Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMA-SAMA palsu, gigi palsu jauh lebih terhormat daripada ijazah palsu. Penyebabnya jelas, antara lain, yang satu legal, yang lain melanggar hukum.
Memakai gigi palsu merupakan kebutuhan sekaligus pengakuan. Di situ ada keperluan fungsional karena yang ompong tak bisa menggigit.
Sudah tentu sedikit banyak pula beralasan estetika, soal pentingnya pengakuan enak dipandang. Tak ada bagus-bagusnya ompong.
Lagi pula menutupi keompongan dengan gigi palsu, baik berbentuk permanen maupun pasang-copot, merupakan perbuatan sah di tangan kaum profesional, dokter gigi.
Yang menyedihkan sekaligus menggelikan ialah menyamakan kedudukan dan kehormatan gigi palsu dengan ijazah palsu. Ijazah palsu dibuat juga karena kebutuhan fungsional dan pengakuan (sosial).
Dalam berbagai cabang kehidupan, hanya bergelar S-1 tidak menggigit, S-2 kurang menggigit, S-3 baru menggigit. Persis seperti tiga gigi ompong, perlu tiga gigi palsu agar fungsional dan sekaligus 'estetis'.
Ijazah kesarjanaan memang pada dasarnya secarik kertas pengakuan. Ia buah bersusah payah terutama dalam berpikir.
Setelah memperolehnya, ijazah mestinya menjadi pemicu untuk dibuktikan dalam dunia nyata bahwa yang tertera di kertas mewujud dalam realitas.
Yang berkembang kemudian kertas yang dikultuskan. Menganggap rendah proses, menilai tinggi pengakuan formal yang dinyatakan di atas secarik kertas.
Ijazah bukan saja tidak lagi mencerminkan 'isi' berpikir, bahkan tidak berisi sama sekali.
Ia benar-benar kosong, kopong, melompong. Bergelar doktor, tapi lebih cocok untuk mondok di kantor.Sampai di situ kiranya orang hanya bisa geleng-geleng kepala atau paling jauh mengelus dada. Namun, kenyataan lebih parah lagi karena kertas yang dikultuskan bukan lagi yang asli, melainkan yang palsu.
Bergelar doktor, tapi tak berisi, sudah satu perkara. Sudah tak berisi, palsu pula, menjadi dua perkara. Menjadi tiga perkara karena sang doktor palsu ternyata rektor. Betul-betul imannya tekor dan bocor.
Apa sebetulnya yang terjadi di dunia gelar?
Salah satu jawabnya harus dicari dalam berpikir dan tidak berpikir di tengah masyarakat penyanjung kehormatan tanpa berpikir.
Aku berpikir maka aku ada. Berubah menjadi aku berijazah maka aku ada.
Di titik itu tak ada lagi hubungannya dengan berpikir. Setelah itu, menjamurlah orang-orang yang tidak berpikir atau pendek pikiran mereka dengan 'aku ada' yang palsu di tengah masyarakat penyanjung kepalsuan kehormatan karena enggan berpikir.
Hemat saya, kepalsuan terbesar abad ini di negeri ini ialah ketika perguruan tinggi menjadi tempat perlindungan kepalsuan ijazah dengan mengangkat penyandangnya rektor. Sebaiknya semua rektor di negeri ini diperiksa ulang keaslian gelar doktornya. Setelah itu giliran orang-orang terhormat lainnya.
Pada titik itu, kepalsuan kehormatan mereka pun perlu dibongkar habis.
Kata Kierkegaard, filsuf Denmark, "Dalam kegagalannya, orang beriman menemukan kemenangannya." Sekarang kearifan itu saya pinjam menjadi kebalikannya, "Dalam kemegahannya, orang bergelar menemukan kehancurannya dalam kepalsuannya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved