Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Pencalonan Presiden

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
16/1/2017 05:00
Pencalonan Presiden
(ANTARA/WIDODO S JUSUF)

SABAN kali pemilu, saban kali itu pula Undang-Undang Pemilu hendak diubah.

Terlebih Pemilu 2019, gara-gara MK memutuskan pileg-pilpres dilaksanakan serentak, terbuka pintu bagi DPR dengan alasan kuat mengubah ambang batas pencalonan presiden, bahkan meniadakannya.

Alasan kuat itu menyangkut hak konstitusional partai politik mengusulkan calon presiden.

Pasal 6A ayat (2) UUD hanya mengatakan pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum.

Konstitusi tidak secuil pun mengatur perihal ambang batas pencalonan presiden, juga tidak secuil pun memerintahkannya untuk diatur lebih lanjut dengan undang-undang.

Yang diperintahkan diatur lebih lanjut dengan undang-undang, menurut Pasal 6 ayat (2) UUD, ialah syarat-syarat untuk menjadi presiden dan wakil presiden.

Ambang batas pencalonan presiden 'kreativitas' pembuat undang-undang.

Selama ini kreativitas itu dipandang adil dari segi hasil pilihan rakyat karena pileg diselenggarakan sebelum pilpres.

Perolehan suara rakyat atau kursi DPR hasil pileg dapat dijadikan alasan yang adil secara politik untuk menentukan ambang batas pencalonan presiden.

Akan tetapi, alasan adil itu hilang atau tidak relevan lagi, alias menjadi tidak adil, karena pileg dan pilpres diselenggarakan serentak.

Masak masih menggunakan hasil Pileg 2014? Sejak keputusan MK itu, sebetulnya tidak ada lagi kaitan antara besarnya kepercayaan rakyat kepada partai politik yang diperlihatkan besarnya perolehan suara rakyat atau kursi DPR pada Pemilu 2014 dan hak partai atau gabungan partai mengusulkan calon presiden pada Pemilu 2019.

Perlu dikemukakan, sampai empat kali perubahan UUD, tidak ada ketentuan dalam konstitusi bahwa pileg dan pilpres diselenggarakan serentak.

Hal itu pun lebih merupakan 'kreativitas' MK, yaitu menciptakan hukum ketatanegaraan yang dapat berdampak terpisahkannya legitimasi dan legalitas hasil pilihan rakyat di DPR dengan kelayakan mengusulkan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Sebetulnya MPR hasil reformasi yang dipimpin Amien Rais berpeluang menguantifikasi perolehan suara atau kursi partai di DPR sebagai ambang batas pencalonan presiden.

Namun, mereka tidak melakukannya.

Padahal, di lain pihak mereka melakukannya terhadap APBN, yaitu menguantifikasi anggaran pendidikan 20% APBN.

Kini, tiga atau empat partai menginginkan ambang batas mengusung calon presiden 0%.

Alias sepenuhnya tanpa ambang batas. Sebaliknya, mayoritas partai masih ingin mempertahankan ketentuan yang berlaku, yaitu pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan partai atau gabungan partai yang punya 20% kursi di DPR atau meraih 25% suara rakyat hasil pileg.

Bila keinginan mayoritas itu yang kembali menjadi undang-undang, ketentuan ambang batas itu bisa dibawa ke MK.

Tidak mengherankan bila MK sebagai pengawal konstitusi mengabulkannya kendati berlawanan dengan suara mayoritas di DPR.

Dampaknya, karena semua partai peserta pemilu serentak dapat mengusulkan calon presiden, praktis kekuasaan pencalonan presiden berpindah sepenuhnya kepada keputusan KPU.

Bukankah KPU, berdasarkan uji faktual, yang memutuskan partai menjadi peserta pemilu? Berdasarkan skenario itu, tiket untuk mengusulkan calon presiden ditentukan apakah faktual partai punya kantor, pengurus, dan anggota di 100% provinsi, 75% kabupaten/kota, serta 50% kecamatan. Kapital menjadi faktor utama.

Partai peserta pemilu yang baru berdiri pun dapat mengusulkan calon presiden.

Teoretis tidak dapat dihindarkan bakal bermunculan banyak pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Uji kepublikan yang dilakukan partai, entah melalui konvensi yang terbuka, jadi pemanis belaka.

Kebanyakan capres diusulkan partai bukan dengan keyakinan bakal menang, melainkan cuma uji coba sekalian memperkaya riwayat hidup yang bersangkutan.

Iseng-iseng berhadiah untuk riwayat hidup itu biarlah terjadi.

Toh ujungnya jelas, suatu masa tiba kapok menjadi capres karena kalah melulu, padahal ongkosnya terlalu mahal.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan