Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
JUDUL di atas terinspirasi tulisan Bung Karno bertajuk Kuasanya Kerongkongan. Artikel ini dimuat majalah Panji Islam 1940. Ia menyoroti betapa siasat Adolf Hitler bisa merampas seluruh Jerman berkat kemampuan kerongkongan. Maksudnya propaganda yang disuarakan terus menerus, sistematis, dan masif, lekas sampai maksudnya. Makin banyak kerongkongan bekerja, propaganda semakin baik.
Masuk akal jika ada adagium yang sangat terkenal dari sang Fuhrer, Hitler. "Kebohongan yang diulang terus menerus bisa menjadi kebenaran". Ia memaksimalkan pengulangan, serupa mantra dalam membangun sugesti; dan sukses.
Adalah Willi Munzenberg yang menguliti dusta Hitler. Dalam buku Propaganda als Waffe (Propaganda sebagai Senjata), ia mengungkapkan betapa dusta propaganda Hitler memang dahsyat. Munzenberg yang juga propagandis ulung mengakui kekalahan kaum buruh melawan kaum Nazi, karena kalah memanfaatkan kerongkongan.
Masa Perang Dunia, propaganda ialah cara efisien 'menghipnotis' massa. Namun, kata Munzenberg, propaganda sejati tetaplah harus bertolak dari kebenaran. Ia menuju rasa dan akal, kepada kalbu dan otak, kepada perasaan dan pikiran. Sementara menurut Hitler sebaliknya.
"Dalam propaganda kita sama sekali tak boleh objektif," kata Hitler. Sebab, propaganda yang objektif akan membingungkan rakyat, para pengikut. Baginya propaganda jauh lebih penting daripada organisasi. Sebab, propaganda mencari pengikut, sedangkan organisasi mencari anggota. Bagi Hitler, orang besar ialah mereka yang mampu menggerakkan massa.
Menurut Bung Karno sesungguhnya selain Hitler, ada Jean Jures, pemimpin kaum buruh Prancis yang pidatonya jauh lebih menawan. Ia bertolak dari kebenaran fakta. Mendengar pidato Jures orang-orang merasa energi cintanya pada sesama kian bertambah. Sebaliknya, sehabis mendengar Hitler, masa tersihir menjadi agresif. Jika saja Jures tak ditembak mati, banyak yang menduga, bisa jadi Perang Dunia tak akan pecah.
Bung Karno juga menubuat, kekuasaan kerongkongan yang menyilaukan dan tak membangunkan pikiran akan cepat sirna. Fakta pun bicara, Nazi tak berdaya melawan Sekutu. Hitler mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kejahatannya yang besar, membantai jutaan manusia, menimbulkan horor yang terus dikutuk sepanjang masa.
Dalam kepungan hoax alias kabar dusta yang amat merajalela di Indonesia, yang dinilai menjadi racun kelas tinggi memecah belah bangsa, terasa nyata ada jejak Hitler di situ, pendusta paling masyur sekaligus paling mengerikan dampaknya.
Orang-orang fanatik, para bigot itu, yang dimobilisasi dengan dusta, memang tak perlu lagi mengerti kebenaran sejati. Sebab, membangun sentimen tak butuh kebenaran. Kebenaran justru berbahaya untuk mencari pengikut sebanyak banyaknya.
Karena itu, para pembuat berita dusta, termasuk buku Jokowi Undercover yang ditulis Bambang Tri Mulyono, jika berisi kebohongan belaka, saya merasa mereka tengah mengikuti jejak Hitler, sang 'Raja Dusta'. Bedanya, mereka tak melakukannya lewat kuasa kerongkongan, melainkan kuasa jemari tangan. Lewat jemari tangan, kabar dusta ditulis, digandakan, dan disebarkan. Berulang-ulang.
Belajar dari Hitler, Jerman justru membangun diri seperti dikatakan Francis Fukuyama, negeri itu kini menjadi bangsa high trust societies, juga Jepang. Yakni bangsa yang berkepercayaan tinggi antarmasyarakatnya. Ini modal sosial berharga dalam mencapai kemajuan. Jerman dan Jepang adalah contoh terbaik.
Adapun kita justru keranjingan mengikuti dusta Hitler, meski dengan derajat berbeda. Berita dusta alias hoax sungguh menyuburkan prasangka dan fitnah. Kepercayaan antarkita pun kian merapuh. Inilah low trust societies, bangsa yang antarsesama berkepercayaan rendah. Sulit untuk bangkit dalam kondisi serupa ini. Inilah akibat kuasa jemari yang tak terkendali.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved