Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA hening cipta dan munajat doa di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam, Rabu malam lalu. Kedua skuat yang hendak berlaga, yakni timnas Indonesia dan Vietnam, penonton di dalam palagan bola berkapasitas 40 ribu orang itu, menundukkan kepala. Pada pertandingan semifi nal sebelumnya di Stadion Pakansari, Bogor, kedua tim dan seluruh penonton juga khusyuk berdoa untuk korban para pemain klub Chapecoense, Brasil, yang nahas karena kecelakaan pesawat udara.
Timnas Indonesia pun mendedikasikan kemenangan atas Vietnam dan ke fi nal untuk bangsa yang tengah berduka karena gempa di Aceh. Bahkan, Indonesia telah menyiapkan pita hitam yang hendak disematkan di lengan. Kapten timnas Boaz Solossa dan Manahati Lehtusen yang menyarangkan satu gol ke gawang Vietnam kompak mendedikasikan kemenangan itu untuk Aceh yang berduka. “Semoga mereka (rakyat Aceh) bisa cepat lebih baik,” kata Boaz seusai laga.
Sepak bola modern punya kultur menyatukan manusia yang beraneka ras, bangsa, warna kulit, ideologi, dan agama. Karena itu, setiap ada malapetaka yang merenggut nyawa manusia, sepak bola tampil ke muka. Di klub-klub bola, misalnya, keragaman disatukan dalam kata bernama profesionalitas. Tak pandang ia berwarna gelap atau terang, beragama Kristen, Islam, Buddha, Hindu, atau iman lain.
Di klub-klub besar Eropa, misalnya, kian banyak pemain beragama Islam, yang pada dekade-dekade sebelumnya tak tampak. Lihatlah di timnas Indonesia, ketika menyarangkan bola ke jala lawan, ada yang melakukan sujud bersama, membuat tanda salib di dada, mengangkat dua tangan seraya memanjatkan doa, atau ada yang bergoyang menari di tepian. Religiositas mereka bergerak spontan untuk bersyukur pada Sang Ilahi seusai mengukir sebuah prestasi. Dalam suasana duka Aceh itu, timnas kita yang tak diunggulkan melaju ke final Piala AFF 2016.
Indonesia akan menghadapi Thailand setelah tim itu dua kali menggunduli Myanmar 4-0 dan 2-0. Untuk kelima kalinya Indonesia melaju ke fi nal sejak Piala AFF diadakan pada 1996, tapi sekali pun belum pernah juara. Indonesia memang melaju agak tertatih, selalu menyarangkan dua gol ke jala lawan. Di babak penyisihan grup, Indonesia kalah dari Thailand 2-4, menahan seri 2-2 Filipina, dan mengalahkan Singapura 2-1. Di semifinal, menang atas Vietnam 2-1 pada pertemuan pertama dan seri 2-2 di laga kedua.
Timnas Indonesia memang baru bebas setelah satu setengah tahun terkena kartu merah FIFA. Pelatih Alfred Riedl hanya punya waktu tiga bulan membangun tim. Kepalanya pun perpendar memilih pemain yang terbatas itu karena klub-klub bola hanya membolehkan dua pemain yang bisa diambil untuk timnas. Sebuah aturan yang aneh! Kepentingan nasional dikalahkan kepentingan komersial klub. Karena itu, pencapaian ke final jadi istimewa.
Sudah bisa dibayangkan, stadion mana pun untuk laga kandang pasti akan menjadi megnet tiada terkira para pecinta bola kita. Antre tiket akan jadi pemandangan yang terulang setiap timnas berjuang. Tak usahlah laga final, di laga persahabatan saja, bola selalu punya sihir sendiri. Di negeri ini,permainan si kulit bundar ini memang seperti pelipur segala perkara.
Dalam situasi seperti apa pun, timnas selalu digilai para pecintanya. Sayang sebelumnya selalu jadi pecundang. Tak ada nubuat pasti siapa pecundang, siapa pemenang di fi nal nanti. Juara bertahan Thailand pasti banyak diunggulkan. Namun, dalam suasana duka Aceh, inilah momen terbaik bagi kita untuk menjadi terapi jiwa-jiwa yang berduka.
Kemenangan Indonesia juga akan menjadi ‘pembersih’ udara politik kita yang akhir-akhir ini penuh purbasangka. Sepak bola ialah pertandingan, tapi bukan permusuhan. Ia selalu memunculkan rivalitas, tapi juga mengundang solidaritas. Solidaritas untuk sepak bola. Solidaritas untuk Aceh. Solidaritas untuk Indonesia!
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved