Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Jujur

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
21/5/2015 00:00
Jujur
(Grafis/SENO)
BERKACA pada peribahasa, kiranya nenek moyang kita termasuk arif bijaksana. Sayang mereka telah tiada sehingga tak membaca pujian itu. Dua di antaranya ialah 'Hemat pangkal kaya' dan 'Rajin pangkal pandai'. Bahwa ada yang berhemat dan tak kunjung kaya, jangan salahkan peribahasa. Orang realistis dan sedikit sinis bilang memang harus ada yang miskin untuk menandai ada yang kaya. Saya penasaran, apakah nenek moyang kita juga menciptakan peribahasa tentang jujur. Saya siap dicap sebagai anak cucu kurang ajar berkesimpulan nenek moyang kayaknya tidak mengenal kejujuran.

Dalam buku Kamus Peribahasa (1991) yang disunting oleh Sarwono Pusposaputro, misalnya, tak ada entri kata 'jujur'. Ada dua kemungkinan. Pertama, jujur dipandang tidak penting. Yang penting pandai dan kaya. Pandai tapi miskin, bukan idaman. Pandai, jujur, miskin, disayangkan bahkan dicemooh. Mudah-mudahan nenek moyang kita bukan jenis yang berpandangan jujur tidak penting. Namun, pernyataan itu gugur ketika saya menemukan peribahasa yang menggunakan kata 'curi', yaitu 'Pandai mencuri serasa mendapat, tak pandai mendapat serasa mencuri'.

Kamus memberi arti, 'apa yang dicuri secara lihai kelihatannya diraih, apa yang didapat dengan merampas tampak dicuri'. Saya terperangah, tidakkah itu berarti nenek moyang samar-samar merestui mencuri asal dengan lihai? Untung nenek moyang sudah tiada sehingga tak membaca cercaan anak cucu itu. Kemungkinan kedua, dalam alam pikiran nenek moyang bersemayam kejujuran merupakan salah satu kualitas hebat manusia Indonesia yang sudah ada dari sononya, karena itu tak perlu diperibahasakan. Yang perlu diikhtiarkan ialah menjadi pandai dan kaya, untuk itu dinasihati agar rajin dan hemat.

Kemungkinan mana pun yang benar, satu perkara jelas, yaitu jujur tidak eksplisit diekspresikan. Bahkan manusia Indonesia modern dewasa ini membungkus jujur dalam kata 'integritas', serapan dari perbendaharaan asing yang tentu saja tak ada dalam peribahasa ciptaan nenek moyang. Contohnya, kita mencari komisioner KPK yang berintegritas. Dengan pengertian dan juga asumsi bahwa dalam 'integrity' salah satunya berisi 'honesty', tapi kita enggan menyerap lengkap dengan peribahasa 'honesty is the best policy'. Karena itu, menggembirakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengubah ujian nasional dari penentu kelulusan menjadi upaya memetakan pendidikan nasional dan membangun integritas melalui indeks integritas ujian nasional.

Hanya tujuh dari 34 provinsi dengan SMA/sederajat meraih indeks integritas di atas 80%, yaitu Yogyakarta, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur. Dulu, UN jadi sarana mencapai prestasi dengan segala cara. UN sebagai penentu kelulusan membuat anak, orangtua, guru, sekolah, dan dinas pendidikan membunuh kejujuran. Padahal, sekolah tempat penyemaian harkat kemanusiaan dan prestasi tidak boleh dicampuradukkan dengan harkat manusia. Atlet yang memecahkan rekor dengan doping harus dicabut harkatnya. Ia sesungguhnya telah mati. Singa mati tidak lebih berharga daripada anjing hidup. Sekarang UN dimaksudkan mengikis kecurangan. Namun, sejauh ini belum tampak apresiasi bahwa tertinggi dalam kejujuran lebih membanggakan dan dihargai daripada tertinggi dalam prestasi dengan menjiplak sekalipun.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.