Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bola Kita

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/12/2016 05:31
Bola Kita
(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/)

ADA hening cipta dan munajat doa di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam, Rabu malam lalu. Kedua skuat yang hendak berlaga, yakni timnas Indonesia dan Vietnam, penonton di dalam palagan bola berkapasitas 40 ribu orang itu, menundukkan kepala. Pada pertandingan semifi nal sebelumnya di Stadion Pakansari, Bogor, kedua tim dan seluruh penonton juga khusyuk berdoa untuk korban para pemain klub Chapecoense, Brasil, yang nahas karena kecelakaan pesawat udara.

Timnas Indonesia pun mendedikasikan kemenangan atas Vietnam dan ke fi nal untuk bangsa yang tengah berduka karena gempa di Aceh. Bahkan, Indonesia telah menyiapkan pita hitam yang hendak disematkan di lengan. Kapten timnas Boaz Solossa dan Manahati Lehtusen yang menyarangkan satu gol ke gawang Vietnam kompak mendedikasikan kemenangan itu untuk Aceh yang berduka. “Semoga mereka (rakyat Aceh) bisa cepat lebih baik,” kata Boaz seusai laga.

Sepak bola modern punya kultur menyatukan manusia yang beraneka ras, bangsa, warna kulit, ideologi, dan agama. Karena itu, setiap ada malapetaka yang merenggut nyawa manusia, sepak bola tampil ke muka. Di klub-klub bola, misalnya, keragaman disatukan dalam kata bernama profesionalitas. Tak pandang ia berwarna gelap atau terang, beragama Kristen, Islam, Buddha, Hindu, atau iman lain.

Di klub-klub besar Eropa, misalnya, kian banyak pemain beragama Islam, yang pada dekade-dekade sebelumnya tak tampak. Lihatlah di timnas Indonesia, ketika menyarangkan bola ke jala lawan, ada yang melakukan sujud bersama, membuat tanda salib di dada, mengangkat dua tangan seraya memanjatkan doa, atau ada yang bergoyang menari di tepian. Religiositas mereka bergerak spontan untuk bersyukur pada Sang Ilahi seusai mengukir sebuah prestasi. Dalam suasana duka Aceh itu, timnas kita yang tak diunggulkan melaju ke final Piala AFF 2016.

Indonesia akan menghadapi Thailand setelah tim itu dua kali menggunduli Myanmar 4-0 dan 2-0. Untuk kelima kalinya Indonesia melaju ke fi nal sejak Piala AFF diadakan pada 1996, tapi sekali pun belum pernah juara. Indonesia memang melaju agak tertatih, selalu menyarangkan dua gol ke jala lawan. Di babak penyisihan grup, Indonesia kalah dari Thailand 2-4, menahan seri 2-2 Filipina, dan mengalahkan Singapura 2-1. Di semifinal, menang atas Vietnam 2-1 pada pertemuan pertama dan seri 2-2 di laga kedua.

Timnas Indonesia memang baru bebas setelah satu setengah tahun terkena kartu merah FIFA. Pelatih Alfred Riedl hanya punya waktu tiga bulan membangun tim. Kepalanya pun perpendar memilih pemain yang terbatas itu karena klub-klub bola hanya membolehkan dua pemain yang bisa diambil untuk timnas. Sebuah aturan yang aneh! Kepentingan nasional dikalahkan kepentingan komersial klub. Karena itu, pencapaian ke final jadi istimewa.

Sudah bisa dibayangkan, stadion mana pun untuk laga kandang pasti akan menjadi megnet tiada terkira para pecinta bola kita. Antre tiket akan jadi pemandangan yang terulang setiap timnas berjuang. Tak usahlah laga final, di laga persahabatan saja, bola selalu punya sihir sendiri. Di negeri ini,permainan si kulit bundar ini memang seperti pelipur segala perkara.

Dalam situasi seperti apa pun, timnas selalu digilai para pecintanya. Sayang sebelumnya selalu jadi pecundang. Tak ada nubuat pasti siapa pecundang, siapa pemenang di fi nal nanti. Juara bertahan Thailand pasti banyak diunggulkan. Namun, dalam suasana duka Aceh, inilah momen terbaik bagi kita untuk menjadi terapi jiwa-jiwa yang berduka.

Kemenangan Indonesia juga akan menjadi ‘pembersih’ udara politik kita yang akhir-akhir ini penuh purbasangka. Sepak bola ialah pertandingan, tapi bukan permusuhan. Ia selalu memunculkan rivalitas, tapi juga mengundang solidaritas. Solidaritas untuk sepak bola. Solidaritas untuk Aceh. Solidaritas untuk Indonesia!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.