Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
JUDUl itu bukanlah sebuah nubuat hampa bagi Timnas Indonesia. Harapan dan takdir kemenangan selalu punya banyak alasan untuk bicara. Berkali-kali masuk final (ini ke lima kali) tapi belum pernah juara; rasa teralienasi dari palagan antarnegara selama satu setengah tahun karena dilarang FIFA; persiapan yang minim dan tim yang tak diunggulkan, inilah senerai ketidakberuntungan yang justru menjadi motivasi tinggi.
Ia menjadi vitamin yang menguatkan. Stadion Pakansari, Bogor, pun menjadi saksi motivasi tinggi itu mampu mengempaskan sang juara bertahan Thailand 2-1. Inilah putaran pertama Final Piala AFF 2016 yang menegangkan: menguras emosi, juga air mata. Dua anak kami yang sulung dan bungsu, malam itu ada di antara puluhan ribu penonton yang riuh.
Kakak-beradik itu membawa bendara Merah-Putih yang terus dikibarkan dengan gempita setelah Rizky Pora menjebol gawang anak-anak asuhan Kiatisuk Senamuang itu. Mereka menjadi anasir 12 Timnas Indonesia yang Rabu malam lalu berjihad merebut mahkota juara. Saya tengah menghadiri sebuah acara ketika laga itu berjalan, sebentar mencuri waktu, mengintip babak pertama laga via live streaming di laptop.
Dibobolnya gawang Kurnia Mega oleh Teerasil Dangda pada menit ke-33 dan tim kita yang terus tertekan, membuat kami jadi setengah patah arang. Laptop segera kami tutup, lalu meneruskan acara, dan pulang dengan kecemasan terpilin-pilin. Namun, misteri si kulit bundar, terus jadi asa yang tak sirna. Bukankah Irak yang porak poranda karena perang jadi kampiun Piala Asia 2007?
Ia mengalahkan Arab Saudi yang damai dan makmur. Bukankah Korea Selatan mampu menghancurkan keperkasaan Italia dan Spanyol pada Piala Dunia 2002? 'Si anak bawang' Yunani juga mampu mengubur mimpi Portugal di final Piala Eropa 2004. Di Asia Tenggara Thailand memang kini tengah di puncak jaya, tapi kita pernah beberapa kali mengalahkannya. Jadi, ia bukanlah batu karang. Terbukti setelah Rizky Pora, Hansamu Yama Pranata, bek yang jangkung itu, mampu menghancurkan benteng Thailland.
Kami merayakan kemenangan di sebuah kedai mi Aceh tak jauh dari rumah. Dua anak kami yang pulang dengan sepatu penuh lumpur, melahap mi goreng special yang gusto sambil terus bercerita suasana tegang berubah menjadi penuh gloria. Padahal, banyak di antara mereka datang dari berbagai tempat jauh, antre tiket sejak pagi buta, kehilangan barang berharga, tapi malam itu seluruh penat dan letihnya tertebus sudah.
"Hanya ada kegembiraan luar biasa di stadion," kata si sulung. "Beruntung bisa nonton langsung. Indonesia konsisten memasukkan dua gol," tambah si bungsu. Saya memastikan mereka yang berbeda panggung dalam banyak aksi, seperti 'Aksi 411', 'Aksi 3011', ' Aksi 212', dan 'Aksi 412', malam itu menjadi satu hati dukung Timnas Indonesia atau 'Aksi 1412'. Saya baca banyak kicauan twitter yang berbeda, saling sapa untuk bola. Bola memang saling menumbangkan tetapi juga menyatukan. Bola membuat yang egois menjadi altruis.
Yang soliter menjadi solider. Yang berbeda menjadi bersama. Terlebih, kini bola menjadi permainan yang kian nikmat saja dihubungkan dengan hal-hal di luar bola. Ia bisa menjadi drama epik atau tragedi tergantung takdir mengukirnya sebagai pemenang atau pecundang. Pertemuan Argentina vs Inggris, Jerman vs Belanda, Jepang vs Korea Selatan, atau Indonesia vs Malaysia, kerap menghadirkan penggalan sejarah perseteruan mereka di masa lalu.
Bola memang 'perang' antarbangsa paling beradab, penuh estetika, dan amat menghibur. Saya tak bosan menulis Timnas Indonesia. Pekan silam setelah Indonesia mengandaskan Vietnam dengan agregat 4-3, saya menulis kolom berjudul 'Bola Kita'. Saya memang ingin pelatih Alfred Riedl, mengukir sejarah.
Kita ingin kapten Boaz Salossa menuntaskan dedikasi yang penuh makna. Kita ingin Kurnia Mega, Manahati Lestusen, Stefano Lillipaly, Rizky Pora, Hansamu Yama, Benny Wahyudi, dan seluruh pemain yang beragam latar belakang itu, menggenapkan kebanggaan itu: merekatkan kebangsaan kita yang hampir merapuh.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved