Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

2017

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
31/12/2016 06:00
2017
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

HARI ini merupakan hari terakhir 2016.

Seperti perjalanan waktu yang pernah kita lalui, tidak ada yang berjalan linier.

Selalu ada tantangan yang membuat perjalanan kita mengalami pasang surut.

Banyak catatan menarik sepanjang tahun ini, yang bisa kita petik sebagai pembelajaran untuk menghadapi tahun menjelang.

Terpuruknya harga komoditas membuat banyak perusahaan terhuyung.

Namun, bagi mereka yang cepat melakukan penyesuaian, menjadi kesempatan untuk berkembang.

Salah satu yang terpukul ialah perusahaan-perusahaan minyak raksasa dunia.

Harga minyak yang turun dari di atas US$100 menjadi di bawah US$40 per barel membuat arus kas mereka terganggu.

Pilihan yang terpaksa mereka lakukan ialah memangkas jumlah pegawai dan melepas aset yang nilainya masih bagus.

Chevron, misalnya, memilih melepas tiga pembangkit listrik panas bumi mereka yang ada di Indonesia dan Filipina.

Perusahaan Indonesia Star Energy milik pengusaha Prajogo Pangestu mengambil alih aset Chevron tersebut.

Star Energy menjadi pemegang saham hampir 70% dari pembangkit listrik panas bumi yang nilainya lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp27 triliun.

Kita tentu bangga ada perusahaan Indonesia yang menjadi pemain kelas dunia.

Apalagi, panas bumi bukan hanya energi yang ramah lingkungan, melainkan potensi yang ada begitu besar.

Dari 29 ribu Mw potensi yang ada di Indonesia saja, baru sekitar 1.400 Mw yang kita manfaatkan.

Tidak bosan-bosan kita mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak sekadar menjadi penonton di era globalisasi.

Kita harus menjadi bangsa pemenang. Untuk itu kita harus mendukung perusahaan nasional agar bisa berbicara dalam tataran yang lebih tinggi.

Salah satu yang bisa kita lakukan untuk membuat perusahaan nasional memiliki daya saing ialah memberi kesempatan mereka terlibat dalam proyek pembangunan nasional.

Berbagai pembangunan infrastruktur dan pengadaan barang harus mendahulukan perusahaan nasional.

Kalau sekarang kita mempertanyakan pe ngadaan helikopter Augusta Westland 101 untuk Angkatan Udara misalnya karena kita memiliki industri dirgantara yang mampu membuat helikopter sejenis.

Kalau TNI-AU memaksakan membeli helikopter buatan Inggris, itu bukan hanya membuat devisa negara terbuang, tetapi kesempatan bagi putra-putra Indonesia untuk membuat helikopter menjadi hilang.

Tantangan kita bukan hanya pertumbuhan ekonomi dunia yang masih tertekan, tetapi kecenderungan semua negara untuk lebih inward looking.

Kita tentu bukan harus juga menjadi seperti 'katak dalam tempurung', tetapi kita harus mendahulukan kepentingan nasional, yaitu memajukan kemampuan anak-anak bangsa.

Persoalan kita untuk maju seringkali lebih terhambat oleh perilaku segelintir orang yang mementingkan diri sendiri.

Keinginan Presiden membuat harga daging di bawah Rp80 ribu per kg misalnya, hanya melahirkan pemburu rente baru.

Bahkan aturan berat maksimal sapi bakalan impor 350 kg coba diubah menjadi 500 kg.

Kalau sapi impor bisa langsung dipotong, lalu apa pekerjaan yang bisa didapat para peternak?

Kita tidak boleh lupa tiga tantangan ekonomi yang kita hadapi, yakni kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.

Pada 2017, pemerintah sudah menetapkan tingkat kemiskinan 10,5%, tingkat pengangguran 5,6%, dan rasio gini 0,39.

Semua itu hanya bisa dicapai apabila lebih banyak warga bangsa ini terlibat dalam pembangunan.

Resolusi yang perlu kita tetapkan bersama pada 2017, marilah kita hentikan sikap merugikan bangsa dan negara.

Buang jauh-jauh sikap untuk mengambil untung bagi diri sendiri saja.

Tugas konstitusional yang melekatkan pada kita semua ialah menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Semoga 2017 bisa lebih baik daripada 2016.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan