Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Desa Selo, Boyolali, banyak warga menjalankan usaha pertanian.
Dinginnya cuaca di kaki
dimanfaatkan dengan menanam tembakau.
Ketika ditanya berapa pendapatan dari bercocok tanam, seorang petani menjawab, pendapatan enam bulan menanam tembakau sekitar Rp1,5 juta.
Kita pasti geleng-geleng kepala mengetahui ada satu keluarga pendapatan per bulannya Rp250 ribu.
Namun, itulah potret kehidupan sebagian masyarakat kita.
Sementara itu, ada orang sekali makan di restoran bisa mengeluarkan Rp250 ribu.
Kesenjangan merupakan salah satu persoalan besar. Setelah reformasi yang kita anggap sebagai koreksi terhadap arah pembangunan yang tidak memberikan pemerataan, justru kesenjangan itu semakin parah.
Fakta itu semakin nyata kalau kita melihat data perbankan. Bagian terbesar aset hanya dimiliki segelintir orang.
Penguasaan tanah dan properti lebih mengerikan lagi.
Tanah dan properti hanya dikuasai oleh enam kelompok usaha.
Kalau persoalan ini tidak juga diselesaikan, itu akan menjadi bibit gejolak sosial.
Sangat mudah kondisi ini direfleksikan sebagai ketidakadilan.
Kesempatan itu ternyata tidak dimiliki oleh semua warga.
Langkah koreksi paling masuk akal ialah menerapkan pajak lebih berkeadilan.
Itulah upaya distribusi kemakmuran yang bisa diterima semua pihak.
Kita menghargai langkah Menkeu Sri Mulyani Indrawati melanjutkan reformasi pajak yang terhenti selama 10 tahun.
Perbaikan sistem dan pembenahan sumber daya manusia tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Hanya saja itu tidak memadai.
Ahli ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, mengusulkan langkah lebih radikal.
Pertama ialah menambah jumlah aparat pajak dan kedua menerapkan sistem target yang harus bisa dicapai setiap petugas pajak.
Anggito membandingkan organisasi Ditjen Pajak dengan BRI.
BRI untuk mengelola aset yang nilainya tidak lebih Rp200 triliun memiliki pegawai sekitar 120 ribu orang.
Ditjen Pajak yang harus mengejar target Rp1.400 triliun jumlah pegawainya tidak lebih dari 40 ribu orang. Tentu jumlah saja tidak menjawab persoalan.
Yang tidak kalah penting bagaimana target pajak itu dibagi kepada setiap aparat di lapangan.
Tidak mungkin dengan cara seperti sekarang, yang tidak ada punish and reward atas kinerja yang diraih.
Apakah kita mampu melakukan transformasi? Kapasitas bangsa ini sebenarnya besar.
Kita bisa lihat transformasi yang dilakukan PT Pertamina atau PT Kereta Api Indonesia.
Kuncinya tinggal memilih orang yang tepat untuk melakukan transformasi dan pimpinan lebih mengarahkan.
Kalau transformasi bisa dilakukan di Ditjen Pajak, kemampuan negara menggerakkan pembangunan semakin besar.
Dengan produk domestik bruto terus meningkat, penerimaan pajak seharusnya bisa meningkat.
Sayangnya, rasio pajak kita tidak pernah beranjak pada angka 11%-12%.
Di sinilah tanggung jawab mereka yang mendapatkan privilese dan memiliki kelebihan untuk lebih patuh membayar pajak.
Pajak yang dibayarkan itu membuat pemerintah bisa melakukan kegiatan mengurangi kesenjangan.
Tentu bukan cara memberikan ikan, tetapi pancing agar masyarakat kelompok bawah bisa lebih berdaya.
Kita harus sadar, mengurangi kesenjangan tidak bisa seketika.
Kita harus memulainya sekarang karena esok jangan-jangan kecemburuan sudah terjadi.
Itu bisa membuyarkan pembangunan yang sudah susah payah kita lakukan.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved