Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI hari kahirannya kisah Nabi Muhammad SAW dihidupkan kembali. Peringatan kelahiran sang Nabi menggema di banyak tempat (ibadah), meski ada yang berpendapat peringatan serupa itu bid'ah. Ucapan selamat memeperingati Maulid Nabi, khususnya di media sosial, juga lebih ramai, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seperti ada ghirah baru 'menapaktilas' jejak Nabi terakhir penyebar agama samawiu. Status facebook umumnya juga berisi tentang Muhammad. Saya kutip status facebook intelektual Komaruddin Hidayat, kemarin (12-12).
"Riwayat hidup Nabi Muhammad paling komplit dibaca ketimbang nabi-nabi sebelumnya....Yang paling monumental adalah mushaf Alqur'an yang tersebar dan dipelajari di seluruh dunia. Semua warisannya dijaga dari generasi ke generasi. Jika terjadi perbedaan penafsiran bisa ditelusuri mata rantai sejarahnya dan asal usul mazhab dengan metode tafsirnya. Penafsiran itu relatif, namun sumbernya absolut dan sakral. Meminjam frase Hussein Nashr, produk penafsiran itu relatively absolut, absolutely relative. Tapi tidak setiap orang punya otoritas menafsirkan karena mensyaratkan kedalaman dan keluasan ilmu," tulis mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu..
Mereka mengangkat keteladanan Rasulullah diberi predikat al-amin (jujur), adil, penyabar, dan pemaaf. Ini agaknya karena belakangan hubungan kita agak menegang karena perbedaan pendapat dalam kasus Ahok. Kisah Sang Nabi diharapkan bisa mendinginkan suasana. Sebab, ghibah (menjelekkan orang lain), naminah (menghasut) atau mengacum, bahkan ajujah (fitnah), sepert menjadi sisi paradoks kita yang paling nyata. Mengacum para pengikut yang mudah digerakkan tanpa akal sehat, memang seperti kegemaran baru bangsa ini.
Padahal, di banyak ceramah dan khotbah para pendakwah selalu mengingatkan agar kita selalu menjauh dari seluruh perkara yang tercela; melakukan tabayun untuk perkara-perkara yang belum jelas. Tetapi, media sosial telah menjadi 'tong sampah raksasa' yang menampung apa saja: sumpah serapah, caci maki, kebencian, amarah. Nabi yang adil dan pemaaf itulah yang juga 'diperebutkan' dalam kasus Ahok. Ia telah meminta maaf berkali-kali, tetapi jalan hukum telah ditetapkan menjadi pembuktian siapa salah dan siapa yang benar. Hari ini kasusnya pun mulai disidangkan.
Ghibah dan fitnah memang hidup di segala zaman. Di masa Nabi ada sosok bernama Abdullah ibn Ubay yang tak pernah berhenti mengacum kaum Anshar dan Muhajirin. Para sahabat Nabi geram, bahkan ingin membunuh ibn Ubay, tetapi Muhammad justru memafkannya. Orang ini pula yang kemudian bersama Misthah ibn Utsatsah, Hassan ibn Tsabit, Hamna bin Yahsy, berkomplot untuk membuat fitnah yang lebih keji pada istri Nabi, yakni Aisyah. Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad (2015) yang ditulis sejarawan kenamaan Mesir, Muhammad Husain Haekal, diceritakan mereka menfitnah Aisyah berzinah dengan pemuda tampan, Shafwan.
Inilah fitnah keji yang membuat penduduk Madinah gempar dan hubungan Muhammad dan Aisyah pun nyaris beku. Mereka kemudian dihukum dera setelah turun wahyu Surat Al-Nur yang salah satu ayatnya mengatakan orang yang menuduh wanita baik-baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka.... Namun, setelah menjalani hukuman, Muhammad menerima kembali mereka dengan hangat. Tak ada benci, tak ada dendam.
Ada pula pemanah bernama Suraqah bin Malik al-Madlaji. Ia peserta sayembara membunuh Muhammad untuk mendapatkan bayaran 100 unta betina yang siap beranak. Tetapi, setelah Suraqah gagal menjalankan misinya, Nabi justru memaafkannya. Begitu banyak teladan Muhammad yang menjadi pemandu dan obor penerang umat. Mestinya momen peringatan hari kelahirannya menjadi oasis bagi jiwa-jiwa kita yang penuh kebencian dan prasangka. Saatnya berhenti mengacum, adu domba, dan ajujah.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved