Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
TWITTER kayaknya bakal menjadi saluran resmi Presiden AS Donald Trump berkomunikasi dengan publik dalam negeri, ataupun dunia. Hingga saat ini, baginya tak ada beda suasana berkicau melalui Twitter saat berkampanye sebagai capres dengan kini sebagai presiden terpilih. Tidak berlebihan untuk mengatakan setelah 20 Januari 2017, resmi bersinggasana di Gedung Putih, Presiden Trump akan melanjutkan kegemarannya berkicau via Twitter.
Melalui media sosial itu, seluruh dunia dapat mengikuti kicauan aneh dari presiden aneh itu. Diperlukan 'ketenangan' tersendiri membacanya karena kicauannya besar kemungkinan berisi kebijakan yang bisa bikin panas hati pemerintah di belahan dunia lain, terlebih buat publik AS sendiri.
Kicauan paling panas bagi publik AS ialah pujian Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengecam Hillary Clinton dan partainya, Demokrat. Dalam sebuah konferensi pers, Putin bilang Demokrat kalah di semua front dan mencari orang untuk disalahkan di mana saja. "Mereka perlu belajar untuk kalah dengan bermartabat."
Gendang bersambut, pada 24 Desember 2016, Trump mencicit pernyataan Putin itu dengan eksplisit menyebut nama Hillary dan menambahkan pujian, "So true!" Alias Putin benar banget! Kritik lalu berhamburan terhadap Trump, antara lain membalikkan perihal martabat (dignity) kepadanya. Master KGB bakal masuk ke pertahanan AS dan Trump bangga akan hal ini?
"Have you no dignity whatsoever?" Ada yang dengan nada kurang ajar bilang, "This is your leader America. Merry fucking Christmas." Maaf, dalam suasana kesucian Natal, saya mengutipnya. Patut diantisipasi bahwa jari jemari Trump bakal kian ringan dan lincah menyentuh keyboard mengirim pesan apa saja, terutama berisi kebijakannya, melalui Twitter. Contohnya, perihal bom nuklir.
Pada 22 Desember 2016, dia mengatakan AS harus dengan hebat memperkuat dan melanjutkan kapabilitas nuklir. Hanya dengan satu kalimat, 118 karakter di Twitter, Trump meluluhlantakkan kebijakan nuklir para pemimpin AS, mulai dari Richard Nixon, Jimmy Carter, Ronald Reagan, George HW Bush, Bill Clinton, George W Bush, hingga Barack Obama, yang telah bersusah payah mengempeskan senjata nuklir Rusia.
Melalui Twitter pula Trump menyampaikan keputusannya kepada Boeing, pabrik pesawat terbang terbesar AS, untuk membatalkan order pembelian pesawat kepresidenan Air Force One yang baru. Trump menuduh biayanya di luar kendali, lebih dari US$4 miliar. Katanya, kita ingin Boeing bikin uang, tetapi tidak sebanyak itu.
"Cancel order!" perintahnya di Twitter. Sebelumnya, presiden terpilih Trump lebih dulu menyebarluaskan hasil perbincangannya dengan pimpinan puncak pabrik mobil Ford, bahwa Ford membatalkan rencana mereka memindahkan pabrik dari Kentucky ke Meksiko.
Padahal, tidak benar Ford akan menutup pabriknya di AS itu. Julian Assange, pendiri Wikileaks, berpendapat Presiden Trump bakal membawa perubahan yang terburuk dan lebih baik sekaligus. Assange bekerja sama dengan Rusia membocorkan e-mail Hillary Clinton, yang menjadi salah satu faktor kekalahan Hillary.
Ia membahasakan pembocoran e-mail itu atas nama demokrasi dan telah dilakukannya sejak Hillary menjadi Menlu AS. Sejauh ini yang terbaca ialah Trump lebih baik bagi Rusia, terburuk bagi Tiongkok. Bahkan, kebijakan luar negeri hanya ada satu Tiongkok yang selama ini dijalani sebagai status quo, naga-naganya bakal diobrak-abrik Trump, dengan mengakui Taiwan.
Kebijakan membawa perubahan yang lebih baik dan terburuk itu dilansir melalui Twitter. Media sosial yang satu itu bakal menjadi-jadi di genggaman Trump. Bahkan, ada profesor komunikasi yang menyebutnya sebagai tweeter in chief. pakah komunikasi presiden melalui media sosial dapat dipertanggungjawabkan?
Apakah itu sehat bagi demokrasi yang selama ini hidup bersama kebebasan pers sebagai pilar keempat? Bukankah Twitter, Facebook, dan lain-lain itu bukan pers, melainkan mesin, bahkan mesin bisnis? Pertanyaan itu salah alamat karena Trump percaya media sosial, khususnya Twitter, di jari jemarinya telah menjadi kekuatan kelima.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved