Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
POPULISME sebagai paham kian perkasa di berbagai negara. Terakhir, hal itu terbukti di Italia, Minggu (4/12). Warga Italia dengan 59,1% suara menolak perubahan konstitusi yang ditawarkan PM Matteo Renzi. Akibatnya, Renzi mengundurkan diri. Pemilu kelak diprediksi bakal dimenangi kalangan populis radikal, Five Star Movement, yang dipimpin komedian Beppe Grillo. Bila berkuasa, Grillo akan mengadakan referendum untuk meninggalkan euro, menghidupkan mata uang lira, bahkan Italia sangat berkemungkinan menyusul Inggris keluar dari Uni Eropa.
Substansi pokok populisme ialah untuk mendapatkan dukungan dari warga biasa, populisme memberi apa yang mereka inginkan. Sesungguhnya, tidak ada riwayat Trump sebagai populis. Ia kapitalis dan elitis seasli-aslinya. Namun, faktanya kelas pekerja dan kalangan taat beragama memercayai populisme yang dijanjikannya. Dua per tiga warga kulit putih tak bergelar sarjana dan 80% evangelis kulit putih memilih Trump menjadi presiden.
Sebuah statistik kiranya cukup menggugah, sebagian besar pekerjaan pria Amerika menjadi sopir mobil, bus, atau truk. Lebih dari tiga juta orang Amerika sopir truk profesional. Delapan tahun AS dipimpin Presiden Barack Obama, elite cerdas dari Partai Demokrat, tidak membuat hidup warga biasa menjadi lebih baik. Pendapatan kelas pekerja merosot. Populisme pun laku keras sekalipun digaungkan capres norak dan instan menjadi populis. Di Italia dan Prancis, populisme itu kiranya berkaitan dengan tingginya pengangguran.
Sejak 2012, angka pengangguran di Italia di atas 10%, yaitu 10,7% (2012), 12,2% (2013), 12,7% (2014), dan 11,9% (2015). Di Prancis, pada tahun yang sama, pengangguran naik terus, yaitu 9,4% (2012), 9,9% (2013), 10,3% (2014), dan 10,4% (2015). Namun, di Inggris, yang terjadi sebaliknya, pengangguran terus berkurang dari 8,0% pada 2012 menjadi 7,9% (2013), 6,1% (2014), bahkan 5,3% (2015). Akan tetapi, 2016, Brexit yang menang.
Benarkah populisme yang bangkit di AS? Paul Krugman, peraih Nobel ekonomi, mematahkan tesis tersebut. Kata dia, untuk kelas pekerja, Partai Demokrat mengusung kebijakan yang lebih baik daripada partai mana pun. Contohnya kawasan timur Kentucky, sangat kulit putih. Ambil kasus Clay County, yang beberapa tahun lalu disebut tergolong tempat paling sulit untuk hidup. Pada 2013, sebanyak 27% warga tidak punya asuransi kesehatan, turun tinggal 10% pada 2016.
Hillary Clinton berjanji melanjutkan program Obama yang populis itu, sedangkan Trump menghentikannya. Hasilnya? Di Clay County, Trump yang menang dengan meraih 87% suara. Bila bukan karena bangkitnya populisme, isme apa yang membuat Trump menang? Ada yang menjawab kebangkitan nasionalisme baru, yang ditandai teriakan Trump, "Make America great again!" Grillo dan Le Pen mengagumi Trump, tentu juga 'teriakan' mereka untuk negara masing-masing.
Jawaban lain diajukan Mark Lilla, profesor kemanusiaan di Columbia. Kata dia, pilpres AS menandai berakhirnya identitas liberalisme. Hillary sangat bagus berbicara soal kepentingan AS di dunia dan bagaimana hal itu berkaitan dengan pemahaman demokrasi. Akan tetapi, ketika bicara perihal rumah sendiri, dia cenderung kehilangan visi besar dan tergelincir pada retorika kebinekaan, dengan menyebut eksplisit African-American, Latino, LGBT, dan pemilih perempuan.
"Itu kesalahan stategis," kata Mark Lilla. Perihal kelompok-kelompok di Amerika, lebih baik katakan semua mereka. Jika tidak, mereka yang tidak disebut merasa 'dikeluarkan'. Itulah yang terjadi dengan kelas pekerja kulit putih dan evangelis. Kita bukan penganut liberalisme. Kita penganut Pancasila. Menyebut anak bangsa kiranya lebih baik, mencakup semuanya, apa pun suku dan agamanya, tak ada yang merasa 'ditinggalkan' atau 'dikeluarkan'.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved