Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI
ini merupakan hari terakhir 2016.
Seperti perjalanan waktu yang pernah kita lalui, tidak ada yang berjalan linier.
Selalu ada tantangan yang membuat perjalanan kita mengalami pasang surut.
Banyak catatan menarik sepanjang tahun ini, yang bisa kita petik sebagai pembelajaran untuk menghadapi tahun menjelang.
Terpuruknya harga komoditas membuat banyak perusahaan terhuyung.
Namun, bagi mereka yang cepat melakukan penyesuaian, menjadi kesempatan untuk berkembang.
Salah satu yang terpukul ialah perusahaan-perusahaan minyak raksasa dunia.
Harga minyak yang turun dari di atas US$100 menjadi di bawah US$40 per barel membuat arus kas mereka terganggu.
Pilihan yang terpaksa mereka lakukan ialah memangkas jumlah pegawai dan melepas aset yang nilainya masih bagus.
Chevron, misalnya, memilih melepas tiga pembangkit listrik panas bumi mereka yang ada di Indonesia dan Filipina.
Perusahaan Indonesia Star Energy milik pengusaha Prajogo Pangestu mengambil alih aset Chevron tersebut.
Star Energy menjadi pemegang saham hampir 70% dari pembangkit listrik panas bumi yang nilainya lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp27 triliun.
Kita tentu bangga ada perusahaan Indonesia yang menjadi pemain kelas dunia.
Apalagi, panas bumi bukan hanya energi yang ramah lingkungan, melainkan potensi yang ada begitu besar.
Dari 29 ribu Mw potensi yang ada di Indonesia saja, baru sekitar 1.400 Mw yang kita manfaatkan.
Tidak bosan-bosan kita mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak sekadar menjadi penonton di era globalisasi.
Kita harus menjadi bangsa pemenang. Untuk itu kita harus mendukung perusahaan nasional agar bisa berbicara dalam tataran yang lebih tinggi.
Salah satu yang bisa kita lakukan untuk membuat perusahaan nasional memiliki daya saing ialah memberi kesempatan mereka terlibat dalam proyek pembangunan nasional.
Berbagai pembangunan infrastruktur dan pengadaan barang harus mendahulukan perusahaan nasional.
Kalau sekarang kita mempertanyakan pe ngadaan helikopter Augusta Westland 101 untuk Angkatan Udara misalnya karena kita memiliki industri dirgantara yang mampu membuat helikopter sejenis.
Kalau TNI-AU memaksakan membeli helikopter buatan Inggris, itu bukan hanya membuat devisa negara terbuang, tetapi kesempatan bagi putra-putra Indonesia untuk membuat helikopter menjadi hilang.
Tantangan kita bukan hanya pertumbuhan ekonomi dunia yang masih tertekan, tetapi kecenderungan semua negara untuk lebih inward looking.
Kita tentu bukan harus juga menjadi seperti 'katak dalam tempurung', tetapi kita harus mendahulukan kepentingan nasional, yaitu memajukan kemampuan anak-anak bangsa.
Persoalan kita untuk maju seringkali lebih terhambat oleh perilaku segelintir orang yang mementingkan diri sendiri.
Keinginan Presiden membuat harga daging di bawah Rp80 ribu per kg misalnya, hanya melahirkan pemburu rente baru.
Bahkan aturan berat maksimal sapi bakalan impor 350 kg coba diubah menjadi 500 kg.
Kalau sapi impor bisa langsung dipotong, lalu apa pekerjaan yang bisa didapat para peternak?
Kita tidak boleh lupa tiga tantangan ekonomi yang kita hadapi, yakni kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.
Pada 2017, pemerintah sudah menetapkan tingkat kemiskinan 10,5%, tingkat pengangguran 5,6%, dan rasio gini 0,39.
Semua itu hanya bisa dicapai apabila lebih banyak warga bangsa ini terlibat dalam pembangunan.
Resolusi yang perlu kita tetapkan bersama pada 2017, marilah kita hentikan sikap merugikan bangsa dan negara.
Buang jauh-jauh sikap untuk mengambil untung bagi diri sendiri saja.
Tugas konstitusional yang melekatkan pada kita semua ialah menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Semoga 2017 bisa lebih baik daripada 2016.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved