Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TAK ada sejarah tercipta di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12). Yang ada hanyalah peristiwa ulangan, tahun-tahun ketika timnas ‘Garuda’ ditaklukkan tim ‘Gajah Perang’ pada 2000 dan 2002. Tahun berikutnya pada 2004, Laskar Garuda juga menyerah kepada Singapura dan pada 2010 takluk kepada Malaysia. Memang takdir yang menyakitkan, lima kali masuk final sejak Piala AFF dihelat pada 1996, lima kali pula konsisten di posisi kedua.
Kemenangan 2-1 di leg pertama di Stadion Pakansari, Bogor, 14 Desember 2016, tak bisa menjadi modal berharga yang mampu menghambat laju timnas Thailand di kandang mereka sendiri. Malam itu, tim ‘Garuda’ takluk 0-2 atau kalah dengan agregat 2-3. Pupuslah bola yang dinujum menjadi puncak kegembiraan di tengah keterbelahan bangsa dengan berbagai ‘aksi’ belakangan ini.
Jika ingin menghibur diri, inilah juara tanpa mahkota. Sebutan untuk timnas kita. Seperti Belanda yang mendapat predikat serupa karena beberapa kali masuk final Piala Dunia, tapi tak pernah menjadi juara pertama. Akan tetapi, pencapaian timnas dengan senarai persiapan jauh dari ideal, inilah capaian yang luar biasa. Apa pun, ia telah menjadi oasis di tengah kondisi politik kita yang panas menjelang pilkada Jakarta pada Februari 2017.
Kami sekeluarga menonton putaran final leg kedua Piala AFF 2016 di tiga tempat berbeda. Me lalui grup WA keluarga, kami terus menyemai harapan, bahkan hingga menit-menit akhir. Padahal, gawang Kurnia Mega dua kali dirobek striker bertubuh gempal Sirod Chatthong pada menit ke-37 dan 47. Penantian yang muskil memang. Namun, bukankah keajaiban kerap hadir di waktu-waktu akhir? Antiklimaks!
Sejarah pun mencatat, sejak 1957 dari 75 kali pertemuan, Indonesia hanya menang 24 kali, sedangkan Thailand menang 37 kali, dan imbang 14 kali. Kekompakan, semangat tinggi, modal kemenangan, yang sebelumnya kami banggakan, tidak terlihat di Stadion Rajamangala. “Tak ada hasil maksimal tanpa segala persiapan yang memadai. Tak ada yang instan,” kata seorang komentator televisi.
Gagallah bola yang kita bicarakan berhari-hari menjadi penghiburan kami yang sempurna. Benarlah kata sebuah adagium, jangan berharap memanen jika tak menanam dengan baik. Pada 2012 dan 2014, tim ‘Garuda’ tak lolos di fase grup. Sepak bola kita kacau. Perhelatan antarklub penuh masalah, hingga tak direstui pemerintah. Perseteruan Ketua PSSI La Nyalla Mattalitti, waktu itu, dan Menpora Iman Nahrawi, berujung dibekukannya PSSI oleh FIFA.
Memang kegagalan itu menyesakkan dada. Indonesia yang pernah digdaya pada era 1960- an hingga 1980-an, negeri berpenduduk hampir separuh jumlah penduduk Asia Tenggara, takluk berkali-kali di ajang olahraga rakyat ini. Thailand lima kali juara AFF. Singapura, negara kota berpenduduk 5,5 juta, empat kali juara. Vietnam dan Malaysia masing-masing satu kali.
Bola di Indonesia yang mempunyai daya magis luar biasa yang kerap menjadi barometer nasionalisme harus berbenah total. Terpilihnya Ketua Umum PSSI yang baru Edy Rahmayadi, menggantikan La Nyalla Mattalitti yang tersangkut kasus pidana, benar-benar harus menjadi momentum pembenahan. Reformasi di tubuh PSSI, pembinaan usia dini, pemilihan pelatih, kompetisi antarklub, perwasitan, distribusi tiket, dan hal-hal lain yang menyangkut industri sepak bola tak bisa menunggu waktu.
Karena bola di negeri ini teramat penting, mestinya ditangani amat serius sebagai kepentingan bangsa dan negara. Aneh jika ada aturan klub hanya membolehkan dua pemain untuk timnas. Ini harus ditinjau ulang. Bicara bola ialah bicara manusia, niaga, dan bangsa. Bermain bola ialah bicara kerja sama dengan syarat utama sportivitas.
Sportivitas ialah sikap adil terhadap lawan; mengakui keunggulan lawan, dan mengakui kelemahan diri sendiri. Politik mestinya belajar dari bola. Kita semua harusnya belajar dari bola.***
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved