Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kompak

Suryopratomo Perempuan Dewan Redaksi Media Group
11/1/2017 05:31
Kompak
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

SEPAK bola bukan sekadar sebuah permainan. Ketika menyaksikan pertandingan sepak bola, kita tidak hanya menantikan mana tim yang menang dan kalah, tetapi juga bagaimana kedua tim membangun kekompakan, kerja sama, daya juang, dan kesamaan dari 11 pemain untuk mencapai sebuah tujuan, yakni memenangi pertandingan.

Kompak bukan sekadar bersama-sama. Kompak itu berarti saling melapis. Kelemahan teman satu tim bukan untuk diumbar, melainkan justru harus ditutup. Bahkan sebuah kesebelasan yang kompak, mereka bermain dengan menggunakan hati. Setiap pemain sudah tahu harus bergerak ke mana ketika rekannya sedang menggiring bola. Pemain itu pun tidak perlu lagi melihat ke kiri atau ke kanan ketika hendak mengoper bola. Kekompakan seperti itu yang perlu diterapkan dalam kehidupan bernegara, terutama mereka yang duduk di pemerintahan harus bisa kompak seperti sebuah tim sepak bola. Jangan berjalanan berlawanan arah sehingga akhirnya malah membingungkan penonton.

Awal tahun yang seharusnya menjadi awal baik untuk menunjukkan kekompakan pemerintah justru berjalan sebaliknya. Pemerintah kedodoran atas kebijakan yang sebenarnya sudah mereka rancang jauh-jauh hari. Komunikasi di antara anggota pemerintah berjalan buruk.

Bayangkan Sidang Paripurna Kabinet di Istana Bogor yang dihadiri semua pejabat pemerintah tidak bisa menyelesaikan persoalan yang remeh-temeh. Kenaikan biaya administrasi pengurusan surat tanda nomor kendaraan bermotor dan buku pemilikan kendaraan bermotor menjadi isu besar. Masalahnya, Presiden Joko Widodo berpendapat kenaik­an penerimaan negara bukan pajak jangan memberatkan rakyat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sesuai sidang paripurna menguatkan pernyataan Presiden.

Menteri Keuangan Sri Mul­yani Indrawati tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kenaikan biaya administrasi, tetapi justru lebih menekankan bahwa kenaikan biaya itu bukan inisiatif Kementerian Keuangan. Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian juga memilih untuk mengelak. Ia mengatakan kenaikan itu atas usulan Badan Pemeriksa Keuangan. BPK tentu tidak mau disalahkan sebagai pihak yang mendorong Polri menaikkan biaya administrasi pengurusan STNK dan BPKB. Pihaknya mengaku tidak pernah memberikan usulan seperti itu.

Padahal, kalau dijelaskan bahwa kenaikan itu bukan pada pajak kendaraannya, melainkan pada biaya administrasi pengurusannya, masyarakat akan mafhum. Kenaikan sampai 300% disebabkan ada yang awalnya Rp50 ribu menjadi Rp300 ribu.

Buruknya komunikasi pemerintah akhirnya menjadi bumerang. Di awal tahun pemerintah dianggap memberatkan masyarakat, mulai urusan biaya administrasi pengurusan kendaraan, soal beban biaya listrik, harga bahan bakar minyak, sampai melonjaknya harga cabai. Soal beban biaya listrik, komunikasi pemerintah juga terlihat reaktif. Tidak pernah dijelaskan bahwa yang terjadi bukan kenaikan tarif dasar listrik, melainkan pencabutan subsidi listrik bagi keluarga mampu pengguna beban listrik 900 volt-ampere.

Rencana pencabutan subsidi listrik seharusnya sudah dilakukan awal 2016. PLN menunda pelaksanaan karena ingin memastikan keluarga mampu yang akan dicabut subsidinya. Baru Maret 2016 PLN selesai mendata dan yakin setelah simulasi selama sembilan bulan akan bisa menjalankan kebijakan pencabutan subsidi. Dengan subsidi yang lebih terarah, kita akan mempunyai kemampuan untuk membangun negeri. Subsidi yang tepat sasaran akan membuat negara mempunyai kemampuan untuk memberdayakan warga bangsa yang belum beruntung.

Tanpa kekompakan dan kemampuan membangun komunikasi yang baik, upaya pemerintah untuk membangun negeri ini akan menjadi lebih berat. Itu bukan disebabkan kita tidak punya kemampuan untuk tumbuh lebih tinggi, melainkan karena kita tidak pernah paham akan arah ke depan yang hendak kita tuju. Komunikasi publik sepertinya sebuah perkara yang mudah. Namun, kalau kita tidak mampu me­ngelolanya dengan benar, itu hanya akan membuat energi kita habis untuk meluruskan isu yang tidak tepat.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan