemerintah tidak bisa dipegang, tak akan pernah ada orang yang berani berinvestasi di Indonesia.

Kalaupun ada, pasti mereka yang berani untuk bermain di wilayah abu-abu. Bagi mereka yang ingin menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, pasti akan berpikir dua kali. Saatnya bagi kita untuk mengubah cara pendekatan dalam menarik investasi. Pemerintah harus menerapkan prinsip my word is my bond. Hanya dengan itulah orang akan memiliki ketenangan dalam berinvestasi. Dengan itulah kita pantas berharap untuk bisa menggapai pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.